Menjemput Kesejukan Sentul: Kisah Perjalanan Akhir Pekan H. Khaerudin dan Keluarga di Leuwi Kunten

BOGOR – Riuh rendah kepenatan aktivitas sepekan seketika luruh digantikan oleh gemercik air sungai yang jernih dan hamparan hijau khas perbukitan Sentul. Bagi H. Khaerudin, seorang Bendahara PGR sekaligus Anggota aktif PXN Pajero (Pajero X Weal Nusantara), akhir pekan adalah momen sakral untuk kembali ke alam dan mendedikasikan waktu sepenuhnya bagi keluarga tercinta.
Kali ini, destinasi pilihan jatuh pada Wisata Leuwi Kunten, sebuah permata tersembunyi yang terletak di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Perjalanan Singkat Menuju Ketenangan
Pagi itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 07.00 WIB ketika kendaraan yang membawa H. Khaerudin bersama sang istri, Pretika Dewi, dan sang anak, Kaerunnawawi, mulai membelah jalanan. Menempuh jarak sekitar 20,5 km dari pusat Kota Bogor, perjalanan terasa begitu lancar dan menyenangkan.

Hanya dalam waktu 1,5 jam—tepat pukul 08.30 WIB—keluarga kecil ini sudah menginjakkan kaki di gerbang Leuwi Kunten, disambut oleh udara segar yang langsung menusuk dada. Sebuah waktu kedatangan yang sempurna, tepat saat tempat wisata ini baru saja membuka gerbangnya pada pukul 08.00 WIB.
Pesona Leuwi Kunten: Harmoni Alam, Kuliner, dan Camping
Leuwi Kunten bukan sekadar destinasi wisata biasa. Tempat ini sukses memadukan pesona petualangan alam murni dengan kenyamanan fasilitas modern. Destinasi ini menawarkan paket lengkap: wisata alam, wisata kuliner, hingga camp ground.

Beberapa daya tarik utama yang memanjakan H. Khaerudin sekeluarga di antaranya:
Kesegaran Sungai Alami: Aliran sungai yang jernih dengan bebatuan alami menjadi daya tarik utama. Pengunjung, termasuk anak-anak, bisa dengan aman berenang atau sekadar merendam kaki menikmati terapi dinginnya air pegunungan.
Daya Tarik Leuwi Kunten Sentul, Wisata Alam yang Menyegarkan Badan dan Pikiran
Leuwi Kunten merupakan wisata alam yang ada di Desa Karang Tengah, Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Dari pusat Kota Bogor, jaraknya sekitar 20,5 km atau berkisar 30 hingga 40 menit perjalanan berkendara. Akses jalan menuju tempat ini sudah bagus dan bisa dilewati baik menggunakan motor maupun mobil.
Tempat ini menyuguhkan sungai berukuran cukup besar dengan penampilan alami yang menawan dan memanjakan mata. Sungai tersebut memiliki aliran tidak terlalu deras dengan banyak bebatuan yang mempercantik penampilannya. Area sekitarnya pun tidak kalah indah dan menyegarkan karena penuh dengan pepohonan hijau yang rindang.

Healing ke Air Terjun: Gemuruh air terjun mini di kawasan ini menjadi obat mujarab bagi siapa saja yang mencari ketenangan (healing) dari bisingnya hiruk-pikuk perkotaan.
Surga Kuliner di Tepi Sungai: Setelah lelah beraktivitas, jajaran kuliner lokal siap memanjakan lidah dengan konsep saung-saung estetik di pinggir sungai.
Fasilitas Ramah Kantong: Dengan keindahan yang ditawarkan, tiket masuknya sangat terjangkau, yakni Rp15.000 (weekday) dan Rp20.000 (weekend), menjadikannya destinasi favorit keluarga.
Komentar H. Khaerudin: “Keluarga Adalah Prioritas Utama”
Sebagai seorang pria dengan mobilitas tinggi di organisasi PGR dan komunitas PXN Pajero, H. Khaerudin tetap menempatkan perannya sebagai kepala keluarga di atas segalanya. Berada di Leuwi Kunten bersama istri dan anak memberikan ruang baginya untuk melakukan recharge energi.
Saat ditemui di lokasi, H. Khaerudin membagikan kesannya dengan penuh rasa syukur:
”Sebagai kepala keluarga, kebahagiaan istri dan anak adalah hal yang paling utama bagi saya. Di tengah kesibukan sehari-hari, waktu berkualitas (quality time) seperti ini tidak boleh hilang. Leuwi Kunten ini luar biasa; jaraknya dekat dari Bogor, aksesnya mudah, dan suasananya sangat asri. Melihat anak dan istri bisa tersenyum lepas, bermain air, dan menikmati alam, itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua rasa lelah bekerja. Tempat ini sangat rekomendasi untuk rekreasi keluarga yang sehat dan edukatif.”
Perjalanan hari itu ditutup dengan senyuman hangat. Leuwi Kunten tidak hanya memberikan pemandangan alam yang indah bagi H. Khaerudin, Pretika Dewi, dan Kaerunnawawi, tetapi juga mengukir sebuah memori manis yang akan selalu menghangatkan hubungan keluarga mereka.
Menjaga Mahakarya Sang Pencipta: Catatan Syukur dan Komitmen Hijau Warga Alltrek di Pancawati

