Skip to content
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
-
  • Wisata
  • TNI
  • Budaya
  • Polri
  • Nasional
  • Pedoman Media Siber
  • Lokal Daerah
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Budaya
  • Gaya Hidup
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Sport
  • Wisata
  • TNI
  • Budaya
  • Polri
  • Nasional
  • Pedoman Media Siber
  • Lokal Daerah
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Budaya
  • Gaya Hidup
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Sport
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
  • Wisata
  • TNI
  • Budaya
  • Polri
  • Nasional
  • Pedoman Media Siber
  • Lokal Daerah
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Budaya
  • Gaya Hidup
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Sport
  • Wisata
  • TNI
  • Budaya
  • Polri
  • Nasional
  • Pedoman Media Siber
  • Lokal Daerah
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Budaya
  • Gaya Hidup
  • Kriminal
  • Politik
  • Ekonomi
  • Sport
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Budaya/Sejarah Nama Pandeglang, Di Masa Sultan Hasanuddin Al Bantani
Budaya

Sejarah Nama Pandeglang, Di Masa Sultan Hasanuddin Al Bantani

By Jumadil Qubro
Juli 11, 2026 2 Min Read
0

SEJARAH PANDEGLANG
Konon di Kaki Gunung Karang terdapat sepasang suami istri yang memiliki kesaktian yang luar biasa, Kedua orang tersebut adalah Ki Jagur dan Nyi Amuk, saking saktinya kedua orang ini, sehingga menarik perhatian Sultan Hasanudin yang saat itu menjabat sebagai Sultan Banten untuk meng-Islamkan mereka.
Akhir nya kedua orang tersebut menyingkir dan kabur ke daerah Pantai Carita sekarang” ujarnya.
Tahun berganti tahun, akhirnya kekuasaan Kesultanan Banten pun semakin terjaga.
Saat Banten akan diserang oleh Belanda, tiba-tiba dari arah Barat Kesultanan Banten terdengar dentuman keras yang berbunyi secara terus menerus. Sultan yang saat itu mendengar suara tersebut awalnya mengira Belanda telah memulai serangannya. Tapi berdasarkan keterangan penasehat-penasehatnya, mereka mengatakan bahwa Belanda tidak akan mungkin menyerang Kesultanan Banten dari Pantai Carita, ini terlalu jauh ujarnya.
Akhirnya Sultan Hasanudin & beberapa orang kepercayaannya pergi untuk melihat suara apakah itu. Maka berangkatlah mereka kearah Carita, ketika sampai ditempat itu, rombongan terkaget-kaget karena suara yang menghasilkan suara dentuman yang sangat keras ini, ternyata berasal dari sebuah benda.
Mereka tidak dapat menjelaskan benda apakah itu, Sultan Hasanudin & rombongan lalu membawa kedua benda tersebut.
Ada kisah unik saat Sang Sultan dan rombongan meninggakan tempat itu, diperjalanan mereka sering berhenti ditengah perjalanan untuk istirahat, anehnya saat rombongan istirahat semua pohon durian ( kadu ) yang berada disekitar tempat tersebut tiba-tiba mendadak mati, sekarang daerah tersebut dinamakan Kadu Paeh (paeh=mati). Perjalanan dilanjutkan dan saat rombongan istirahat lagi, kejadian terulang lagi, kali ini pohon tumbang dengan tiba-tiba, tempat tersebut sekarang disebut orang dengan Kadu Bungbang (Bungbang=tumbang).

Akhirnya diketahuilah bahwa sebenarnya kedua barang itu adalah merupakan penjelmaan dari Ki Jagur dan Nyi Amuk. Setelah berkomunikasi secara gaib, ,
maka diketahuilah bahwa Ki Jagur akan rela dibawa ke kesultanan Banten jika Hasanudin memberikan sebuah gelang untuk istrinya Nyi Amuk.
Maka disepakatilah bahwa Sultan akan memberikan gelang tersebut sesaat setelah sampai di Keraton Kesultanan Banten.

Setibanya di Keraton Kesultanan Banten, Sultan Hasanudin menugaskan seorang pandai besi ( Pande ) yang bernama Raden Papak Singa Jaya Gumelar untuk membuat gelang itu.
Raden Papak pun menyanggupi perintah ini,
Ia sanggup melaksanakan tugas yang diberikan Sultan.
Kemudian setelah bahan tersebut dibakar, Raden Papak mencoba untuk mulai memukul-mukulnya, layaknya seorang pande. Bahan yang telah dibakar tersebut diletakan pada sebuah batu, untuk dibentuk menjadi sebuah gelang, karena kekuatan bahan gelang tersebut, batu itu tidak dapat menahannya, oleh karena itu sampai sekarang batu tempat meletakan bahan gelang itu oleh masyarakat disebut dengan Batu Belah.

