Menjaga Alam, Merawat Masa Depan: Panggilan Aksi Nyata dari Ruang Digital

.illustrasi
oleh: Suryadi, SE (Kaperwil Banten Redaksi Infoplus9)
Opini-Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan atau ajang berbagi takarir (caption) estetik di media sosial. Hari ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa bumi tidak sedang baik-baik saja. Perubahan iklim, krisis air bersih, dan tumpukan sampah plastik yang kian menggunung adalah realitas di depan mata yang tidak bisa lagi kita abaikan.
Sebagai bagian dari masyarakat modern, kita sering kali terjebak dalam kenyamanan instan. Kita mengonsumsi plastik sekali pakai tanpa berpikir panjang ke mana ujung sampah tersebut bermuara.
Padahal, setiap tindakan kecil kita—baik yang merusak maupun yang merawat—memiliki dampak berantai (multiplier effect) bagi ekosistem global.Dari Kesadaran Menuju Tindakan NyataMedia online dan ruang digital hari ini punya kekuatan besar untuk menggerakkan perubahan. Namun, narasi penyelamatan lingkungan tidak akan berdampak jika berhenti di layar gawai. Kita butuh transisi massal dari sekadar “peduli” menjadi “beraksi”.
Ada tiga langkah sederhana namun berdampak besar yang bisa kita mulai dari diri sendiri hari ini:
Kurangi Sampah Plastik: Bawa botol minum dan kantong belanja sendiri.
Kelola Sampah Rumah Tangga: Pisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari dapur.
Hemat Energi: Matikan perangkat elektronik dan lampu saat sedang tidak digunakan.
Investasi untuk Generasi MendatangMelestarikan lingkungan hidup adalah bentuk investasi paling berharga untuk anak cucu kita.
Alam telah memberi segalanya secara gratis: udara yang kita hirup, air yang kita minum, dan tanah tempat kita berpijak. Sudah sepatutnya kita membalasnya dengan menjaga kelestariannya.Mari jadikan momentum Hari Lingkungan Hidup ini sebagai titik balik. Jangan tunggu bencana datang baru kita bergerak. Bersama-sama, kita bisa mengubah kebiasaan kecil menjadi gerakan besar demi bumi yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan.Selamat Hari Lingkungan Hidup. Mari rawat bumi kita, karena tidak ada “Bumi Cadangan” untuk tempat kita tinggal.
Read MoreMenguji Opini Nonce Thendean di Balik Pusaran Mobil Hibah KPM

illustrasi
TANGERANG – Belakangan ini, ruang publik dihebohkan oleh riuh rendah bantahan yang dilayangkan oleh Nonce Thendean, salah satu kader Partai Demokrat, terkait dugaan penyalahgunaan mobil hibah untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Melalui berbagai pernyataan di media, Nonce secara tegas menepis tudingan tersebut dan menantang pihak-pihak yang menyudutkannya untuk membuktikan tuduhan tersebut dengan fakta yang valid, bukan sekadar asumsi.
Namun, di balik ketegasan bantahan tersebut, publik justru bertanya-tanya: Apa yang sebenarnya terjadi, dan dari mana badai tuduhan ini bermula hingga memicu respons defensif yang begitu masif?
Mengurai Pangkal Soal: Dari Mana Tuduhan Itu Datang?
Dugaan ini mencuat ke permukaan setelah adanya laporan dan sorotan tajam dari sejumlah elemen masyarakat serta lembaga kontrol sosial yang mengindikasikan adanya ketidakberesan dalam pemanfaatan aset hibah yang seharusnya diperuntukkan bagi kesejahteraan KPM. Mobil hibah—yang sejatinya merupakan kepanjangan tangan program pemerintah untuk mempermudah mobilitas warga kurang mampu—diduga telah beralih fungsi atau dimanfaatkan di luar koridor ketentuan yang berlaku.
Tuduhan ini berkembang menjadi bola salju liar karena melibatkan figur politik lokal yang cukup dikenal. Ketakutan publik bahwa aset negara dijadikan alat kepentingan pribadi atau kelompok tertentu inilah yang memicu gelombang kritik, hingga akhirnya memaksa sang politisi angkat bicara demi membersihkan namanya.
