Sejarah Nama Pandeglang, Di Masa Sultan Hasanuddin Al Bantani

SEJARAH PANDEGLANG
Konon di Kaki Gunung Karang terdapat sepasang suami istri yang memiliki kesaktian yang luar biasa, Kedua orang tersebut adalah Ki Jagur dan Nyi Amuk, saking saktinya kedua orang ini, sehingga menarik perhatian Sultan Hasanudin yang saat itu menjabat sebagai Sultan Banten untuk meng-Islamkan mereka.
Akhir nya kedua orang tersebut menyingkir dan kabur ke daerah Pantai Carita sekarang” ujarnya.
Tahun berganti tahun, akhirnya kekuasaan Kesultanan Banten pun semakin terjaga.
Saat Banten akan diserang oleh Belanda, tiba-tiba dari arah Barat Kesultanan Banten terdengar dentuman keras yang berbunyi secara terus menerus. Sultan yang saat itu mendengar suara tersebut awalnya mengira Belanda telah memulai serangannya. Tapi berdasarkan keterangan penasehat-penasehatnya, mereka mengatakan bahwa Belanda tidak akan mungkin menyerang Kesultanan Banten dari Pantai Carita, ini terlalu jauh ujarnya.
Akhirnya Sultan Hasanudin & beberapa orang kepercayaannya pergi untuk melihat suara apakah itu. Maka berangkatlah mereka kearah Carita, ketika sampai ditempat itu, rombongan terkaget-kaget karena suara yang menghasilkan suara dentuman yang sangat keras ini, ternyata berasal dari sebuah benda.
Mereka tidak dapat menjelaskan benda apakah itu, Sultan Hasanudin & rombongan lalu membawa kedua benda tersebut.
Ada kisah unik saat Sang Sultan dan rombongan meninggakan tempat itu, diperjalanan mereka sering berhenti ditengah perjalanan untuk istirahat, anehnya saat rombongan istirahat semua pohon durian ( kadu ) yang berada disekitar tempat tersebut tiba-tiba mendadak mati, sekarang daerah tersebut dinamakan Kadu Paeh (paeh=mati). Perjalanan dilanjutkan dan saat rombongan istirahat lagi, kejadian terulang lagi, kali ini pohon tumbang dengan tiba-tiba, tempat tersebut sekarang disebut orang dengan Kadu Bungbang (Bungbang=tumbang).
Akhirnya diketahuilah bahwa sebenarnya kedua barang itu adalah merupakan penjelmaan dari Ki Jagur dan Nyi Amuk. Setelah berkomunikasi secara gaib, ,
maka diketahuilah bahwa Ki Jagur akan rela dibawa ke kesultanan Banten jika Hasanudin memberikan sebuah gelang untuk istrinya Nyi Amuk.
Maka disepakatilah bahwa Sultan akan memberikan gelang tersebut sesaat setelah sampai di Keraton Kesultanan Banten.
Setibanya di Keraton Kesultanan Banten, Sultan Hasanudin menugaskan seorang pandai besi ( Pande ) yang bernama Raden Papak Singa Jaya Gumelar untuk membuat gelang itu.
Raden Papak pun menyanggupi perintah ini,
Ia sanggup melaksanakan tugas yang diberikan Sultan.
Kemudian setelah bahan tersebut dibakar, Raden Papak mencoba untuk mulai memukul-mukulnya, layaknya seorang pande. Bahan yang telah dibakar tersebut diletakan pada sebuah batu, untuk dibentuk menjadi sebuah gelang, karena kekuatan bahan gelang tersebut, batu itu tidak dapat menahannya, oleh karena itu sampai sekarang batu tempat meletakan bahan gelang itu oleh masyarakat disebut dengan Batu Belah.
Raden Papak akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya, gelang yang telah ia buat lalu di serahkan kepada Sultan.
Atas jasanya Sultan Hasanudin akhirnya mengangkat Raden Papak sebagai penasehatnya. Dan tempat dimana ia membuat gelang tersebut sekarang dikenal dengan nama “Pandeglang” yang berasal dari dua suku kata “Pande dan Gelang”.
Sekarang Meriam Ki Jagur Berada di Musium Kepurbakalaan “Banten Lama” Kota Serang,
sementara Meriam Nyi Amuk di bawa ke Balai Kota Batavia Oleh Tentara Belanda di masa penjajahan,
Sekarang Meriam Nyi Amuk Berada di Halaman Musium Fatahilah ( Kota Tua ), Jakarta Sekarang .
Syech Agung Caringin, Ulama dan Pejuang Syiar Islam di Tanah Banten

