Partai Gerakan Rakyat Siap Geruduk Kementerian Hukum: Ribuan Kader dari Berbagai Daerah Kawal Pendaftaran Resmi pada 23 Juli 2026

TANGERANG — INFOPLUS9.COM-Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Rakyat secara resmi telah melayangkan surat pemberitahuan kegiatan kepada Kepala Polda Metro Jaya terkait agenda akbar partai. Pada Kamis, 23 Juli 2026 mendatang, Partai Gerakan Rakyat akan melaksanakan agenda krusial, yakni Pendaftaran Partai Gerakan Rakyat ke Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Berdasarkan surat resmi tertanggal 15 Juli 2026 yang ditandatangani langsung oleh Ketua Umum DPP Partai Gerakan Rakyat, Sahrin Hamid, dan Sekretaris Jenderal, Muhammad Ridwan, kegiatan ini dijadwalkan akan dimulai pada pukul 07.00 WIB hingga selesai. Adapun lokasi kegiatan dipusatkan di Kantor Kementerian Hukum Republik Indonesia, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 6–7, Kuningan, Jakarta Selatan.

Kehadiran partai ini dipastikan akan dihadiri oleh gelombang besar massa dan kader dari berbagai wilayah di Indonesia. Berdasarkan data estimasi massa yang dihimpun, pergerakan massa nasional ini melibatkan berbagai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari berbagai provinsi dan kabupaten/kota, dengan total proyeksi ribuan simpatisan yang siap tumpah ruah di ibu kota.
Salah satu kekuatan besar yang turut ambil bagian dalam momentum bersejarah ini datang dari Provinsi Banten. Pengurus DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Tangerang bersama jajaran DPC se-Kabupaten Tangerang dipastikan turut diberangkatkan secara solid bersama kontingen kabupaten/kota se-Banten untuk mengawal langsung proses pendaftaran tersebut.

Andry Ardiansyah, SE (Ketua DPD Kabupaten Tangerang)
Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Tangerang, Andry Ardiansyah, SE, menegaskan bahwa jajarannya sangat siap dan antusias menyambut serta mengawal agenda penting pada tanggal 23 Juli 2026 ini.
“Kami dari DPD Partai Gerakan Rakyat Kabupaten Tangerang bersama seluruh jajaran DPC se-Kabupaten Tangerang menyatakan kesiapan penuh untuk hadir dan bergerak bersama kontingen se-Banten ke Jakarta,” ujar Andry Ardiansyah, SE, saat memberikan keterangannya.
Ia menambahkan, “Agenda tanggal 23 Juli 2026 ini bukan sekadar kegiatan administratif pendaftaran ke Kementerian Hukum, tetapi ini adalah simbol kebersamaan, soliditas, dan wujud nyata kekuatan arus bawah dalam mengusung semangat ‘Gotong Royong untuk Indonesia’. Kami hadir untuk memastikan langkah legalitas partai ini berjalan lancar demi menyongsong masa depan politik yang lebih berdaulat dan berpihak kepada rakyat.”
Dengan estimasi ribuan massa yang terkonsolidasi dari Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga luar pulau seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku, aksi dan kehadiran Partai Gerakan Rakyat di Kementerian Hukum RI diproyeksikan akan menjadi salah satu konsolidasi politik kerakyatan yang tertib, damai, dan penuh semangat kebersamaan.
Read MoreSemarak HUT ke-28 BPPKB Banten: Ajang Pererat Solidaritas di Stadion Pakansari

TANGERANG – INFOPLUS9.COM-Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Badan Pembinaan Potensi Keluarga Besar (BPPKB) Banten, jajaran pengurus dan anggota tengah bersiap menyambut perhelatan akbar yang akan diselenggarakan pada Minggu, 9 Agustus 2026, bertempat di Stadion Pakansari, Bogor.
Peringatan hari jadi kali ini mengusung tema “Berjuang, Beramal, Berakhlakul Karimah” dengan semangat utama “Bersatu Kita Kuat, Bersama Kita Bermartabat”. Acara ini diprediksi akan dihadiri oleh ribuan anggota dari berbagai tingkat kepengurusan.