KPK Harus Turun Tangan: Publik Butuh Kepastian, Bukan Polemik
Bantahan sepihak tentu tidak bisa serta-merta menjadi ketukan palu hakim yang menyatakan seseorang bersih. Jika memang terdapat indikasi kuat atau dugaan korupsi yang bernilai fantastis di balik pengelolaan dana atau aset hibah ini, sudah sepatutnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak tinggal diam.
KPK dituntut untuk segera memanggil dan memeriksa oknum kader Partai Demokrat tersebut guna menguji kebenaran materiil dari isu yang berkembang. Langkah hukum yang konkret dan transparan dari KPK sangat dinantikan, agar status hukum kasus ini menjadi terang benderang. Apakah dugaan ini murni pelanggaran hukum atau sekadar komoditas politik? Publik berhak tahu, dan publik sedang menunggu hasilnya.
Menanggapi kegaduhan ini, aktivis sosial masyarakat Kabupaten Tangerang, Jumadil Qubro, memberikan catatan kritis yang sangat menohok bagi jalannya pemerintahan bersih di wilayah tersebut.
”Tidak ada tempat untuk perilaku koruptor di Kabupaten Tangerang ini. Setiap rupiah uang negara dan setiap unit aset rakyat harus dipertanggungjawabkan secara mutlak, tanpa terkecuali,” tegas Jumadil.
Jerat Hukum: Aturan Jelas Terkait Penyalahgunaan Aset Hibah
Secara hukum positif di Indonesia, penyalahgunaan barang atau aset yang bersumber dari hibah negara memiliki konsekuensi hukum yang sangat berat. Jika dugaan penyalahgunaan ini terbukti, ada beberapa koridor regulasi yang siap menjerat:
- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. UU Nomor 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU Tipikor):
- Pasal 2 dan Pasal 3: Mengatur tentang perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain, atau suatu korporasi secara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, serta menyalahgunakan kewenangan, kesempatan, atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan.
- Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Milik Daerah:
- Regulasi ini menegaskan bahwa setiap pemindahtanganan, pengalihan fungsi, atau penggunaan aset daerah/negara di luar peruntukan formal (seperti untuk KPM) tanpa prosedur yang sah merupakan bentuk pelanggaran administratif serius yang dapat berujung pada ranah pidana.
Kasus mobil hibah KPM yang menyeret nama Nonce Thendean ini kini menjadi ujian komitmen bagi aparat penegak hukum. Apakah kasus ini akan menguap begitu saja bersama angin bantahan, atau justru menjadi pintu masuk bagi KPK untuk membersihkan Kabupaten Tangerang dari potensi praktik lancung? Waktu dan integritas hukum yang akan menjawabnya.
Read MoreBadan Gizi Nasional menahan sementara pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis

BGN (foto istimewa)
JAKARTA-INFOPLUS9.COM-Kebijakan rem ini diambil demi mengefisiensikan anggaran lembag Kepala BGN Nanik S Deyang menyebut langkah tersebut sebagai penataan ulang. Fokus kini dialihkan ke dapur yang sudah jalan dan wilayah 3T.
“Moratorium dapur titik-titik baru,” ujar Nanik dalam konferensi pers di kantor BGN, Jakarta Pusat, Kamis (4/6).
Ia mengatakan saat ini sudah terdapat lebih dari 27 ribu dapur MBG yang beroperasi di berbagai daerah. Oleh karena itu, BGN memilih merapikan dan mengevaluasi dapur yang ada sebelum membuka pembangunan baru.
27 Ribu Dapur Operasional Prioritas Beres Dulu
Jumlah dapur MBG yang aktif sudah tembus 27 ribu lebih. Angka itu dianggap cukup, sehingga BGN pilih membenahi dulu sebelum menambah titik baru.
” Sekarang sudah ada sekitar 27 ribu lebih dapur yang sudah operasional. Kami akan beresin dulu ini,” ujar Nanik.
Nanik mencontohkan dalam satu kecamatan belum tentu membutuhkan banyak SPPG.
“Misalnya di satu kecamatan ini cukup kok enam saja, sudah enam saja. Jadi moratorium,” ujarnya.
Presiden Minta Program Didorong ke Daerah 3T
Evaluasi dilakukan karena pembangunan menumpuk di kawasan aglomerasi. Padahal daerah tertinggal, terdepan, terluar belum kebagian porsi optimal.
“Jujur sekarang (SPPG) yang numpuk ini di aglomerasi. Yang 3T belum kesentuh, jadi Pak Presiden pesannya kami harus ke 3T dulu,” ujar Nanik.