SYEKH ASNAWI BIN SYEKH ABDURRAHMAN ( CARINGIN BANTEN )
Syekh Asnawi bin Syekh Abdurrahman atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Asnawi Caringin (1850-1937) adalah seorang ulama dari Banten.
Syekh Asnawi lahir di Kampung Caringin, Labuan, Banten sekitar tahun 1850 Masehi. Sang ayah, Syekh Abdurrahman berasal dari keluarga yang Religius.
Pada usia yang masih sangat muda Syekh Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu ke Mekkah.
Di Tanah Suci, Asnawi kemudian berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram.
Bertahun-tahun syekh Asnawi belajar di tanah kelahiran Islam. Hingga ketika dirasa telah mumpuni dalam agama, ia pun dipercaya untuk mendakwahkan Islam. Maka, Syekh Asnawi pun pulang kembali ke tanah lahirnya, Banten. Ia pun mulai mengajar dan mengundang ketertarikan banyak pemuda yang ingin menjadi muridnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat nama Syekh Asnawi tersohor sebagai ulama besar di Banten.
Tak hanya mengajarkan agama, Syekh Asnawi juga terkenal semangatnya yang menggebu dalam melawan penjajah. Ia mengobarkan semangat pemuda untuk melawan dan menentang kolonialisme Belanda. Apalagi, saat itu seluruh wilayah Banten berhasil dikuasai penjajah. Bahkan, tak hanya mengobarkan semangat kemerdekaan lewat lisan, tapi juga aksi. Syekh Asnawi juga dikenal memiliki ilmu bela diri yang sakti.
Syekh Asnawi yang tangguh dan berhasil mengajak pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, kiai pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Ia dihukum lebih dari setahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, selama ditahan dan diasingkan, kiai tetap aktif menyampaikan dakwah Islam. Ia mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.
Seusai diasingkan, Syekh Asnawi kembali ke kampungnya di Caringin. Karena situasi yang lebih aman, ia semakin giat mensyiarkan Islam. Ia pun mendirikan sebuah masjid di Caringin pada 1884. Masjid tersebut bernama Masjid Caringin yang hingga kini masih berdiri tegak.
Beberapa sumber menyebutkan, pembangunan Masjid Caringin oleh Syekh juga ditujukan untuk membangun kembali peradaban masyarakat yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Syekh Asnawi ingin membangun kembali akidah masyarakat dengan didirikannya sarana masjid tersebut. Sejak masjid berdiri, dakwah pun makin menggeliat. Banyak pemuda datang untuk berguru kepadanya. Syekh Asnawi pun menghabiskan usianya untuk pengajaran agama dari tempat kelahirannya, Caringin.
Setelah banyak kiprah yang ditorehkan bagi masyarakat, terutama masyarakat Banten, Syekh Asnawi menghembuskan napas terakhir pada 1937 Masehi. Ia meninggalkan banyak sekali anak, yakni 23 putra dan putri. Ia dimakamkan di tepi pantai Caringin, Labuan dekat masjid yang ia bangun, Hingga kini, banyak masyarakat yang berziarah ke makamnya.
Read MoreTiga Sultan Cirebon Yang Bertahta di Tahun 2026