Seruan Ketua DPD BPPKB Provinsi Banten
Ketua DPD BPPKB Provinsi Banten, TB. Abdul Fatah, S.H., mengajak seluruh kader untuk menjadikan momentum HUT ke-28 ini sebagai wadah untuk memperkokoh tali persaudaraan.
”Saya menyerukan kepada seluruh keluarga besar BPPKB Banten untuk hadir dan tumpah ruah di Stadion Pakansari. Mari kita tunjukkan bahwa BPPKB bukan sekadar organisasi, melainkan keluarga besar yang solid, bermartabat, dan selalu mengedepankan akhlakul karimah dalam setiap perjuangan kita,” tegas TB. Abdul Fatah, S.H.
Harapan Ketua DPC BPPKB Kabupaten Tangerang
Senada dengan Ketua DPD, Ketua DPC BPPKB Kabupaten Tangerang, H. Hamdan, S.H., secara khusus menginstruksikan seluruh jajaran di bawah naungannya, baik PAC maupun Ranting se-Kabupaten Tangerang, untuk hadir memeriahkan acara.
”Ini adalah momen kita bersama. Saya mengajak seluruh pengurus PAC dan Ranting se-Kabupaten Tangerang untuk hadir, tunjukkan semangat kebersamaan, solidaritas, dan loyalitas tanpa batas. Mari kita buat perayaan HUT ke-28 ini menjadi bukti nyata kekompakan kita sebagai satu kesatuan yang kuat,” ujar H. Hamdan, S.H.
Acara yang dijadwalkan berlangsung pada awal Agustus mendatang ini diharapkan menjadi titik balik bagi seluruh anggota BPPKB Banten untuk terus berkontribusi positif bagi masyarakat dan daerah, sesuai dengan semangat organisasi yang terus dijunjung tinggi.
Penulis : Jumadil Qubro (Humas PAC BPPKB Cikupa)
Read MorePangeran Diponegoro Pemimpin Perlawanan Penjajah Terbesar di Jawa

Pangeran Diponegoro, putra mahkota Keraton Yogyakarta yang memimpin Perang Jawa terbesar, harus mengakhiri hidupnya di pengasingan jauh dari tanah kelahirannya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok Benteng Rotterdam? Simak kisah tragisnya di sini!
Perang Jawa 1825–1830 tercatat sebagai perlawanan terbesar bangsa Indonesia terhadap penjajahan Belanda. Di balik kepemimpinan Pangeran Diponegoro, putra Sultan Hamengkubuwono III yang lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785, pasukan pribumi nyaris membuat Belanda tumbang. Namun di sinilah awal dari tragedi.
Kisah pilu dimulai saat Jenderal De Kock berhasil mengepung pasukan Diponegoro di Magelang. Demi membebaskan sisa pasukannya yang masih bertahan, sang pangeran bersedia menyerahkan diri. Namun Belanda yang licik justru membungkus penangkapan itu sebagai “perundingan damai”. Pada 28 Maret 1830, Pangeran Diponegoro pun ditangkap. Sebuah pengkhianatan yang mengubah segalanya.
Dari Magelang, sang pangeran digiring ke Batavia, lalu dibuang ke Manado di Benteng Nieuw Amsterdam pada 3 Mei 1830. Perjalanan laut selama hampir sebulan ditemani pengawal Jerman bernama Knoerle, yang mengaku terkesima dengan keikhlasan Diponegoro menghadapi takdir. Di Manado, ia dijaga ketat 50 serdadu Belanda. Tiga tahun kemudian, 20 Juni 1833, ia dipindahkan ke Makassar dan dikurung di Benteng Fort Rotterdam—benteng besar peninggalan Admiral Speelman yang menjadi penjara terakhirnya.
Di benteng itulah penderitaan memuncak. Diponegoro dan keluarganya tidak diizinkan keluar tembok. Ia tinggal di ruangan perwira dekat pos jaga, dengan pemandangan dari lotengnya hanya menghadap Teluk Makassar. Belanda melarangnya berkirim surat. Ia hanya diizinkan menulis untuk kesenangan sendiri—dan dari sini lahirlah Babad Diponegoro, otobiografi setebal 1.150 halaman yang menjadi saksi bisu pergulatan batinnya di pengasingan.
Puncak kesedihan? Ia tidak pernah diizinkan bertemu dengan anak-anaknya yang juga dibuang ke Ambon dan Madura. Istri dan pengikut setianya menjadi satu-satunya penghibur di tengah tembok yang mencekik. Selama 25 tahun—terhitung sejak 12 Juni 1830 hingga akhir hayatnya—Pangeran Diponegoro menghabiskan sisa hidupnya dalam pengawasan super ketat.
8 Januari 1855, Pangeran Diponegoro menghembuskan napas terakhir di Benteng Fort Rotterdam dalam usia 70 tahun. Makamnya kini terletak di Kompleks Kampung Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar—ribuan kilometer dari Yogyakarta, tanah kelahirannya. Hingga kini, keturunannya masih tinggal di Makassar dan merawat makam sang pahlawan.
Benteng Fort Rotterdam: saksi bisu pengasingan Pangeran Diponegoro dari 1833 hingga wafatnya pada 1855.
📝 GLOSARIUM (Daftar Istilah):
● Pangeran Diponegoro: Pahlawan Nasional Indonesia, putra Sultan Hamengkubuwono III yang memimpin Perang Jawa (1825-1830) melawan Belanda. Nama aslinya adalah Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian bergelar Sultan Abdul Hamid Herucokro Kabiril
● Perang Jawa / Perang Diponegoro: Perang besar melawan kolonial Belanda yang berlangsung selama 5 tahun (1825-1830), dipimpin oleh Pangeran Diponegoro. Disebut sebagai perang terbesar selama penjajahan Belanda di Indonesia
● Jenderal De Kock: Jenderal Belanda yang berhasil mengepung dan menangkap Pangeran Diponegoro di Magelang pada 28 Maret 1830
● Benteng Fort Rotterdam: Benteng peninggalan Kerajaan Gowa yang dibangun tahun 1545, kemudian dikuasai Belanda dan dijadikan tempat pengasingan Pangeran Diponegoro dari 1833 hingga wafatnya pada 1855
● Babad Diponegoro: Otobiografi yang ditulis Pangeran Diponegoro selama masa pengasingan, terdiri dari 1.150 halaman dalam huruf Jawa. Menjadi salah satu sumber sejarah paling otentik tentang perjuangannya
● Hijrah: Dalam konteks ini bukan sekadar perpindahan fisik, tetapi perjalanan spiritual Pangeran Diponegoro—dari medan perang menuju ranah intelektual kepenulisan, meditasi, dan seni selama masa pengasingan
● Gulden: Mata uang yang digunakan pada masa kolonial Belanda di Indonesia
● Staatsgevangene: Istilah Belanda untuk “tahanan negara”—status Pangeran Diponegoro selama di pengasingan yang membuatnya tidak diizinkan menulis surat atau berkomunikasi dengan dunia luar
Pangeran Diponegoro, pengasingan Makassar, Benteng Fort Rotterdam, Perang Jawa 1825-1830, sejarah pahlawan nasional
⚠️ DISCLAIMER:
Konten ini disusun berdasarkan fakta sejarah dan sumber-sumber terpercaya semata-mata untuk tujuan edukasi dan informasi publik. Tidak ada maksud untuk memicu kebencian terhadap pihak mana pun. Mari kita teladani semangat perjuangan para pahlawan bangsa. 🇮🇩
Gambar AI hanya ilustrasi
Read MoreBUTA HURUF TAPI BIKIN JENDERAL INGGRIS PUSING, PEJUANG KLENDER INI DAPAT GELAR “GENERALISSIMO” DARI ANGKATAN 45

Sosok-Namanya Muhammad Arif. Tapi tidak ada yang memanggilnya begitu. Semua orang mengenalnya sebagai Haji Darip — seorang lelaki dari Klender, Jakarta Timur, yang tidak pernah sehari pun duduk di bangku sekolah, tidak bisa membaca surat kabar, tapi mampu memimpin ratusan orang berhadapan langsung dengan pasukan bersenjata lengkap milik Inggris dan Belanda di tengah tahun-tahun paling genting dalam sejarah Indonesia.
Darip lahir pada 1886 di Klender, anak bungsu dari pasangan Haji Kurdin dan Hajah Nyai Mai — keluarga jawara silat yang sudah berakar dalam di kampung itu jauh sebelum proklamasi 1945. Sejak kecil ia akrab dengan ilmu maen pukulan, silat khas Betawi yang mengajarkan bukan hanya cara memukul, tapi cara bertahan, cara membaca situasi, cara memimpin. Pada 1914, Darip menunaikan ibadah haji, kemudian menetap dua tahun di Mekah untuk mendalami ilmu agama. Dari sana ia pulang membawa dua hal sekaligus: kedalaman spiritual seorang ulama dan ketangguhan fisik seorang pendekar.
Klender pada awal abad ke-20 bukan kawasan elit. Ia adalah perkampungan dan perkebunan di pinggiran Batavia, tempat para jawara hidup berdampingan dengan petani dan pedagang kecil. Di sanalah Darip membangun pengaruh — bukan lewat jabatan, bukan lewat harta, tapi lewat respek yang tumbuh perlahan karena ia dikenal selalu membela orang kecil, bahkan saat itu harus berurusan dengan hukum Hindia Belanda.
Ketika Jepang menyerah pada Agustus 1945 dan Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan, Darip sudah tahu bahwa perang belum selesai. Ia memanggil para jawara dan pemuda kampung sekitar Klender, Pulogadung, hingga Bekasi. Beberapa bulan kemudian, pada Oktober 1945, ia secara resmi membentuk BARA — Barisan Rakyat Indonesia — sebagai laskar bersenjata yang siap mempertahankan kemerdekaan.
Senjata yang mereka miliki beragam: golok, bambu runcing, parang — dan sejumlah pistol, senapan, serta granat hasil melucuti tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, dan Cipinang Cimpedak. Kekuatan bukan pada teknologi, tapi pada keberanian dan penguasaan medan.
Momen yang paling tertulis dalam sejarah adalah 15 Oktober 1945. Pada hari itu, pasukan tentara Inggris bergerak hendak menduduki Klender. Yang mereka tidak sangka: dari rumah-rumah penduduk, bermunculan barisan rakyat bersenjata golok dan bambu runcing, menyerang dari segala arah. Peristiwa ini bahkan tercatat dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia karya Jenderal Abdul Haris Nasution. Sekutu mengalami banyak korban, kewalahan menghadapi serangan massal yang datang tak terduga.
Tapi sejarah juga mencatat apa yang terjadi berikutnya — sesuatu yang jarang disebut dalam kisah-kisah heroik tentang Haji Darip. Setelah serangan balasan dari pihak Sekutu yang menimbulkan banyak korban di kalangan rakyat, Klender akhirnya berhasil diduduki tentara Inggris. Darip dan BARA kemudian hijrah — mundur ke Tambun, Cikarang, Bekasi, Cikampek, Karawang, hingga Purwakarta, dan di sana membentuk organisasi baru bernama BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya, dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler.
Itulah kenyataannya: Haji Darip bukan dewa yang tak terkalahkan. Ia adalah pejuang yang merasakan pahitnya mundur, kehilangan wilayah, lalu tetap bergerilya dari hutan-hutan Purwakarta bersama sekitar 200 anak buah. Keberanian sejatinya bukan pada kemenangan, tapi pada keteguhan untuk terus berjuang bahkan setelah kalah.
Pada 1948, ia akhirnya tertangkap oleh mata-mata Belanda di Sadang, Jawa Barat, dan dijebloskan ke penjara Glodok di Jakarta. Lebih dari setahun ia mendekam di sana. Baru setelah penyerahan kedaulatan pada akhir Desember 1949, Haji Darip dibebaskan.
Atas sepak terjangnya selama revolusi, Badan Potensi Penggerak Pembina Potensi (BPPP) Angkatan 45 menganugerahinya gelar Generalissimo van Klender 1945 — sebuah penghormatan yang bahkan ia sendiri enggan menonjolkan. Hingga akhir hayat, Haji Darip menolak terlibat dalam urusan administrasi veteran, bahkan melarang anak-anaknya menuntut pengakuan resmi dari pemerintah.
Masa tuanya dihabiskan dengan berdakwah di Masjid Al Makmur Klender, mengajar santri, dan berdagang kain sarung di Pasar Klender. Foto wajahnya — berkaca mata hitam, memakai surban — ditempel di pintu-pintu rumah dan toko oleh para pedagang Tionghoa yang merasa terlindungi oleh reputasinya dari ancaman penjarahan pascaperang.