Komunitas Alltrek di Kebon Jati Pancawati (Bogor)
BOGOR-INFOPLUS9.COM – Riuh rendah perkotaan seketika senyap, digantikan oleh bisikan angin yang menyelinap di antara rimbunnya pepohonan. Di bawah langit Kebun Jati Pancawati yang teduh, sekelompok pencinta alam yang menamakan diri sebagai “Warga Alltrek” kembali berkumpul. Bukan sekadar berkemah atau melepas penat, pertemuan kali ini menjadi sebuah momentum refleksi diri yang mendalam tentang hubungan manusia dengan alam semesta.
Acara bertajuk Camp sambil Kopi Darat (Kopdar) tipis yang digelar pada Sabtu (6/6/2026) ini dihadiri oleh puluhan anggota Komunitas Alltrek. Salah satu awak media infoplus9.com, Ade Salam, turut serta membaur di tengah hangatnya kebersamaan komunitas pengguna tenda dan perlengkapan outdoor Alltrek tersebut.
Menemukan Kedamaian dan Pelajaran dari Alam
Sejak tenda-tenda hitam khas Alltrek mulai berdiri kokoh di atas hamparan rumput hijau, suasana kekeluargaan langsung terasa kental. Namun, ada yang berbeda dari sekadar ritual kemping biasa. Di tengah obrolan santai dan seduhan kopi, alam seolah sedang membentangkan ruang kelasnya yang paling megah.
Bagi Warga Alltrek, setiap jengkal tanah, hembusan angin segar, dan pemandangan hijau di Pancawati adalah pengingat visual akan keagungan ciptaan Tuhan. Keindahan ini memicu kesadaran kolektif: bahwa alam tidak hanya untuk dinikmati, tetapi titipan yang harus dijaga. Ada rasa syukur yang membuncah sekaligus kekhawatiran jika kemolekan bumi ini perlahan sirna akibat tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.
”Berada di sini, melihat langsung betapa sempurnanya ciptaan Tuhan, membuat kita sadar betapa kecilnya kita. Rasa syukur ini harus kita wujudkan dalam aksi nyata. Kita tidak boleh membiarkan keserakahan dan tangan-tangan jahil merusak keindahan yang tersisa ini,” ujar Ade Salam di sela-sela kegiatan.
Lebih dari Sekadar Komunitas: Misi di Balik Berdirinya Alltrek
Komunitas Warga Alltrek dibentuk bukan tanpa arah. Di balik keseruan agenda tahunan seperti Kampung Terbuka maupun Camp Meet regional, ada fondasi kuat yang menjadi tujuan utama berdirinya komunitas ini, antara lain:
- Wadah Edukasi dan Berbagi Pengalaman: Menjadi ruang belajar bersama mengenai manajemen perjalanan alam bebas, penggunaan alat yang aman, hingga edukasi safety hunting dan survival.
- Kampanye Leave No Trace (Tanpa Jejak): Menanamkan kesadaran lingkungan yang tinggi kepada setiap anggota agar selalu menjaga kebersihan tempat berkemah dan meminimalisir dampak kerusakan lingkungan.
- Penyebar Semangat Positif Outdoor: Mengajak lebih banyak masyarakat untuk kembali ke alam dengan cara yang bertanggung jawab dan menghormati kelestarian lingkungan.
- Merajut Silaturahmi Tanpa Batas: Mempererat persaudaraan antar-pengguna produk Alltrek, pencinta glamping, dan pegiat alam dari berbagai latar belakang.
Tradisi Potluck dan Komitmen Hijau
Seperti biasa, kehangatan khas Warga Alltrek selalu diwarnai dengan sesi potluck—di mana setiap anggota membawa makanan untuk dimasak dan disantap bersama. Di atas tikar yang sama, sekat-sekat pemisah hilang, digantikan oleh tawa dan cerita.

Suasana Kebun Jati Pancawati
Melalui kegiatan ini, Komunitas Alltrek ingin mengirimkan pesan kuat kepada dunia luar: menikmati alam harus sejalan dengan merawatnya. Jangan sampai warisan hijau ini hilang dan hanya menjadi cerita pengantar tidur bagi generasi masa depan.
Kopdar tipis di Kebun Jati Pancawati ini pun ditutup dengan komitmen bersama untuk tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga keasrian setiap jengkal tanah yang mereka singgahi. Karena bagi Warga Alltrek, menjaga alam adalah cara terbaik untuk merawat rasa syukur kepada Sang Pencipta.
(Ade Salam: laporan Redaksi edisi Akhir Pekan)
Read More