Masjid Cikadueun Tempo Dulu, Jejak Syech Buyut Mansyur

Masjid Cikadueun di era 1906
Pandeglang-INFOPLUS9.COM-Masjid di Cikadueun, Pandeglang tidak lepas dari jejak sejarah Syekh Maulana Mansyuruddin (Sultan Haji), putra Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus raja Kesultanan Banten ke-7 yang menyebarkan Islam di wilayah Banten Selatan pada abad ke-17.
Kawasan Cikadueun telah lama menjadi titik penting jejak Islam di Banten sebelum berdirinya Kesultanan Islam yang lebih besar. Daerah ini dinamai “Cikadueun” (berasal dari kata cai kadu atau air durian) yang berkaitan erat dengan sejarah pengobatan dan penyebaran agama oleh Syekh Maulana Mansyuruddin.
Pada masa lampau, masjid-masjid kuno di wilayah Pandeglang didominasi oleh arsitektur kayu (seperti kayu nangka) dengan atap tumpang bersusun dari bahan alami. Struktur panggung atau terbuka dengan celah penerangan alami adalah ciri khas bangunan sakral zaman dahulu.
Kompleks Cikadueun kini lebih dikenal
sebagai salah satu destinasi wisata religi. Di kawasan ini terdapat makam keramat Syekh Maulana Mansyuruddin yang terus ramai diziarahi oleh umat muslim dari berbagai daerah.
Sejarah Syech Mansyurudin
Sejarah buyut mansur atau Syekh Maulana Masyuruddin atau juga yang dikenal dengan nama sultan haji, beliau merupakan putra dari sultan agung abdul fattah tirtayasa. Makamnya yang terletak di Desa Cikaduen, kecamatan cipeucang, kabupaten pandeglang Banten. Syekh Maulana Masyruddin atau juga dikenal sebagai Ki Mansyur yang juga cakap dalam ilmu pertanian serta komunikasi, dan ditugaskan untuk menjaga bidang Islam di banten.

Makam Syech Buyut Mansyur di Tahun 1906
Menurut cerita sejarah pada abad ke 15 Syekh Maulana Masyruddin diangkat menjadi sultan banten yang ke-7, kira-kira selama 2 tahun menjabat menjadi sultan banten dan kemudian dia berangkat ke bagdad iraq untuk membangun negara banten ditanah iraq, sehingga pemerintahan kesultanan pada saat itu untuk sementara diserahkan kepada keturunan yang bernama pangeran adipati ishaq atau sultan abdul fadhli.
Read MorePengemis Tua Miskin itu ternyata Sultan Banten terakhir