Pada Sabtu 13 Juni 1981 pukul 01.00 WIB, Haji Darip wafat setelah dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta. Penyakit yang menggerogotinya di hari tua adalah sakit kepala kronis — akibat penyiksaan yang pernah ia terima saat menjadi tahanan Belanda. Ia dimakamkan di tanah wakaf Ar-Rahman, Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur. Bendera Merah Putih dikibarkan di pusaranya.
Teman-teman seperjuangannya memintanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Keluarganya menolak. Ia memilih tetap di antara rakyatnya, di tanah Klender yang pernah ia pertahankan dengan golok dan nyawa.
Read MoreSultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten Yang Gigih Melawan VOC

Sosok-SULTAN AGENG TIRTAYASA ( RAJA BANTEN KE 6 )Pada masa pemerintahannya, Kesultanan Banten mencapai masa kejayaannya. Ia berusaha keras melakukan modernisasi terhadap Banten dan menjadikannya sebagai pusat kegiatan Muslim di Kepulauan Indonesia.
Dia mengirim putranya ke Mekah dengan perintah untuk pergi dari sana ke Turki dengan harapan dapat menjalin hubungan baik dengan kekuatan utama Islam. Pada saat itu juga, ia dan putranya mencoba menghimpun pengikut di kalangan para penasihat dan petualang Eropa.
Prestasi terbesar dalam pemerintahannya adalah penataan perdagangan luar negeri. Seperti raja Makassar, ia menyambut baik pedagang dari Britania, Denmark, Prancis di pelabuhan-pelabuhannya. Melalui bantuan-bantuan orang Eropa ini dia mulai melengkapi kapal-kapalnya sendiri yang dibawa nakhoda asal Eropa berlayar ke Filipina, Makau, Benggala, dan Persia. Saudagar-saudagar India, Cina, dan Arab berkumpul di Banten setelah tersingkir dari Malaka dan Makassar.
Barang dagangan yang dijual di pasar Batavia sebagian datang dari pelabuhan pesaing di Banten dan gengsi Sultan Tirtayasa naik begitu tinggi sehingga ia menuntut bagian dalam perdagangan pala di Ambon dan dalam perdagangan timah di Semenanjung Malaya, sebuah tuntutan yang ditolak oleh pemerintah di Batavia. Sebelumnya, bahkan bukan pada zaman sebelum kedatangan Portugis, perdagangan yang begitu luas terjadi di suatu pelabuhan Indonesia seperti di Banten pada waktu di mana VOC sedang berada di puncak kekuatannya.
Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa di Kesultanan Banten pada periode 1651–1683. Dia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Pada masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia (Nusantara).
Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi.[butuh rujukan]
Di bidang keagamaan, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti sekaligus penasehat kesultanan. Ia juga memberikan kepercayaan kepada Syekh Yusuf untuk mendidik anak-anaknya tentang agama. Selain itu, Sultan Ageng Tirtayasa juga menikahkan putrinya yang bernama Siti Syarifah dengan Syaikh Yusuf.
Ketika terjadi sengketa dengan putra mahkota, Sultan Haji , Belanda ikut campur dengan cara bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan Saint-Martin.
Read MoreKisah Jasad Yang Menghilang, Namanya Abadi Karomah Sunan Kalijaga Muncul Saat Wafat

Sosok-Ada wali yang dakwahnya pakai wayang. Ada wali yang wafatnya meninggalkan tanda tanya. Sunan Kalijaga bukan cuma meninggalkan ajaran, tapi juga misteri besar di akhir hayatnya. Bagaimana mungkin jasad seorang wali “hilang”, padahal makamnya ada di dua tempat? Kisah ini bukan sekadar sejarah… ini tentang kuasa Allah yang melampaui akal manusia.
Sunan Kalijaga, guru para raja, penyebar Islam di tanah Jawa dengan kesabaran luar biasa…
Di akhir hayatnya justru menghadap Sang Pencipta dalam misteri yang tak pernah bisa dijelaskan akal.
Salah satu Wali Songo yang masyhur, menjalani masa tuanya di Istana Kesultanan Cirebon, atau Dalem Agung Pakungwati, di bawah kepemimpinan Panembahan Ratu, cicit dari Sunan Gunung Jati.