Kesultanan Cirebon merupakan warisan sejarah yang hingga kini masih hidup melalui beberapa keraton yang tetap memelihara adat, budaya, dan tradisi para leluhurnya. Pada tahun 2026, tiga tokoh memegang tampuk kepemimpinan di tiga keraton yang menjadi penerus Kesultanan Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan.
Meskipun tidak lagi menjalankan fungsi pemerintahan seperti pada masa lampau, ketiga sultan tetap memiliki peran penting sebagai penjaga warisan budaya, sejarah, dan identitas masyarakat Cirebon.
Keberadaan tiga keraton ini mencerminkan perjalanan panjang sejarah Cirebon sejak berkembang sebagai pusat perdagangan, penyebaran Islam, dan kebudayaan di pesisir utara Jawa. Perbedaan garis keturunan dan dinamika politik pada masa lalu melahirkan beberapa keraton yang masing-masing memiliki silsilah, pusaka, tradisi, serta upacara adat yang terus dilestarikan hingga sekarang.
Di era modern, para sultan tidak hanya menjadi simbol kebesaran masa lalu, tetapi juga berperan dalam pelestarian naskah kuno, seni tari, gamelan, batik, arsitektur keraton, hingga berbagai tradisi seperti Panjang Jimat dan upacara adat lainnya.
Kehadiran mereka menjadi penghubung antara generasi sekarang dengan sejarah Kesultanan Cirebon yang telah berdiri sejak lebih dari lima abad lalu, sekaligus menjaga agar nilai-nilai budaya Cirebon tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Kesultanan Cirebon saat ini tidak memiliki raja tunggal karena telah terpecah menjadi beberapa keraton pasca-wafatnya Sultan Sepuh XIV pada tahun 2020. Pemimpin keraton saat ini bergelar Sultan, di antaranya:
- Keraton Kasepuhan: Terjadi dualisme/polemik silsilah kepemimpinan antara Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin (Sultan Sepuh XV) dan Pangeran Heru Rusyamsi Arianatareja (Sultan Sepuh Trah Sunan Gunung Jati / Pangeran Kuda Putih).
- Keraton Kanoman: Dipimpin oleh Sultan Raja M. Emirudin (Sultan Kanoman ke-XII).
- Keraton Kacirebonan: Dipimpin oleh Sultan Abdul Gani Natadiningrat.
Histori Sulthon Maulana Muhammad Hasanuddin al-Bantani

Sultan Maulana Hasanuddin adalah pendiri sekaligus penguasa pertama Kesultanan Banten yang memerintah pada tahun 1552–1570. Beliau merupakan tokoh kunci dalam penyebaran Islam di Jawa Barat dan banten, serta berhasil membawa Banten bertransformasi dari sebuah kadipaten kecil di bawah Kerajaan Demak menjadi pusat perdagangan internasional yang mandiri dan berdaulat.
Berikut adalah kisah singkat perjalanan hidup dan perjuangannya:
1. Asal-Usul dan Masa Muda
Sultan Hasanuddin adalah putra dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), salah satu anggota Walisongo, dan Nyai Kawunganten (putri dari Ki Gedeng Premban, penguasa lokal Banten). Sejak kecil, ia dididik langsung oleh ayahnya dalam ilmu agama Islam, strategi perang, dan tata negara.
Ketika Sunan Gunung Jati memilih menetap di Cirebon, Maulana Hasanuddin diutus untuk memimpin dan menyebarkan Islam di wilayah Banten, yang saat itu masih berada di bawah pengaruh Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu.
2. Berdirinya Kesultanan Banten
Pada tahun 1526, berkat kerja sama antara pasukan Demak dan pasukan Sunan Gunung Jati, pelabuhan penting Sunda Kelapa dan Banten Girang berhasil direbut.
Awalnya, Banten berstatus sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Demak dengan Maulana Hasanuddin sebagai penguasanya sejak tahun 1526. Namun, melihat posisi geografis Banten yang sangat strategis di Selat Sunda, ia memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari pedalaman (Banten Girang) ke pesisir pantai (Banten Lama).
Ketika terjadi kekacauan politik di Demak pasca wafatnya Sultan Trenggana pada tahun 1552, Maulana Hasanuddin melepaskan diri dari bayang-bayang Demak dan memproklamasikan Banten sebagai kesultanan yang berdaulat, dengan dirinya sebagai sultan pertama.
3. Masa Kejayaan dan Kemakmuran
Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Banten mengalami kemajuan yang sangat pesat. Beberapa pencapaian besarnya meliputi:
Pusat Perdagangan Lada: Banten menjadi salah satu penghasil dan bandar lada terbesar di Nusantara. Jalur perdagangan Banten meluas hingga ke Cina, India, Persia, Arab, bahkan Eropa.
Tata Kota Modern: Ia membangun istana (Keraton Surosowan), pasar, alun-alun, dan Masjid Agung Banten yang ikonik.
Perluasan Wilayah: Sultan Hasanuddin berhasil memperluas pengaruh Banten hingga ke Lampung dan sebagian wilayah Sumatera Selatan, yang merupakan daerah penghasil lada utama.
4. Akhir Hayat dan Warisan
Sultan Maulana Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Agung Banten. Atas jasa-jasanya, ia digelari Pangeran Sabakingkin atau Marhum Banten. Kepemimpinan Banten kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Maulana Yusuf.
By: ABAH HADI Pendiri Pengasuh Padepokan Ad Dzikri Nurul Qulub 165
Jeruk Tipis Kragilan Serang Banten
Dewi Lanjar Penguasa Laut Utara Jawa