Durasi moratorium belum dipatok pasti. Nanik hanya bilang secepatnya, tergantung hasil pemetaan bersama Kemendikdasmen dan Kemendukbangga.
Anggaran Rp268 T Digenjot Tanpa Kurangi Penerima
BGN memastikan pemangkasan tidak berdampak ke jumlah anak penerima MBG. Sasaran utama tetap pemerataan manfaat, bukan pemerataan dapur.
“Pokoknya intinya pemerataan dalam arti bukan pemerataan dapurnya, tapi pemerataan semua anak-anak harus dapat. Kalau banyak dapur kan tidak efisien,” ujar Nanik.
Dapur yang tak sesuai standar bakal disuspend. Sekaligus pelatihan SDM dan peningkatan kualitas SPPG dikebut. Untuk 3T, BGN siapkan skema alternatif agar tak membebani APBN
Baca Berita Lainnya:
Kejagung RI Adakan Konferensi Pers, Tetapkan Eks Ketua BGN Sebagai Tersangka Korupsi

Jakarta – INFOPLUS9.COM-Kejaksaan Agung mengatakan eks Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana dengan dua eks wakil lainnya, yakni Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung, melakukan markup terhadap pengadaan barang di program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengadaan barang tersebut dikatakan tak mendukung operasional pelaksanaan MBG.
“Bahwa selain menggunakan yayasan dan afiliasi tersebut, Saudara DH bersama-sama dengan Saudara SS, LP, dalam melakukan proses pengadaan, baik barang dan jasa, di BGN secara melawan hukum,” kata Direktur Penyidikan pada Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, di Kejagung, Rabu (3/6/2026).
Syarief mengatakan mereka melakukan penyusunan pengadaan barang dan jasa yang tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Mereka juga disebut menaikkan harga dalam penyusunan anggaran itu.
“Dalam penyusunan KAK (kerangka acuan kerja) pengadaan barang dan jasa pada BGN tidak disusun sesuai kebutuhan riil di lapangan dan adanya markup harga pengadaan sehingga terjadi kerugian yang tidak mendukung operasional pelaksanaan MBG,” ucapnya.
Kejagung pun mengungkap sejumlah pengadaan yang tidak sesuai di antaranya 21.801 unit motor listrik. Nilai dari pengadaan itu mencapai sekitar Rp 1 triliun.
“Pengadaan motor listrik sebanyak 21.801 unit dengan total pengadaan sekitar Rp 1 triliun. Pengadaan 32 ribu pasang sepatu tidak sesuai ketentuan dan adanya markup,” ucapnya.
Dadan dan kedua tersangka lain juga melakukan markup pada tablet dan televisi.
Perbuatan tersebut berdampak pada kerugian keuangan negara.
“Pengadaan tablet sebanyak 31 ribu sekian yang tidak sesuai ketentuan dan adanya markup dan pengadaan televisi 75 inci sebanyak 5.400 unit yang tidak sesuai ketentuan dengan adanya markup harga,” imbuhnya.
Breaking News..!!Eks Kepala BGN Dadan dkk Dijemput Kejagung, Dirilis Resmi Sore Ini

JAKARTA,– INFOPLUS9.COM-Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung) mengesahkan tindakan undang-undang terbaharu yang melibatkan pengambilan bekas (eks) Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan bersama beberapa individu lain (dkk) bagi membantu siasatan kes yang sedang berjalan. Proses penjemputan berkenaan telah dilaksanakan oleh pasukan penyiasat petang ini mengikut ketetapan dan prosedur undang-undang yang sah, Rabu (3/6/2026).
Tindakan penguatkuasaan ini dilakukan selepas pihak berkuasa mengumpul bukti permulaan yang mencukupi serta keterangan daripada saksi-saksi berkaitan bagi mengukuhkan kes. Langkah tegas ini merupakan sebahagian daripada komitmen berterusan pihak Kejaksaan Agung dalam menegakkan ketelusan, akauntabiliti, dan keadilan tanpa mengira jawatan atau status individu yang terlibat.
Pihak Kejaksaan Agung memohon kerjasama daripada semua pihak termasuk media massa dan orang awam agar tidak membuat sebarang spekulasi liar yang boleh menjejaskan keharmonian awam mahupun mengganggu integriti proses siasatan yang sedang giat dijalankan. Segala proses penguatkuasaan undang-undang dipastikan berjalan mengikut prinsip undang-undang yang adil.