Di usia senja, beliau tinggal dalam bangunan baru yang dikelilingi tembok, khusus dibangun di dalam kompleks istana, bangunan sederhana, khusus dibangun untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam ibadah.
Dikisahkan, Sunan Kalijaga suatu hari mengalami sakit kepala yang semakin lama kian parah. Dalam masa-masa sulit itu, ia ditemani oleh dua punakawan setia, yang merupakan utusan dari Sultan Cirebon. Akhirnya, Sunan Kalijaga wafat di tempat tersebut.
Jenazahnya pun disiapkan untuk dimakamkan. Panembahan Ratu segera melakukan upacara penyempurnaan bagi jenazah Sunan Kalijaga, namun tak ada pemakaman yang dilakukan di Cirebon. Sesuai tradisi dan sejarah yang dikenal luas, makam beliau terletak di Kadilangu, Demak, Jawa Tengah.
Misteri mencuat ketika naskah Mertasinga, yang menjadi salah satu sumber sejarah Kesultanan Cirebon, mengisahkan bahwa jenazah Sunan Kalijaga secara ajaib hilang tanpa bekas, menyisakan hanya kain penutupnya saja.
Panembahan Ratu akhirnya memakamkan kain tersebut di sebelah timur mihrab Masjid Agung Cirebon, menjadi penanda keberadaan sosok sang wali tanpa wujud jenazahnya.
Hingga kini, dua tempat ziarah itu sama-sama dimenjadi tujuan para peziarah. Karena kewalian beliau memang di luar batas logika manusia biasa.
Misteri kewafatan Sunan Kalijaga ini mengajarkan kita: jalan para wali memang tak bisa diukur dengan akal. Akal yang terbatas sedangkan kuasa-Nya tanpa batas.
Pernah ziarah ke Makam Sunan Kalijaga di Demak atau Cirebon belum?
Coba cerita pengalamanmu waktu ziarah di sana. Apa yang paling kamu rasain?
Spill pengalamanmu di komentar 👇
Perang Sultan Ageng Tirtayasa dengan Sultan Haji yang di Bantu VOC

PER4NG BANTEN ( SULTAN AGENG TIRTAYASA MELAWAN PUTRA NYA )Pada tanggal 27 Februari 1682, pecah perang antara ayah dan anak.pasukan Sultan Ageng menyerang Belanda untuk mengepung Sultan Haji yang menduduki istana Surasowan.
Dalam waktu singkat, pasukan Sultan Ageng dapat menguasai istana Surasowan. Sultan Haji segera dilindungi oleh Jacob de Roy dan dibawa ke Loji milik VOC. Di bawah pimpinan Kapten Sloot dan W. Caeff, pasukan Sultan Haji bersamasama dengan pasukan VOC mempertahankan loji itu dari kepungan pasukan Sultan Ageng.
Akibat perlawanan yang sangat kuat dari Sultan Ageng, bantuan militer yang dikirim dari Batavia tidak dapat mendarat di Banten. Bantuan militer yang lebih besar segera dikirim dari Batavia dengan syarat Sultan Haji akan memberi hak monopoli kepada VOC di Banten. Sultan Haji menyetujui syarat itu.
Pada tanggal 7 April 1682 bantuan Kompeni yang dijanjikan itu datang dengan kekuatan besar membalas serangan Sultan Ageng
dengan melakukan penyerangan ke Keraton Surasowan dan benteng istana Tirtayasa di bawah pimpinan Francois Tack dan De Saint Martin.Pasukan ini berhasil membebaskan loji dari kepungan Sultan Ageng. Sultan Ageng terus melakukan perlawanan hebat. Ia dengan gigih meneruskan perjuangannya, dibantu oleh pasukan Makassar, Bali, dan Melayu. Markas besar pasukannya berada di Margasana.
Serangan pasukan Kompeni di bawah pimpinan Jonker, St. Martin, dan Tack berhasil mendesak barisan Banten. Margasana pun dapat diduduki. Kacarabuan dan Tangerang juga dapat dikuasai oleh Kompeni.
Sultan Ageng kemudian mengundurkan diri ke Tirtayasa yang dijadikan pusat pertahanannya.
Serangan umum dimulai dari daerah pantai menuju Tanara dan Tangkurak. Pada tanggal 28 Desember 1682 pasukan Jonker, Tack, dan Michielsz menyerang Pontang, Tanara, dan Tirtayasa serta membakarnya.
