Nyanyian Sunyi Sang Maestro: Menguak Jejak H. Iyan S. Wiradinata, Pencipta Mars Tangerang yang Luput dari Perhatian

Kabupaten Tangerang-INFOPLUS9.COM-Setiap kali apel pagi berderap, upacara resmi digelar, atau perhelatan penting dihelat di lingkungan kantor pemerintahan—baik di tingkat kabupaten, kecamatan, hingga pelosok desa dan kelurahan di Kabupaten Tangerang—satu alunan musik dan lirik yang megah selalu berkumandang. Gema Mars dan Hymne Tangerang membahana, membakar semangat kebangsaan lokal, memuji tanah kelahiran, dan merefleksikan dinamika pembangunan daerah.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: siapa sosok di balik megahnya nada-nada tersebut?

Di tengah deru pembangunan Kabupaten Tangerang yang begitu masif, gemerlap kawasan mandiri, dan modernisasi gerbang-gerbang perkantoran Pemda, ada sebuah ironi yang teramat sunyi. Sosok maestro pencipta lagu kebanggaan daerah itu hidup jauh dari hingar-bingar apresiasi layak. Ia tak tersentuh, luput dari radar perhatian institusi yang benderanya setiap hari disuarakan lewat karya abadi ciptaannya.
Dialah H. Iyan Sofyan Syah, atau yang lebih akrab dikenal dengan Yan S Wiradinata. Pria kelahiran Bandung, 16 Juni 1946, ini adalah figur di balik lahirnya Mars Kabupaten Tangerang yang ia gubah melalui sebuah ajang perlombaan cipta lagu pada tahun 1987. Keabsahan karyanya bahkan dikukuhkan dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Tangerang Nomor 7 Tahun 1991 tentang Hymne dan Mars Tangerang. Jauh sebelum era digital hari ini, namanya sempat menorehkan tinta emas tatkala menerima penghargaan langsung dari Bupati Tangerang masa itu, Bapak H. Tadjus Sobirin.
Akan tetapi, waktu berlalu bagai angin lalu bagi kenangan birokrasi. Kini, di masa senjanya, H. Iyan memilih (atau terpaksa) menetap jauh dari pusat teritorial yang ia harumkan namanya, yakni di Kota Rangkasbitung, Lebak, Banten. Maestro itu hidup dalam kesahajaan, terasing dari gemerlap kebijakan khusus maupun jaring pengaman sosial-kultural yang layak dari pemerintah daerah tempat karyanya terus berdenyut.
Jejak Nurani: Ketika Murid Menjemput Guru yang Terlupakan
Nurani kemanusiaan dan panggilan moral akhirnya bergerak dari mereka yang tidak pernah lupa pada akarnya. Pada hari Selasa, 11 Agustus 2026, sebuah langkah penuh takzim dilakukan oleh Pengurus Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kecamatan Cikupa bersama perwakilan alumni Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Tangerang.
Dipimpin oleh H. Ahmad Hidayat, Ketua PWRI Kecamatan Cikupa yang juga mantan murid sang maestro semasa di SPG Tangerang, rombongan ini melakukan perjalanan silaturahmi menembus jarak menuju kediaman H. Iyan. Pertemuan ini bukan sekadar reuni nostalgia antara guru dan murid, melainkan sebuah manifestasi ketulusan atas “jejak jasa seorang pengabdi pendidikan.”
Bayangkan betapa kontrasnya realitas ini: sebuah lagu yang diciptakannya didengar, dinyanyikan, dan dihafal oleh ratusan ribu aparatur sipil negara serta generasi muda Tangerang setiap hari, sementara penciptanya sendiri berjuang menikmati hari tua dalam kesunyian, tanpa sentuhan apresiasi berkala dari institusi Pemkab Tangerang.
Bagaimana mungkin sebuah daerah yang begitu megah membangun infrastruktur fisik, justru mengalami rabun sejarah terhadap pilar kebudayaan dan identitasnya sendiri? Apakah penghargaan bagi para pejuang seni dan pendidikan lokal harus menunggu hingga mereka tiada?
Panggilan Kemanusiaan: Waktunya Pemkab Tangerang Hadir
Kunjungan PWRI Cikupa dan para alumni SPG Tangerang hari ini harus dibaca sebagai lonceng alarm moral bagi kita semua, khususnya Pemerintah Kabupaten Tangerang. Sudah saatnya mata rantai “lupa sejarah” ini diputus.
Kita tidak boleh membiarkan pengabdi bangsa dan pencipta identitas daerah ini merasa asing di negeri yang lirik Mars-nya ia tulis dengan segenap jiwa. Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki utang moral yang besar untuk menghadirkan keadilan kultural.
Hayu kita perjuangkan bersama untuk Abah H. Iyan!
Sudah sepatutnya Pemkab Tangerang memberikan perhatian, penghormatan, dan perlakuan istimewa—baik berupa jaminan kesejahteraan hari tua, anugerah kebudayaan abadi, hingga penyematan status kehormatan—kepada H. Iyan S. Wiradinata. Sebab, sebuah daerah yang besar bukanlah dinilai dari seberapa tinggi gedung pencakar langitnya, melainkan dari seberapa hormat ia memperlakukan para pencipta peradaban dan penjaga marwah sejarahnya.
Jangan biarkan mars itu terus berkumandang megah di kantor-kantor pemerintahan, sementara penciptanya meniti senja dalam sunyi yang tak bertepi. Saatnya negara, melalui tangan-tangan kebijakan Pemkab Tangerang, hadir memeluk sang maestro dengan penuh kebanggaan.
Lagi Mars Kabupaten Tangerang: