Histori Sulthon Maulana Muhammad Hasanuddin al-Bantani

Sultan Maulana Hasanuddin adalah pendiri sekaligus penguasa pertama Kesultanan Banten yang memerintah pada tahun 1552–1570. Beliau merupakan tokoh kunci dalam penyebaran Islam di Jawa Barat dan banten, serta berhasil membawa Banten bertransformasi dari sebuah kadipaten kecil di bawah Kerajaan Demak menjadi pusat perdagangan internasional yang mandiri dan berdaulat.
Berikut adalah kisah singkat perjalanan hidup dan perjuangannya:
1. Asal-Usul dan Masa Muda
Sultan Hasanuddin adalah putra dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), salah satu anggota Walisongo, dan Nyai Kawunganten (putri dari Ki Gedeng Premban, penguasa lokal Banten). Sejak kecil, ia dididik langsung oleh ayahnya dalam ilmu agama Islam, strategi perang, dan tata negara.
Ketika Sunan Gunung Jati memilih menetap di Cirebon, Maulana Hasanuddin diutus untuk memimpin dan menyebarkan Islam di wilayah Banten, yang saat itu masih berada di bawah pengaruh Kerajaan Sunda (Pajajaran) yang bercorak Hindu.
2. Berdirinya Kesultanan Banten
Pada tahun 1526, berkat kerja sama antara pasukan Demak dan pasukan Sunan Gunung Jati, pelabuhan penting Sunda Kelapa dan Banten Girang berhasil direbut.
Awalnya, Banten berstatus sebagai kadipaten di bawah Kesultanan Demak dengan Maulana Hasanuddin sebagai penguasanya sejak tahun 1526. Namun, melihat posisi geografis Banten yang sangat strategis di Selat Sunda, ia memutuskan untuk memindahkan pusat pemerintahan dari pedalaman (Banten Girang) ke pesisir pantai (Banten Lama).
Ketika terjadi kekacauan politik di Demak pasca wafatnya Sultan Trenggana pada tahun 1552, Maulana Hasanuddin melepaskan diri dari bayang-bayang Demak dan memproklamasikan Banten sebagai kesultanan yang berdaulat, dengan dirinya sebagai sultan pertama.
3. Masa Kejayaan dan Kemakmuran
Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Banten mengalami kemajuan yang sangat pesat. Beberapa pencapaian besarnya meliputi:
Pusat Perdagangan Lada: Banten menjadi salah satu penghasil dan bandar lada terbesar di Nusantara. Jalur perdagangan Banten meluas hingga ke Cina, India, Persia, Arab, bahkan Eropa.
Tata Kota Modern: Ia membangun istana (Keraton Surosowan), pasar, alun-alun, dan Masjid Agung Banten yang ikonik.
Perluasan Wilayah: Sultan Hasanuddin berhasil memperluas pengaruh Banten hingga ke Lampung dan sebagian wilayah Sumatera Selatan, yang merupakan daerah penghasil lada utama.
4. Akhir Hayat dan Warisan
Sultan Maulana Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Masjid Agung Banten. Atas jasa-jasanya, ia digelari Pangeran Sabakingkin atau Marhum Banten. Kepemimpinan Banten kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Maulana Yusuf.
By: ABAH HADI Pendiri Pengasuh Padepokan Ad Dzikri Nurul Qulub 165
Jeruk Tipis Kragilan Serang Banten