Ledakan-ledakan dan pembakaran menghancurkan Keraton Tirtayasa. Akan tetapi, Sultan Ageng berhasil menyelamatkan diri ke pedalaman. Pangeran Arya Purbaya juga berhasil lolos dengan selamat dengan terlebih dahulu membakar benteng dan keratonnya.
Pihak Kompeni berusaha untuk mencari Sultan Ageng dan membujuknya untuk menghentikan perlawanan dan turun ke Banten. Sultan Haji mengutus 52 orang keluarganya untuk menjemput ayahnya, sebagai tipu daya menangkap ayahnya di Ketos.
Pada malam menjelang 14 Maret 1683, terjadi penghianatan putranya sendiri yang berkerja sama dengan Belanda, namun Pangeran Arya Purbaya berhasil lolos, Sultan Ageng Tirtayasa dipenjarakan di Batavia sampai ia meninggal tahun 1692.
Sebagai Bentuk Penghormatan Sultan Haji membawa jasad ayah nya ke Banten dan di makam kan d Dalam Komplek Makam Kerajaan Banten Lama.
Banten dipimpin Sultan Haji namun dibawah kekuasaan tangan Belanda. Dan setelah wafatnya Sultan Haji, Banten sepenuhnya dikuasai oleh Hindia Belanda. Sehingga pengangkatan Sultan harus mendapat persetujuan Gubenur Jendral Hindia Belanda. Akhirnya, Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya dipilih sebagai pengganti Sultan Haji.
Read MoreTahukah Anda Siapa Pangeran Aryadilla, Sosok Terkenal di Kesultanan Banten

Ilustrasi
PANGERAN ARYADILAH ( PANGLIMA PERANG KESULTANAN BANTEN )
Asal usul Pangeran Ayadillah ||
Menurut cerita rakyat dan Babad Banten,
ia adalah putra Sultan Maulana Hasanuddin dengan seorang putri dari bangsa jin dari Gunung Karang Yang Bernama “Nyai Jaibah”.
Setelah Dewasa Aryadillah Pergi Ke Keraton Banten untuk Menemui Ayah Nya, Namun Sesampainya di Kraton Maulana Hasanudin Yg Saat itu Menjadi Raja Tidak Langsung Mengakui Aryadillah, Maulana Hasanudin Memberi ujian terlebih dahulu Kepada Aryadillah Untuk diakui sebagai anak raja, ia disuruh Hasanuddin merontokkan seluruh daun beringin tanpa sisa, yang berhasil ia lakukan dengan bantuan kakeknya dari bangsa jin.
Pembersihan Karang Hantu: Ia diberi tugas membersihkan wilayah sekitar keraton dan perairan dari dedemit dan Makhluk Halus Yg Bersarang di Sekitar Keraton Surosowan, yang kemudian Tempat itu dikenal sebagai Karangantu, dan menjadi pelabuhan perdagangan penting pada masa kejayaan banten.
Panglima Perang: Ia panglima perang, membantu Maulana Yusuf menaklukkan Pajajaran.
Makam: Makamnya Pangeran Aryadillah Terletak di wilayah Sekitaran Banten Lama dan Menjadi tempat keramat dan wisata realigi.
Yg selalu Ramai di datangi Para Pejiarah dari berbagai daerah.
Siapa Nyi Mas Carik, Tokoh Wanita Penyebar Islam di Banten

Nyimas Carik (Syariffah Mudhaibbah) adalah Adik dari Syarif Hidayatullah, ia adalah tokoh penyebar agama Islam di Banten Yang di utus Oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
Syariffah Mudhaibbah ( Nyimas Carik ) diyakini sebagai pejuang Islam Tertua di Banten Sebelum Era Maulana Hasanudin.
Syariffah Mudhaibbah Merupakan Anak dari Sultan Hud/Syarif Abdullah ( Sultan Mesir ) Ayah nya Syarif Hidayatullah.
Konon di waktu “Sultan Hud” wafat istrinya Yang Bernama Nyimas Larasantang ( Syariffah Muda’im ) Sedang Mengandung Anak Ke Tiganya Yang Kelak di Beri Nama Syariffah Mudhaibbah.
di Ceritakan, Syariffah Mudhaibbah bersama pengawalnya yang bernama Muhammad Idrus pergi ke Banten lalu berjalan kaki ke arah Selatan. dan Tiba menjelang “Subuh”.