Lukisan Dewi Lanjar
Dewi Lanjar adalah sosok mitologi legendaris yang sangat populer di kalangan masyarakat pesisir Utara Jawa (Pantura), terutama di daerah Pekalongan, Jawa Tengah. Ia dipercaya sebagai ratu gaib yang menguasai dan menjaga wilayah Laut Utara Jawa, berpasangan dengan Kanjeng Ratu Kidul yang menguasai Laut Selatan.
Berikut adalah rangkuman informasi mengenai asal-usul, legenda, dan pengaruh budaya Dewi Lanjar dari berbagai sumber penuturan masyarakat:
1. Asal-usul Nama dan Masa Lalu
Menurut cerita rakyat setempat, Dewi Lanjar awalnya adalah seorang manusia biasa bernama Dewi Rara Kuning.
- Makna Nama “Lanjar”: Dalam istilah bahasa Jawa kontemporer, kata “lanjar” atau “randa lanjar” merujuk pada seorang wanita yang bercerai atau menjadi janda di usia yang masih sangat muda dan belum memiliki anak.
- Kisah Tragis: Kematian suaminya yang mendadak tidak lama setelah mereka menikah membuat Rara Kuning sangat terpukul dan duka yang mendalam. Karena terus-menerus dirundung kesedihan, ia memutuskan untuk merantau dan meninggalkan kampung halamannya.
2. Pertemuan dengan Penguasa Gaib dan Moksa
Dalam pelariannya menahan kesedihan, takdir membawa Rara Kuning ke wilayah selatan Jawa hingga sampai ke Sungai Opak.
- Nasihat Panembahan Senopati: Di sana, ia bertemu dengan Raja Mataram Islam, Panembahan Senopati, bersama Mahapatih Singaranu yang sedang bertapa. Melihat kesedihan Rara Kuning, sang raja menasihatinya untuk pergi ke Pantai Selatan dan memohon pertolongan kepada Kanjeng Ratu Kidul.
- Menjadi Pengikut Ratu Kidul: Rara Kuning mengikuti nasihat tersebut dan melakukan tapa bertingkat di tepi Laut Selatan hingga akhirnya mengalami moksa (pindah ke alam gaib). Ratu Kidul menerima Rara Kuning sebagai pengikutnya karena keteguhan hatinya.
3. Menjadi Penguasa Laut Utara
Suatu hari, Ratu Kidul memerintahkan Dewi Lanjar bersama pasukan jin untuk menguji sekaligus mencegah Raden Bahu (tokoh legendaris Pekalongan) yang sedang membuka Hutan Gambiren (sekarang wilayah sekitar Pekalongan).
Namun, karena kesaktian Raden Bahu yang luar biasa, semua godaan pasukan gaib Dewi Lanjar berhasil dipatahkan. Sadar akan kekalahannya, Dewi Lanjar enggan kembali ke Laut Selatan dan memohon izin kepada Raden Bahu serta Ratu Kidul untuk menetap di wilayah utara. Permohonan itu dikabulkan, dan ia resmi diangkat sebagai Ratu Penguasa Laut Utara Jawa.
4. Kepercayaan Masyarakat dan Lokasi Keraton Gaib
Masyarakat pesisir Pekalongan mempercayai bahwa keraton gaib Dewi Lanjar terletak di Pantai Slamaran, di sebelah timur Pantai Pasir Kencana, dekat muara sungai.

Pantai Slamaran Pekalongan yang di anggap oleh penduduk lokal sebagai pintu gerbang kerajaan ghaib Dewi lanjar
Hingga saat ini, ada beberapa mitos yang melekat kuat di tengah masyarakat:
- Anak Hilang di Pantai: Jika ada anak-anak yang mendadak hilang saat bermain di sekitar pantai Pekalongan, warga lokal sering kali mengaitkannya dengan fenomena gaib, percaya bahwa anak tersebut “dibawa” masuk ke keraton Dewi Lanjar.
- Sosok Cantik di Pasar: Cerita tutur setempat juga sering menggambarkan Dewi Lanjar sesekali menampakkan diri sebagai wanita cantik jelita yang berjalan-jalan di pasar tradisional Pekalongan, atau menyapa para nelayan untuk memberikan pertanda mengenai kondisi laut.
- Kultural Populer: Nama besar Dewi Lanjar juga kerap diangkat ke dalam budaya populer Indonesia, mulai dari komik petualangan klasik seperti karya Mansyur Daman, seri novel Wiro Sableng, hingga berbagai buku cerita fiksi petualangan mistis.
mitos atau legenda, cerita ini hanya untuk menunjukan bahwa Indonesia kaya akan cerita rakyat.
Read MoreMenggali Kedamaian Spiritual dan Nilai Sejarah di Makam Keramat Buyut Kelir Tangerang

Nanang Setiawan, Pemburu Berkah
TANGERANG-INFOPLUS9.COM-Wisata religi kini bukan lagi sekadar tren perjalanan musiman, melainkan telah menjadi kebutuhan spiritual dan edukasi bagi masyarakat modern. Salah satu destinasi yang terus menarik perhatian peziarah di wilayah Banten adalah Makam Keramat Buyut Kelir, yang terletak di TPU Muslim Kadu Guling, Desa Cirarab, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.
Diyakini sebagai makam tokoh penyebar agama Islam dan sesepuh tanah Banten, situs ini menjadi bukti nyata bagaimana wisata religi mampu memberikan dampak positif yang luas bagi individu maupun masyarakat sekitar.
Manfaat Wisata Religi di Makam Keramat Buyut Kelir
Kunjungan ke situs bersejarah dan makam karomah seperti Buyut Kelir membawa ragam manfaat penting, antara lain:
- Penyucian Jiwa dan Ketenangan Batin (Spiritualitas): Bagi para peziarah, datang ke makam keramat adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, mendoakan para leluhur, dan melakukan tabarruk (mencari berkah). Suasana yang sarat akan nilai sakral memberikan ruang untuk refleksi diri dan ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
- Edukasi Sejarah dan Pelestarian Budaya: Makam Buyut Kelir menjadi media pembelajaran langsung mengenai sejarah penyiaran Islam di kawasan Tangerang. Nama “Kelir” yang lekat dengan filosofi pewayangan memperlihatkan bagaimana dakwah Islam di masa lalu berakulturasi secara harmonis dengan kebudayaan lokal.
- Merawat Tradisi Kebersamaan (Modal Sosial): Kegiatan ziarah yang sering kali dilakukan secara rombongan, baik oleh warga lokal maupun luar daerah, memperkuat tali silaturahmi, gotong royong, dan rasa persaudaraan antar-umat.