Butiran lanjut, motif siasatan, serta kronologi lengkap mengenai penjemputan kesemua individu terbabit akan dibentangkan secara rasmi oleh pihak pengurusan tertinggi Kejaksaan Agung dalam satu sidang media khas yang dijadualkan berlangsung pada sore (petang) ini. Semua rakan media dialu-alukan hadir untuk mendapatkan maklumat sahih.
3 Petinggi BGN Dicopot di Tengah Isu Jual Beli Titik SPPG, Ini Jawaban Istana

JAKARTA,– INFOPLUS9.COM-Istana Kepresidenan melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensekneg) memberikan keterangan resmi terkait perombakan total kepengurusan di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah tegas ini diambil menyusul evaluasi berkala serta isu miring mengenai dugaan praktik jual beli titik Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG), Selasa (2/6/2026).
Evaluasi Satu Setengah Tahun dan Tindakan Tegas
Dalam konferensi pers yang digelar di Istana Merdeka pada Selasa (2/6), Mensekneg menyampaikan bahwa keputusan ini didasarkan pada hasil monitoring dan evaluasi intensif yang dilakukan oleh pemerintah selama kurang lebih satu setengah tahun terakhir terhadap kinerja BGN.
”Setelah kurang lebih hampir satu setengah tahun melakukan monitoring dan melakukan evaluasi, maka pada hari ini, Selasa tanggal 2 Juni tahun 2026, Bapak Presiden mengambil keputusan untuk melakukan pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional,” tegas Mensekneg dalam pernyataannya.
Pemerintah turut menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada jajaran pimpinan terdahulu atas kerja keras serta dedikasi mereka dalam membangun fondasi awal pembentukan organisasi BGN.
Rincian Pergantian Pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN)
Berdasarkan keputusan Presiden Prabowo Subianto, berikut adalah daftar pejabat lama yang diberhentikan dari jabatannya:
- Dadan Hindayana (sebelumnya Kepala BGN)
- Lodewyk Pusung (sebelumnya Wakil Kepala BGN)
- Soni Sanjaya (sebelumnya Wakil Kepala BGN)
Sebagai gantinya, Presiden menunjuk jajaran pimpinan baru yang diharapkan dapat membawa transparansi dan integritas lebih kuat dalam menjalankan program gizi nasional, di antaranya:
- Nanik S. Deyang diangkat sebagai Kepala BGN yang baru.
- Agustina Arumsari diangkat sebagai Wakil Kepala BGN yang baru.
- Mayjen TNI Trenggono diangkat sebagai Wakil Kepala BGN yang baru.
Komitmen Integritas dan Bersih-Bersih SPPG
Pihak Istana menegaskan bahwa penataan personel ini merupakan komitmen penuh pemerintah untuk menjamin pelaksanaan program strategis nasional berjalan objektif dan bebas dari segala bentuk praktik transaksional. Melalui jajaran pimpinan baru yang dikombinasikan dari unsur profesional serta pengawasan ketat, BGN diharapkan dapat mempercepat digitalisasi sistem penentuan titik layanan SPPG guna meminimalisir celah penyalahgunaan wewenang di lapangan.

Diseminasi Hasil Penelitian di Universitas Ottawa, Kanada dan Oxford University

Jakarta -INFOPLUS9.COM- Semangat menulis yang tumbuh subur setelah kembali dari program Indonesian Scientist Group di University of Melbourne, Australia, tidak pernah benar-benar padam dalam diri Prof. Dr. Muhammad, M.Ag. Justru pengalaman akademik di negeri Kanguru itu menjadi titik balik yang memperluas cakrawala intelektualnya. Ia mulai menyadari bahwa dunia akademik internasional bukanlah ruang yang jauh dan asing bagi seorang dosen dari Indonesia, melainkan ruang terbuka yang dapat dimasuki melalui gagasan, tulisan, dan keberanian intelektual. Dari sanalah semangatnya untuk terus menulis, meneliti, dan mengikuti forum-forum ilmiah internasional semakin membara.