Raden Papak akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya, gelang yang telah ia buat lalu di serahkan kepada Sultan.
Atas jasanya Sultan Hasanudin akhirnya mengangkat Raden Papak sebagai penasehatnya. Dan tempat dimana ia membuat gelang tersebut sekarang dikenal dengan nama “Pandeglang” yang berasal dari dua suku kata “Pande dan Gelang”.

Sekarang Meriam Ki Jagur Berada di Musium Kepurbakalaan “Banten Lama” Kota Serang,
sementara Meriam Nyi Amuk di bawa ke Balai Kota Batavia Oleh Tentara Belanda di masa penjajahan,
Sekarang Meriam Nyi Amuk Berada di Halaman Musium Fatahilah ( Kota Tua ), Jakarta Sekarang .

Author

Jumadil Qubro

Redaksi INFOPLUS9.COM

Follow Me
Other Articles
Previous

Syech Agung Caringin, Ulama dan Pejuang Syiar Islam di Tanah Banten

Next

Kabid Disdik Lebak Belum Berikan Tanggapan atas Konfirmasi Wartawan Terkait Guru Paruh Waktu yang Meninggal Dunia

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • FKPN Desak Kementerian Lingkungan Hidup Audit Total Reklamasi Pesisir Utara Banten dan Hentikan Perampasan Ruang Hidup Nelayan
  • RS Hermina Bitung Memberikan Pelayanan Khusus dan Kunjungan Langsung kepada Pasien Anak di Hari Anak Nasional 2026
  • Kodim 0510/Trs Resmikan Jembatan Penghubung Armco
  • Hari Bhakti Adhyaksa ke-66, Kapolresta Tangerang: Sinergi Polri-Kejaksaan Kunci Tegaknya Hukum Berkeadilan
  • Internalisasi Polantas KARIB, Rakernis Polda Kalsel 2026 Hadirkan Motivator Nasional

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

You May Have Missed

Lokal Daerah

SPPG Insan Mandiri Jiput, Jiput 02 Yayasan Insan Fastabiqul khairat Gandeng Puskesmas Edukasi Gizi Penerima MBG di Pandeglang

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Mei 24, 2026
Sport

Warga Desa Cikupa Gelar Nobar Akbar Final Piala Dunia 2026, Pererat Silaturahmi Masyarakat

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Juli 19, 2026
Politik

Respons Ganjar Pranowo Terkait Tudingan Keterlibatan Timses dalam Aksi Eks Ketua BEM UGM Tiyo

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Juni 17, 2026
Polri

Proses Hukum Kasus Penganiayaan di Polsek Pagedangan Dinilai Lamban, Korban Pertanyakan Profesionalisme Penyidik

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Juli 7, 2026
Berita Daerah

Dukung Percepatan Sertipikasi Tanah Wakaf dan Tempat Ibadah, Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang Gelar Rapat Koordinasi Lintas Instansi

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
April 22, 2026
Gaya Hidup

Salurkan Hobi Akhir Pekan, Hendi Kumis “Sang Jurnalis” Kampanyekan Keselamatan Berkendara Lewat Aksi Touring

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Juli 3, 2026
Info Publik

Bhabinkamtibmas Desa Dahu Hadiri Pelepasan Siswa dan Kenaikan Kelas MI MALNU Bangko, Wujud Dukungan Polri terhadap Pendidikan

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Juni 15, 2026
Berita Daerah

Sukses Jaga Perairan Bali, Kombes Nurodin Raih Award High Integrity

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Juli 9, 2026
Budaya

Sejarah Nama Pandeglang, Di Masa Sultan Hasanuddin Al Bantani

Jumadil Qubro
By Jumadil Qubro
Juli 11, 2026
Media Infoplus9.com adalah platform media siber yang berkomitmen menyajikan data dan peristiwa menjadi informasi aktual, tepercaya, dan mendalam. Mengusung nilai-nilai jurnalisme yang kuat, Infoplus9.com selalu mengedepankan pemberitaan yang profesional, objektif, dan berimbang (cover all sides) demi memenuhi hak masyarakat atas informasi yang akurat.
Redaksi INFOPLUS9.COM Website : www.Infoplus9.com Email : Redaksiinfoplus9@gmail.com Facebook: Infoplus9.com Telp : 0838-7432-6509 Copyright 2026 — . All rights reserved.