Benda peninggalan kesultanan banten
Banten-INFOPLUS9.COM-Kisah Tragis Sultan Banten Terakhir: Dari Penguasa Menjadi Pengemis
Menjelang akhir tahun 1899, sebuah kabar duka berhembus dari Surabaya mengenai wafatnya seorang lelaki tua renta di tempat pengasingan. Media-media berbahasa Belanda kala itu memperkirakan usianya telah melewati satu abad. Baru sebulan kemudian, sebuah fakta mengejutkan terungkap ke publik: pria sepuh yang hidup merana tersebut tidak lain adalah Sultan Banten terakhir.
Sultan Maulana Mohammad Shafiuddin (1801–1899) dipaksa angkat kaki dari tanah kelahirannya dan diasingkan oleh kompeni ke Surabaya pada tahun 1832. Jauh sebelum itu, tepatnya tahun 1808, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels telah lebih dulu membubarkan kedaulatan Kesultanan Banten.
Ketika Inggris mengambil alih Nusantara (1811–1815), Sir Thomas Stamford Raffles mendesak Sultan untuk menyerahkan takhtanya secara total akibat perlawanan sengit dari keluarga istana. Menurut catatan sejarawan Caroline Drieenhuizen di laman javapost nl, kehancuran Banten saat itu begitu masif. Begitu hancurnya hingga sejarawan Martijn Eickhoff dan Marieke Bloembergen menjulukinya sebagai “Kartago Modern”.
Garis Keturunan yang Dimiskinkan
Sebagai ganti rugi atas penyitaan seluruh kekayaan kekaisaran, pemerintah kolonial sebenarnya menjanjikan tunjangan bulanan bagi Sultan Shafiuddin dan para putranya. Namun, bagi generasi penerus mereka, dana kompensasi tersebut jauh dari kata cukup.
Tepat sepuluh tahun pasca-wafatnya Sultan, pada pertengahan Agustus 1909, kepolisian Surabaya mengamankan sepasang suami-istri yang kedapatan mengemis di jalanan. Setelah diinterogasi, betapa terkejutnya aparat mendapati bahwa pria pengemis tersebut adalah putra kandung dari sang Sultan Banten.
Peristiwa tragis ini memicu sindiran dari media Belanda yang mempertanyakan bagaimana bisa seorang keturunan raja jatuh miskin di bawah naungan Hindia Belanda. Kendati demikian, opini publik Eropa justru berbalik mengecam pemerintah kolonial sebagai dalang utama di balik kemelaratan keluarga kerajaan tersebut.
Penjarahan dan Pembantaian Warisan Budaya
Kejatuhan Sultan Banten tidak terlepas dari kesewenang-wenangan pejabat kolonial yang merampas seluruh aset kesultanan pada tahun 1833. Harta benda pusaka tersebut diangkut ke Gudang Sipil Negara dan dipilah-pilah tanpa memedulikan nilai historisnya.
Dokumen & Surat Resmi: Dialihkan ke Sekretariat Jenderal Departemen Dalam Negeri.
Benda Sakral & Simbol Kekuasaan: Barang-barang ikonik seperti mahkota, permata, rebab, gamelan, hingga kotak sirih berhias lukisan pengembara Cornelis de Bruijn, dihibahkan ke Museum Masyarakat Batavia (Bataviaasch Genootschap).
Pusaka yang Tercecer: Residen Banten, F.H. Smulders, hanya mendapatkan sisa-sisa gamelan yang sudah tidak lengkap beserta beberapa manuskrip kuno.
Dijual Murah & Dimusnahkan: Aset yang dianggap tidak bernilai—seperti singgasana, jubah keagamaan, arca, dan panji-panji kerajaan—dilego di pasar loak dengan harga murah atau langsung dibakar. Senjata-senjata berbahan logam dibuang ke laut, sedangkan perhiasan emas dan perak dilebur ulang.
Dua warga Eropa non-Belanda, Fritze dan Visscher, sempat menyelamatkan beberapa artefak penting karena mereka tahu benda-benda tersebut adalah pusaka tak ternilai yang menyimpan memori kolektif leluhur Banten.
Ketakutan Belanda Akan Kebangkitan Banten
Sebagian aset seperti keris dan perhiasan dilelang oleh Belanda untuk menutup utang-utang peninggalan Daendels atau diinvestasikan dalam bentuk obligasi. Walau Sultan dijanjikan bunga tahunan sebesar sembilan persen, tidak ada catatan pasti apakah uang tersebut benar-benar sampai ke tangan keluarga Sultan di Surabaya.
Selama satu abad, kurator Museum Masyarakat Batavia gencar memburu sisa-sisa pusaka yang masih disimpan oleh keturunan Sultan yang telah dimiskinkan. Alasan utamanya adalah politis: Belanda takut benda-benda keramat tersebut digunakan oleh trah kesultanan yang selamat untuk melegitimasi diri dan mengobarkan pemberontakan kembali.
Perburuan ini memaksa tokoh-tokoh seperti Bupati Serang Raden Adipati Tjondronegoro dan istrinya, Ratu Siti Aminah, menyerahkan tempat tidur berlapis cermin dan kotak naskah milik Sultan pada tahun 1865. Perburuan resmi berakhir pada tahun 1906, walau museum masih menerima pasokan senjata pusaka khas Banten hingga tahun 1928 dari warisan kolektor Eropa, J.W. van Dapperen. (Red)
Read MoreMenuju Puncak Hunter Festival 2026: Agenda “Silatuhreggae” Jadi Ruang Penyatuan Visi dan Energi Kolektif