Dalam pencariannya terhadap konferensi akademik global, ia sempat menelusuri peluang di University of Toronto, Kanada. Namun, takdir intelektual justru membawanya ke sebuah konferensi ekonomi Islam internasional yang diselenggarakan di University of Ottawa. Ia segera menghubungi panitia konferensi dan, di luar dugaan, komunikasi berlangsung sangat hangat dan terbuka. Panitia meminta dirinya mengirimkan lima halaman paper riset sebagai syarat utama untuk menjadi presenter dalam forum tersebut.
Lima halaman paper itu mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi Prof. Dr. Muhammad, lima halaman itu menjadi simbol penting tentang kekuatan ilmu pengetahuan. Ia menyusunnya dengan penuh kesungguhan, ketelitian, dan dedikasi akademik. Hingga akhirnya, kabar yang ditunggu itu datang: paper tersebut diterima, dan ia resmi diundang sebagai pembicara internasional di Kanada. Sebagian biaya keberangkatannya didukung oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, sementara sisanya berasal dari dana pribadi yang masih tersisa dari perjalanan akademiknya sebelumnya ke Australia.
Perjalanan menuju Kanada bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi juga perjalanan intelektual dan spiritual. Selama berada di sana, ia menyaksikan secara langsung wajah masyarakat multikultural yang hidup dalam keteraturan dan penghormatan terhadap keberagaman. Kota Montreal meninggalkan kesan mendalam dalam benaknya. Kota itu hidup dalam dua bahasa besar—Inggris dan Prancis—tetapi tetap berjalan harmonis dalam ritme sosial yang tertib dan modern.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah kunjungannya ke McGill University, salah satu universitas paling prestisius di Kanada dan dunia. Kampus itu bukan tempat asing dalam imajinasi intelektualnya, sebab di sanalah tokoh besar Indonesia seperti Harun Nasution pernah belajar dan membangun fondasi pemikiran Islam modern Indonesia. Walaupun kunjungannya tidak bersifat resmi, ia tetap disambut dengan baik oleh staf kampus. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong akademik, melihat Gedung John F. Kennedy, dan membayangkan jejak langkah para ilmuwan Muslim Indonesia yang pernah menimba ilmu di tempat itu. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika seorang dosen dari pelosok Indonesia berdiri di ruang-ruang akademik dunia yang selama ini hanya hadir dalam buku dan cerita.
Perjalanan itu berlanjut ke Toronto dan Ontario—kota-kota besar yang dipenuhi mobilitas, dinamika, dan denyut modernitas global. Ia juga menyempatkan diri untuk naik ke National Tower of Canada, memandang lanskap kota dari ketinggian, sembari merenungkan betapa luasnya dunia dan betapa kecilnya manusia di hadapan ilmu pengetahuan dan ciptaan Tuhan.
Namun, pengalaman paling simbolik terjadi ketika ia mengunjungi Niagara Falls. Air terjun raksasa yang menjadi perbatasan Kanada dan Amerika Serikat itu menghadirkan kesan spiritual yang mendalam. Deru air yang jatuh tanpa henti seolah menjadi metafora tentang waktu, kehidupan, dan kebesaran Tuhan yang melampaui batas-batas negara. Di tempat itu pula, ia membeli Visa on Arrival dan menyeberangi jembatan menuju Amerika Serikat untuk pertama kalinya.
Forum-forum internasional yang ia ikuti mengajarkan kepadanya bahwa dunia terlalu luas untuk dipahami dengan cara berpikir yang sempit. Dari percakapan-percakapan akademik lintas bangsa, ia belajar menghargai perbedaan, menerima keberagaman, dan membangun cultural understanding yang lebih mendalam. Ia menyadari bahwa ilmu pengetahuan sejatinya adalah ruang perjumpaan kemanusiaan, bukan arena kesombongan intelektual.
Perjalanan akademik internasional memberinya banyak intangible benefits yang tidak dapat diukur secara material: kepuasan batin, kematangan berpikir, keseimbangan psikologis, kemampuan menulis dan berbicara yang semakin terasah, serta jejaring persahabatan lintas budaya yang terus terjalin hingga hari ini. Semua pengalaman itu membentuk dirinya bukan hanya sebagai akademisi, tetapi juga sebagai manusia yang lebih terbuka dan reflektif.
Pada tahun 2012, Ia menjadi Fellow Research pada Pusat Agama dan Masyarakat (Center for Studies in Religion and Society – CSRS) atas undangan dari Prof. Paul Bramadat, Ph.D selaku Direktur CSRS di University of Victoria, Kanada.