Lokasi Pemakaman Ki Buyut Kelir
Makam Keramat Buyut Kelir di Desa Cirarab bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang tokoh besar, melainkan sebuah warisan hidup yang menyatukan aspek spiritual, sejarah, dan sosial-ekonomi masyarakat Tangerang yang harus terus dijaga kelestariannya.
Makam Keramat Buyut Kelir terletak di Tpu muslim kaduguling wilayah Cirarab, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Makam ini dihormati masyarakat sebagai situs bersejarah dan tempat ziarah
Sejarah & Mitos :
- Tokoh Penyiar Islam: Masyarakat meyakini Buyut Kelir adalah tokoh penyebar agama Islam dan leluhur (sesepuh) yang berjasa di wilayah Banten, khususnya kawasan Tangerang.
- Mitos Karomah: Seperti banyak makam keramat di Nusantara, tempat ini dikaitkan dengan berbagai cerita karomah (keistimewaan) tokoh tersebut. Peziarah sering datang untuk memohon berkah, ketenangan, atau karena mendapat petunjuk melalui mimpi.
- Julukan Kelir: Nama “Kelir” sering dikaitkan dengan bahasa pewayangan (layar pewayangan) atau merujuk pada latar belakang beliau sebagai tokoh yang dekat dengan kebudayaan dan nilai-nilai spiritual masa lalu.
- Wisata Religi: Area makam ini rutin dikunjungi peziarah, terutama warga lokal maupun luar daerah yang ingin mendoakan para leluhur dan tabarruk (mencari berkah).
Jika Anda ingin berkunjung atau melakukan napaktilas, akses menuju lokasi ini cukup mudah dijangkau di daerah Legok. Situs ini dikelola dan dijaga oleh warga setempat serta para kuncen sebagai cagar budaya dan tempat wisata religi.
By.
Nanang Setiawan
Motivator Ketut Abid Halimi Gugah 7.000 Tokoh Riau dalam Doa Keselamatan dan Kebangkitan Nusantara

Pekanbaru-INFOPLUS9.COM-Semangat persatuan, doa, dan pelestarian budaya Melayu mewarnai kegiatan bertema “Doa Selamat Menyongsong Bangkitnya Nusantara” yang digelar bertepatan dengan malam 1 Muharram 1448 Hijriah, Selasa (16/6/2026).
Acara berlangsung di Jalan Sultan Syarif Qasim, Pekanbaru, tepat di depan Masjid Agung An-Nur.
Sebanyak 7.000 tokoh dan masyarakat dari berbagai kalangan hadir dalam kegiatan yang diprakarsai oleh Penggawa Melayu Riau tersebut. Acara ini merupakan wujud syukur kepada Allah SWT sekaligus memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa dan kebangkitan Nusantara.
Kegiatan yang kental dengan nuansa adat Melayu ini menghadirkan motivator nasional Dr. H. Ketut Abid Halimi, S.Pd.I., M.Pd.C., HT., Pengasuh Pondok Pesantren Alam Barzah Al Mahribi, Mojokerto, Jawa Timur.

Sosok peraih The Best ASEAN Choice Motivator 2024 ini, pada tahun ini juga menerima Global Awards 2026, sebuah penghargaan yang mengukuhkan kiprahnya di bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan motivasi kebangsaan.
Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh H. Ahmadi, S.H.I., M.H., dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lima Puluh. Dalam suasana khidmat, para peserta memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa serta mengenang jasa para leluhur dan tokoh yang telah berkontribusi bagi Indonesia.
Memasuki pukul 20.00 WIB, rangkaian acara berlanjut dengan penyerahan penghargaan dari Pusat Kajian dan Penelitian Tokoh-tokoh Nusantara (Centre for Studies and Research Indonesian Figures) kepada sejumlah tokoh yang dinilai memiliki dedikasi tinggi bagi masyarakat.
Puncak acara berlangsung pukul 20.15 WIB melalui ceramah bertajuk “Renungan Kebangkitan Diri dan Kebangkitan Nusantara” oleh Ketut Abid Halimi.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak peserta menjadikan kebangkitan diri sebagai fondasi utama kebangkitan bangsa.
Menurutnya, penguatan spiritualitas, persatuan, dan semangat gotong royong adalah modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi berbagai tantangan tanpa kehilangan jati diri dan nilai luhur budaya.
Di sela kegiatan, Ketut Abid Halimi mengungkapkan rasa syukurnya atas Global Awards 2026 yang diterimanya. Ia menilai penghargaan tersebut sebagai pengingat bahwa kebangkitan bangsa harus dibangun melalui penguatan spiritual, persatuan, dan kecintaan terhadap budaya.
”Saya memandang penghargaan ini sebagai amanah untuk terus mengabdi. Saya bersyukur dapat hadir di sini bersama ribuan tokoh dan masyarakat Melayu.
Saya percaya, kebangkitan Nusantara harus dimulai dari kebangkitan hati, akhlak, dan kesadaran untuk bersatu demi Indonesia yang lebih maju, beradab, dan bermartabat,” ujar Ketut.
Usai ceramah, peserta mengikuti tradisi makan berhidang yang merupakan warisan budaya Melayu sarat nilai kebersamaan.
Suasana semakin semarak dengan penampilan Tari Zapin dari Sanggar Tari Laksmana, yang menampilkan kekayaan seni budaya Melayu.
Rangkaian kegiatan berlangsung dengan penuh kekeluargaan. Melalui acara ini, Penggawa Melayu Riau kembali menegaskan komitmen dalam menjaga marwah adat dan tradisi, sekaligus memperkuat semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (dbs/red)
Read MorePeringati 1 Muharram 1448 H, Bupati Tangerang Hadiri Grebeg Suro dan Pagelaran Wayang Kulit di Citra Raya