TANGERANG- INFOPLUS9.COM-Menjelang perhelatan akbar musik reggae nasional, Hunter Festival 2026 mulai mematangkan berbagai persiapan strategis. Salah satu langkah krusial yang diambil adalah menggelar agenda bertajuk “Silatuhreggae”, sebuah forum silaturahmi sekaligus koordinasi lintas elemen yang akan berlangsung pada Selasa, 24 Maret 2026, di Cafe Hunter, Samanea Alam Sutra, Kedaton Cikupa.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Divisi Talent Hunter Festival 2026 sebagai ruang temu antara musisi, vendor, event organizer (EO), komunitas, hingga media. Mengusung semangat “We Are Hunter, We Are Brother”, acara ini tidak hanya berfungsi sebagai technical meeting, tetapi juga sebagai momentum memperkuat ikatan emosional antar pelaku yang terlibat.
*Visi Kreatif dan Skala Besar*
Sebagai sosok di balik layar yang merancang arah besar festival ini, Surya Abdul Fitri selaku Promotor Hunter Festival 2026, menjelaskan bahwa konsep kreatif tahun ini dirancang untuk melampaui sekadar pertunjukan musik biasa.
”Hunter Festival 2026 bukan hanya panggung hiburan, melainkan sebuah ekosistem budaya. Secara kreatif, kami mengintegrasikan nilai-nilai persaudaraan Reggae ke dalam pengalaman audio-visual yang lebih modern dan masif. ‘Silatuhreggae’ adalah cara kami memastikan bahwa ruh dari konsep ini dipahami oleh semua pihak, sehingga pesan persatuan yang kami rancang bisa tersampaikan secara utuh kepada penonton,” ujar Surya Abdul Fitri.
*Implementasi dan Kesiapan Teknis*
Senada dengan visi tersebut, Wahyu Kreswandi selaku Project Director Hunter Festival 2026, menegaskan kesiapan tim operasional dalam mengeksekusi perencanaan besar ini di lapangan.
”Tugas kami adalah memastikan setiap detail dari visi kreatif Promotor dapat terimplementasi dengan sempurna secara teknis. ‘Silatuhreggae’ menjadi titik temu krusial untuk sinkronisasi jalur koordinasi antara talent, vendor, dan tim produksi. Kami ingin memastikan bahwa pada 25 April nanti, alur produksi berjalan tanpa celah sehingga energi musisi dan kenyamanan penonton terjaga maksimal,” tegas Wahyu Kreswandi.
*Line-up Nasional dan Dukungan Musisi*
Sejumlah nama besar dalam skena reggae Indonesia dijadwalkan tampil, di antaranya Coconuttreez, Momonon, Dhyo Haw, Sejedewe, High Therapy, hingga Republik 21. Kehadiran mereka diyakini akan memperkuat posisi Hunter Festival sebagai salah satu event reggae terbesar di tanah air.
Vokalis Republik 21, Ari, turut menekankan pentingnya agenda ini. “Silatuhreggae bukan cuma soal teknis panggung, tapi soal menjaga marwah persaudaraan. Kita kunci chemistry-nya di sini supaya ledakan energinya benar-benar sampai ke penonton nanti,” ungkapnya.
*Informasi Penting Kegiatan*
Panitia mengimbau seluruh personel band, komunitas, dan rekan media untuk hadir atau mengirimkan perwakilan. Agenda ini bersifat terbatas dan diperuntukkan bagi peserta berusia 18 tahun ke atas.
Puncak acara Hunter Festival 2026 sendiri akan digelar pada 25 April 2026 di Samanea Kuliner Junction. Dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang solid, festival ini diharapkan mampu meninggalkan kesan mendalam dan menjadi tonggak sejarah baru bagi musik reggae di Indonesia.
Sebagai informasi Tentang Hunter Festival perlu diketahui bahwa Hunter Festival adalah perhelatan musik tahunan yang merayakan nilai persaudaraan, kebebasan berekspresi, dan kekuatan komunitas kreatif melalui musik reggae.
Read MorePengorbanan di Tepi Sungai Tua, Ketika Kecerdikan Bertekuk Lutut di Hadapan Ketulusan

DRAMA NARATIF
Di tengah rimba yang mulai menguning karena kemarau panjang, hiduplah Si Kancil, sang pemilik kecerdikan yang melegenda. Namun, kali ini bukan rasa lapar yang membawanya ke tepi sungai yang menderu, melainkan sebuah janji suci untuk membawakan obat bagi ibundanya yang tengah terbaring lemah.
Di hadapannya, sungai meluap dahsyat. Di bawah permukaan air yang keruh, berdiam Sang Buaya, penguasa sungai yang selama ini hanya mengenal hukum rimba: siapa yang kuat, dialah yang makan.
”Wahai Buaya,” suara Kancil bergetar, bukan karena takut, tapi karena beban di pundaknya. “Aku tidak datang untuk menipumu kali ini. Aku datang untuk menyerahkan diriku, asalkan kau izinkan aku menyeberang sekali saja untuk mengantar sari bunga ini demi nyawa ibuku.”