Setelah pulang dari perjalanan ilmiah ke Kanada, ia mendapat kepercayaan untuk mendapatkan grant akademik bergengsi. Salah satunya adalah ISFIS (International Seminar on Islamic Studies)—sebuah program dari Kementerian Agama RI yang membuka jalan bagi para dosen Indonesia untuk tampil di forum-forum internasional guna mempresentasikan hasil riset terbaik mereka.
Program ISFIS bukan sekadar seminar biasa, melainkan sebuah proses seleksi yang sangat ketat. Ribuan dosen dari seluruh Indonesia bersaing setiap tahunnya, namun hanya segelintir yang berhasil lolos. Melalui bantuan teman dan kolega internasional, ia akhirnya mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) dari Oxford University, salah satu universitas paling prestisius di dunia.
Rasanya seperti mimpi. Ia tidak hanya akan hadir di konferensi internasional, tetapi juga akan menginjakkan kaki dan berdialog akademik secara langsung di Lady Margaret Hall, Oxford University, Inggris.
Read MorePSI Kabupaten Tangerang Kecam Dugaan Aktivitas Pembakaran Ilegal di Kampung Sarongge, Sindang Jaya

Kabupaten Tangerang- INFOPLUS9.COM-1 Juni 2026 — DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Tangerang mengecam keras dugaan aktivitas pembakaran ilegal yang terjadi di wilayah Kampung Sarongge, Kecamatan Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang, pada Sabtu malam (31/5/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Aktivitas tersebut diduga menimbulkan pencemaran udara dan keresahan di tengah masyarakat sekitar. PSI Kabupaten Tangerang menilai bahwa persoalan lingkungan hidup bukanlah masalah sepele, melainkan menyangkut kesehatan, keselamatan, dan kualitas hidup warga Kabupaten Tangerang.
Ketua DPD PSI Kabupaten Tangerang, Bro Premjit, bersama jajaran pengurus turut turun langsung ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan berkoordinasi dengan aparat terkait guna mendorong penyelesaian persoalan secara cepat, terukur, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
“Setiap warga memiliki hak untuk menghirup udara yang bersih dan hidup dalam lingkungan yang sehat. Karena itu, kami mendorong agar setiap dugaan pelanggaran lingkungan ditindaklanjuti secara serius dan profesional oleh pihak yang berwenang,” ujar Bro Premjit.
PSI Kabupaten Tangerang juga mengapresiasi respons aparat yang telah hadir di lokasi dan melakukan langkah-langkah awal penanganan. Ke depan, PSI berharap pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dapat diperkuat sehingga kejadian serupa tidak terus berulang.
Sebagai partai yang berpihak kepada rakyat, PSI Kabupaten Tangerang akan terus menerima laporan masyarakat dan mengawal berbagai persoalan yang berdampak langsung terhadap kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup warga.
“Kabupaten Tangerang harus menjadi daerah yang aman, sehat, dan nyaman bagi seluruh masyarakat. Tidak boleh ada kepentingan ekonomi yang mengorbankan lingkungan dan kesehatan warga,” tutupnya.
AGOUNG
Read MoreMenanam Kehidupan, Mengamalkan Pancasila – Seruan Hijau dari Jantung Partai Gerakan Rakyat

TANGERANG – INFOPLUS9.COM-Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni bukan sekadar seremonial sejarah, melainkan momentum refleksi atas aksi nyata kita terhadap tanah air. Pancasila adalah jiwa dalam setiap langkah, dan hari ini, bumi tempat kita berpijak sedang memanggil jiwa-jiwa patriotik itu untuk bergerak.
Menyikapi pesan mendalam yang tersirat dalam banner peringatan Hari Pancasila 1 Juni 2026, Pimpinan Perusahaan Infoplus9.com, Jumadil Qubro, menyampaikan sebuah refleksi penting yang ditujukan khusus kepada seluruh kader Partai Gerakan Rakyat (PGR). Beliau mengajak segenap elemen partai untuk menerjemahkan nilai-nilai luhur Pancasila ke dalam sebuah gerakan penyelamatan lingkungan: Menanam pohon demi masa depan bumi.
Pancasila adalah Aksi Nyata untuk Bumi
“Pancasila itu aksi nyata dari hati, untuk negeri kita.”