Bupati Maesyal Rasyid
TANGERANG–INFOPLUS,9.COM-Bupati Tangerang, Drs. H. Moch. Maesyal Rasyid, M.Si., menghadiri rangkaian kegiatan Grebeg Suro, Kirab Budaya, dan Pagelaran Wayang Kulit yang digelar di kawasan Citra Raya, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Selasa (16/6). Acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah ini menjadi perwujudan nyata atas komitmen Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam mendukung pelestarian seni, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Maesyal Rasyid menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada seluruh pihak penyelenggara, termasuk Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) Kabupaten Tangerang serta Badan Penghubung Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sinergi ini dinilai berhasil menghadirkan ruang budaya yang mempererat tali silaturahmi antarwarga.
”1 Muharram, atau dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal sebagai Bulan Suro, memiliki makna yang sangat mendalam. Momentum ini tidak hanya menjadi sarana introspeksi dan penguatan spiritualitas, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan, menjaga kerukunan, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur,” ujar Maesyal Rasyid dalam sambutannya.
Bupati menegaskan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan zaman, kegiatan seperti Kirab Budaya dan Wayang Kulit bukan sekadar seremonial masa lalu. Kebudayaan merupakan cerminan identitas dan jati diri bangsa yang esensial untuk terus dirawat dan diwariskan kepada generasi penerus.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa Kabupaten Tangerang merupakan daerah yang heterogen dan dihuni oleh masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, dan tradisi. Keberagaman tersebut, menurut Bupati, harus disikapi sebagai modal sosial sekaligus kekuatan utama untuk bergotong-royong membangun daerah.
”Pembangunan di Kabupaten Tangerang tidak hanya berfokus pada sektor infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga harus memperhatikan pembangunan karakter, pelestarian nilai-nilai budaya, serta penguatan kearifan lokal sebagai bagian dari jati diri bangsa,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, Bupati Maesyal Rasyid menaruh harapan besar agar pagelaran kebudayaan seperti ini mampu memantik rasa bangga dan cinta tanah air di kalangan generasi muda, sehingga nilai-nilai luhur nusantara dapat terus lestari sepanjang masa.
Read MorePolsek Cikupa Amankan Pawai Obor dan Dzikir Bersama Sambut 1 Muharam 1448 H di Desa Talaga

Pawai Obor Warga Desa Talaga
TANGERANG – INFOPLUS9.COM-Dalam rangka memberikan rasa aman kepada masyarakat yang memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah, personel Polsek Cikupa melaksanakan pengamanan kegiatan Pawai Obor dan Dzikir Bersama yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Talaga, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Senin malam (15/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 20.00 WIB hingga 21.30 WIB tersebut dipusatkan di Gedung Serbaguna Desa Talaga, Jalan Taman Citalaga No. 1, Desa Talaga, Kecamatan Cikupa. Acara digelar sebagai bentuk syiar Islam sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga dalam menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