Sehingga Kampung itu kelak
di Namakan Kampung “Kasubuhan”.
di daerah ini awal penyebaran agama Islam dilakukan.
Pada suatu saat terjadi bencana di Kampung Kasubuhan yaitu masyarakat terkena penyakit dan membuat kampung ini menjadi kacau dan kisruh. Dan segelintir masyarakat di Kampung Kasubuhan menuduh Syariffah Mudhaibbah sebagai sumber dari penyakit itu, Syariffah Mudhaibbah difitnah mempunyai ilmu hitam atau ilmu sihir.
Sehingga Membuat Syariffah Mudhaibbah Menangis ( Ceurik Dalam Bahasa Sunda ) Yang Lama Kelamaan Nama itu Berubah Menjadi Carik.
dan Nama itu Menjadi Nama panggilan Beliau
Nyimas Ceurik ( Nyimas Carik ).
konon ludah Nyimas Carik bisa membuat lumpuh dan Cacat bagi siapa saja yang melewati dan menginjak ludah Nyimas Carik.
Makam Nyimas Carik Berada di Kampung Kasubuhan, Desa Sukabares, Kecamatan Waringin Kurung, Kabupaten Serang – Banten.
By pecinta para wali
Oleh laskar Padjajaran
wali
Read MoreK.H. Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani: Ulama Pejuang, Perintis Kemerdekaan, dan Residen Pertama Banten di Era Republik

Sosok-K.H. Tubagus Ahmad Chatib bin Wasi’ al-Bantani merupakan salah satu ulama besar sekaligus pejuang kemerdekaan yang lahir di Kampung Gayam, Cadasari, Pandeglang, Banten, pada tahun 1885. Beliau wafat pada 19 Juni 1966 dalam usia sekitar 80–81 tahun dan dimakamkan di kawasan Masjid Agung Banten, Banten Lama, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara.
Nama K.H. Tubagus Ahmad Chatib tidak hanya dikenang sebagai seorang ulama yang berpengaruh, tetapi juga sebagai tokoh pergerakan nasional yang memiliki keberanian luar biasa dalam melawan penjajahan Belanda. Pada tahun 1926, beliau menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Akibat perjuangannya tersebut, ia ditangkap dan diasingkan ke Boven Digul, Papua, sebuah tempat pembuangan yang dikenal sebagai penjara bagi para pejuang kemerdekaan.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, kepercayaan besar diberikan kepadanya. Pada 19 September 1945, Presiden Soekarno mengangkat K.H. Tubagus Ahmad Chatib sebagai Residen Banten, menjadikannya pemimpin sipil yang bertanggung jawab menjaga stabilitas pemerintahan dan mempertahankan kemerdekaan di wilayah Banten pada masa-masa awal Republik Indonesia.
Pengabdiannya kepada bangsa tidak berhenti sampai di situ. Beliau juga dipercaya mengemban berbagai jabatan penting di tingkat nasional, antara lain sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR), Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS), serta BPPK. Kepercayaan tersebut menunjukkan besarnya peran dan pengaruh beliau dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Selain dikenal sebagai pejuang, K.H. Tubagus Ahmad Chatib juga berasal dari garis keturunan bangsawan dan ulama Kesultanan Banten. Nasab beliau bersambung kepada Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten, hingga Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), salah seorang anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Silsilah nasab beliau adalah sebagai berikut:
K.H. Tubagus Ahmad Chatib
Syaikh Tubagus Wasi’
K.H. Tubagus Thahir
K.H. Tubagus Hafidz
Ratu Bagus Abdullah
Pangeran Qadhi Jayasantika
Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir
Sultan Maulana Muhammad
Sultan Maulana Yusuf
Sultan Maulana Hasanuddin
Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
K.H. Tubagus Ahmad Chatib al-Bantani adalah sosok yang memadukan keulamaan, kepemimpinan, dan semangat perjuangan. Keteguhan prinsip, keberanian melawan penjajahan, serta pengabdiannya kepada negara menjadikan beliau sebagai salah satu putra terbaik Banten yang layak dikenang dan diteladani oleh generasi penerus bangsa.