Ungkapan ini bukan sekadar pemanis grafis. Menjaga alam adalah bentuk pengamalan tertinggi dari rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa dan wujud kemanusiaan yang adil dan beradab. Bumi tidak lagi sekadar membutuhkan retorika politik; bumi butuh kita secara nyata.
Setiap bibit pohon yang kita tanam hari ini adalah investasi oksigen untuk anak cucu kita di masa depan. Pohon-pohon itulah yang akan menjadi paru-paru baru bagi bumi yang kian sesak. Ketika seorang kader PGR turun ke tanah, menggali tanah dengan tangannya, dan menaruh kehidupan baru di sana, saat itulah ia sedang menjalankan misi kemanusiaan yang agung. Kita mungkin tidak bisa mengubah dunia dalam semalam, namun “Kecil langkahku, besar arti untuk bumi.”
Sebuah Harapan untuk Bumi Kita
Melalui gerakan menanam ini, ada harapan besar yang ingin kita semai bersama:
- Menolak Kehancuran, Memilih Kehidupan: Menyadari bahwa setiap tindakan kecil—seperti mengurangi sampah plastik dan menanam satu tanaman—adalah benteng pertahanan kita melawan krisis iklim.
- Kader PGR sebagai Pelopor ‘Pahlawan Kekinian’: Pahlawan masa kini bukan lagi mereka yang mengangkat senjata di masa lalu, melainkan mereka yang terus berjuang merawat dan menjaga kelestarian alam di masa kini.
- Mewariskan Mata Air, Bukan Air Mata: Kita ingin memastikan bahwa generasi penerus masih bisa menghirup udara segar yang bersih, melihat hijaunya pepohonan, dan merasakan bumi yang ramah, bukan bumi yang rusak akibat kelalaian kita.
Komentar Ketua Andry Ardiansyah di Hari Pancasila
Menanggapi seruan hangat ini, Ketua Andry Ardiansyah memberikan pandangan mendalamnya bertepatan dengan momentum sakral 1 Juni 2026:
”Pancasila mengajar kita tentang harmoni—hubungan kita dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Di Hari Pancasila ini, saya meminta dengan sangat kepada seluruh kader Partai Gerakan Rakyat di mana pun berada: mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik. Jangan biarkan seruan ‘Jaga Bumi, Jaga Negeri’ hanya menjadi slogan di dinding-dinding banner.
Bergeraklah dari diri sendiri, dari pekarangan rumah kita masing-masing. Sumbangkan setidaknya satu pohon sebagai sumbangsih oksigen kita untuk bumi. Ingatlah, kita boleh ‘Berbeda Tapi Satu, Bersatu Untuk Maju’, dan tidak ada pemersatu yang lebih indah selain bersama-sama merawat bumi yang memberi kita kehidupan. Mari menanam, karena menanam tanaman adalah cara kita mencintai Indonesia dari hatinya yang paling dalam.”
Mari Mulai Dari Diri Sendiri!
Peduli, berbagi, dan berkarya. Itulah nilai Pancasila yang sesungguhnya dalam kehidupan kita. Bersama Partai Gerakan Rakyat dan Infoplus9.com, kita wujudkan Indonesia yang berkelanjutan. Selamat Hari Pancasila, 1 Juni 2026!
Read MoreMENYALAKAN KEMBALI DIAN YANG PADAM: Ketika Pancasila Tergilas Gadget dan Runtuhnya Adat Nusantara

Oleh: Jumadil Qubro (Redaksi)
Satu Juni kembali menyapa. Di layar-layar smartphone yang menyala di genggaman setiap anak, orang tua, hingga para elite politik, ucapan “Selamat Hari Lahir Pancasila” berseliweran begitu masif. Gambar Garuda emas dipajang megah, lengkap dengan pita Merah Putih yang berkibar digital. Namun, di balik riuhnya perayaan serba gadget hari ini, ada sebuah tanya yang menyergap dada, terasa ngilu, dan menyayat hati: Di manakah Pancasila yang sesungguhnya kini berada? Apakah ia masih tumbuh di lubuk hati kita, ataukah telah menjelma sekadar artefak masa lalu yang lapuk digilas zaman?
Dahulu, Pancasila bukan sekadar hafalan di buku-buku saku. Ia hidup. Ia bernyawa dalam senyum ramah tetangga, dalam keringat yang luruh bersama saat gotong royong membangun desa, dan dalam keteguhan adat ketimuran yang diwariskan leluhur Nusantara. Indonesia dikenal dunia karena budi pekertinya yang luhur, sebuah bangsa yang menempatkan kemanusiaan yang adil dan beradab di atas segalanya.