Kegiatan dipimpin oleh Ketua Panitia, Haryadi Sutarman, dan dihadiri Kepala Desa Talaga H. Nasarudin, S.H., Kanit Lantas Polsek Cikupa IPTU Udi Muhdi, Ketua LPM Desa Talaga H. Jajuli, Ketua BPD Desa Talaga H. Heru, Ketua Karang Taruna Akmal, Babinsa Desa Talaga PELTU Ismoyo, Bhabinkamtibmas Desa Talaga BRIPKA Suheri Wijaya, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta sekitar 1.000 peserta yang mengikuti pawai obor dan dzikir bersama.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari panitia dan unsur pemerintahan desa, dilanjutkan dengan pawai obor yang diiringi dzikir bersama, pembagian doorprize, serta doa penutup.
Adapun rute pawai obor dimulai dari Lapangan Kantor Desa Talaga, melintasi Jalan Cihideung, Pertigaan Cihideung, Jalan Raya Serang, Jalan Talaga Sodong, dan kembali ke Lapangan Kantor Desa Talaga sebagai titik akhir kegiatan.

Untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan aman dan tertib, Polsek Cikupa menerjunkan enam personel pengamanan yang dipimpin langsung oleh IPTU Udi Muhdi. Pengamanan dilakukan baik di lokasi kegiatan maupun sepanjang rute pawai guna mengantisipasi gangguan kamtibmas dan mengatur kelancaran arus lalu lintas.
Kapolresta Tangerang, Andi M. Indra Waspada Amirulloh, melalui Kapolsek Cikupa AKP Syamsul Bahri, S.TK., S.I.K., M.H., menyampaikan bahwa kehadiran personel Polri dalam kegiatan masyarakat merupakan bentuk pelayanan dan komitmen Polri dalam menjaga keamanan serta ketertiban selama berlangsungnya kegiatan keagamaan.
“Polri hadir untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan masyarakat berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. Momentum Tahun Baru Islam ini diharapkan dapat mempererat ukhuwah serta menjaga situasi kamtibmas yang kondusif di wilayah Kecamatan Cikupa,” ujar Kapolsek.
Hingga kegiatan berakhir pada pukul 21.30 WIB, seluruh rangkaian Pawai Obor dan Dzikir Bersama dalam rangka menyambut 1 Muharam 1448 H berlangsung aman, tertib, dan kondusif dengan pengamanan dari personel Polsek Cikupa.

Penuh Khidmat dan Kebersamaan, Syukuran 4 Bulan Kehamilan Iko Mustika Wati Berlangsung Hangat di Neo Mediterania

Tangerang-INFOPLUS9.COM.Acara tasyakuran 4 bulan kehamilan anak pertama atas nama Iko Mustika Wati berlangsung dengan penuh rasa syukur, kekeluargaan, dan kebersamaan di Perumahan Neo Mediterania Blok B15 No. 02, Minggu (14/06/2026) pukul 09.00 WIB.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat dan warga, di antaranya Ibu RT 07 RW 03 Devinda yang tengah mengandung 7 bulan, Ibu RT 01 RW 12 Henny, Ibu RT 14 RW 07 Sumarni, serta ibu-ibu warga Neo Mediterania yang turut memeriahkan acara dengan suasana penuh keakraban.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan pengajian yang dipimpin oleh Tim Pengajian Ibu-Ibu RT 01 RW 12 Nuansa Sukatani. Suasana semakin syahdu dengan lantunan sholawat yang dibawakan oleh Tim Kosidah RT 14 RW 07 Taman Raya Rajeg, sehingga menambah kekhidmatan dan keberkahan dalam acara tasyakuran tersebut.
Dalam kesempatan itu, keluarga besar menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kehamilan yang telah memasuki usia empat bulan serta memohon doa agar ibu dan calon buah hati selalu diberikan kesehatan, keselamatan, kemudahan hingga proses persalinan nanti, serta menjadi anak yang saleh atau salehah dan berbakti kepada agama, bangsa, dan kedua orang tua.
Acara berlangsung dengan lancar, penuh kehangatan, dan diakhiri dengan doa bersama serta ramah tamah antarwarga. Momen ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai kebersamaan di lingkungan Neo Mediterania.
Dimas Agung Wibisono & Istri