Namun hari ini, tataplah realitas di sekeliling kita. Fondasi kehidupan berbangsa kita terasa begitu rapuh, retak mendalam hingga ke akar-akarnya.
Saat jemari anak-anak hingga orang dewasa sibuk berselancar di dunia maya, kita justru kerap disuguhi potret pilu yang mengoyak nalar sehat. Di mana nilai kemanusiaan itu ketika kita membaca berita tentang anak-anak yang dianiaya, bahkan dicabuli oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung mereka? Sungguh ironis dan biadab, ketika fisik suci anak-anak tanpa dosa harus hancur oleh pukulan membabat dari orang dewasa.
Dunia pendidikan yang dahulu menjadi kawah candradimuka moral bangsa, kini berubah menjadi panggung sandiwara yang mengerikan. Ada pelajar yang tega mengeroyok gurunya sendiri tanpa rasa hormat sedikit pun. Sebaliknya, ada pula orang tua yang dengan ringannya melaporkan seorang guru ke ranah hukum hanya karena anaknya dijewer—sebuah tindakan pendisiplinan kecil yang di masa lalu dianggap sebagai wujud kasih sayang seorang pendidik. Lebih menyayat hati lagi, ketika ruang-ruang sakral pendidikan dinodai oleh pimpinan lembaga yang melakukan tindakan asusila. Institusi yang memahat moral, justru runtuh oleh moralitas pemimpinnya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang berada di atas sana? Para elite politik dan praktisi profesional yang kerap berpidato lantang tentang keadilan sosial. Di balik meja-meja mewah dan dasi yang rapi, gurita korupsi masih terus menggerogoti hak-hak rakyat kecil. Uang negara yang seharusnya mengalir untuk kesejahteraan masyarakat, justru menguap demi memuaskan syahwat keserakahan pribadi.
Melihat rentetan tragedi moral ini, tidak berlebihan jika kita bertanya dengan nada getir: Apakah nilai-nilai Pancasila kita sudah runtuh?
Pancasila telah kehilangan ruhnya sebagai falsafah hidup berbangsa. Ia telah diusir dari ruang-ruang batin kita, digantikan oleh individualisme akut, egoisme, dan ketidakpedulian yang dipupuk oleh layar-layar digital. Kita menjadi bangsa yang gagap—ramah di media sosial dengan simbol-simbol nasionalisme, namun beringas dan kehilangan empati di kehidupan nyata. Warisan luhur nenek moyang tentang keramahtamahan dan saling menjaga kini tampak seperti dongeng pengantar tidur yang mulai dilupakan.
Apa yang mesti kita lakukan?
Menyelamatkan Pancasila tidak bisa lagi dilakukan hanya dengan upacara seremonial atau membuat infografis estetik di media sosial. Kita harus berani mengetuk pintu hati masing-masing untuk sebuah refleksi total.
- Bagi Orang Tua: Kembalikan sentuhan kasih sayang nyata di rumah. Rebut kembali perhatian anak-anak dari ketergantungan gadget. Ajarkan mereka arti memanusiakan manusia sejak dini, bukan sekadar membiarkan mereka dibesarkan oleh algoritma internet.
- Bagi Dunia Pendidikan: Kembalikan marwah sekolah sebagai tempat pembentukan karakter dan akhlak, di mana rasa hormat antara murid dan guru menjadi pilar utama yang tidak boleh diganggu gugat oleh intervensi yang salah kaprah.
- Bagi Para Elite dan Profesional: Pancasila menuntut pertanggungjawaban moral yang besar. Kekuasaan dan jabatan bukanlah alat pemuas keserakahan, melainkan amanah suci untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hari Pancasila 1 Juni 2026 ini harus menjadi momen krusial untuk merenung. Mari kita bangun kembali fondasi yang rapuh ini sebelum semuanya benar-benar hancur lebur. Jangan biarkan keramahan Nusantara runtuh berganti kebiadaban. Hidupkan kembali Pancasila, bukan hanya di kepala, tapi mengalir dalam detak jantung dan perilaku nyata kita sehari-hari.
Jika tidak dimulai dari sekarang, kepada siapa lagi kita akan menitipkan masa depan bangsa ini?
Read More