Tawa besar Buaya menggelegar, namun perlahan mereda saat ia melihat tetesan air mata jatuh dari pelupuk mata sang Kancil. Tak ada kelicikan di sana. Hanya ada kepasrahan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hutan itu, sang pemangsa merasakan getaran di dadanya yang keras.
”Naiklah ke punggungku,” geram Buaya rendah. Tanpa perlu memanggil kawanannya, tanpa perlu dihitung satu per satu, Buaya itu membiarkan tubuh mungil Kancil berpijak di atas kulitnya yang kasar, melawan arus sungai yang mematikan.
AKHIR CERITA YANG MENGGUGAH HATI
Sesampainya di seberang, Kancil terjatuh lemas. Ia menoleh dan melihat Buaya masih bersandar di tepian, terluka akibat hantaman batang pohon besar demi melindunginya saat menyeberang tadi.
”Kenapa kau menyelamatkanku?” tanya Kancil terisak.
Buaya menatap langit senja dengan mata yang mulai meredup, “Karena kecerdikanmu bisa menyelamatkan dirimu sendiri, tapi kasih sayangmu hari ini… telah menyelamatkan nuraniku yang sudah lama mati.”
Kancil memeluk moncong besar itu dengan penuh haru sebelum berlari membawa harapan bagi ibunya. Di tepi sungai itu, sebuah permusuhan abadi terkubur, digantikan oleh sebuah pengorbanan yang akan diceritakan oleh angin hutan selamanya.
PESAN MORAL UNTUK MANUSIA
Jangan Menilai dari Penampilan: Di balik sosok yang terlihat kasar atau menyeramkan, seringkali tersimpan benih kebaikan yang hanya akan tumbuh jika dipicu oleh rasa saling menghargai

Ketulusan Meluluhkan Kerasnya Hati: Sehebat apa pun argumen atau logika kita, hanya ketulusan hati yang mampu menyentuh sisi kemanusiaan orang lain, bahkan mereka yang kita anggap sebagai lawan.
Kecerdikan Harus Beriringan dengan Moral: Kecerdasan tanpa empati hanya akan menghasilkan tipu daya. Namun, kecerdasan yang digunakan untuk kebaikan akan menciptakan keajaiban.
Kasih Sayang adalah Bahasa Universal: Cinta kepada keluarga mampu memberikan keberanian yang luar biasa, dan pengorbanan demi orang lain adalah kasta tertinggi dari keberadaan kita sebagai makhluk sosial.
Jangan Menilai dari Penampilan: Di balik sosok yang terlihat kasar atau menyeramkan, seringkali tersimpan benih kebaikan yang hanya akan tumbuh jika dipicu oleh rasa saling menghargai
Read MoreMenelusuri Kejayaan Kesultanan Banten di Situs Bersejarah Keraton Surosowan

BANTEN–INFOPLUS9.COM – Sebagai salah satu peninggalan paling ikonik dari masa keemasan Kesultanan Banten, Keraton Surosowan terus menarik perhatian sebagai destinasi wisata religi dan sejarah yang sarat makna. Berdiri sejak abad ke-16, reruntuhan benteng dan sisa bangunan keraton ini menjadi saksi bisu kejayaan Sultan Maulana Hasanuddin hingga Sultan Ageng Tirtayasa.
Keraton Surosowan bukan sekadar bangunan tua; ia adalah simbol kedaulatan Banten pada masanya. Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 4 hektare, keraton ini memiliki ciri khas arsitektur unik yang melibatkan arsitek asal Belanda, Hendrik Lucaszoon Cardeel. Dinding benteng yang kokoh serta sisa-sisa pemandian (petirtaan) di dalamnya mencerminkan tata kota yang sangat maju di era tersebut.
Daya Tarik Utama Keraton Surosowan:
- Benteng Pertahanan: Dinding batu karang dan bata yang megah yang mengelilingi area keraton.
- Kolam Pemandian: Sisa-sisa kolam bersejarah, seperti Kolam Roro Denok, yang menjadi tempat pemandian keluarga kesultanan.
- Nilai Edukasi & Sejarah: Menjadi laboratorium terbuka bagi pelajar, peneliti, dan wisatawan yang ingin mendalami sejarah Islam di Nusantara.
Saat ini, Keraton Surosowan tetap menjadi bagian integral dari kawasan Wisata Budaya Banten Lama. Wisatawan tidak hanya berkunjung untuk melihat puing-puing bersejarah, tetapi juga merasakan atmosfer spiritualitas yang kuat karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Banten.
”Melestarikan Keraton Surosowan adalah upaya menjaga identitas bangsa. Melalui peninggalan ini, kita belajar tentang ketangguhan dan peradaban luhur yang pernah dimiliki Banten di mata dunia,” ujar [Nama Perwakilan/Narasumber].
Diharapkan dengan terus dilakukannya penataan dan promosi oleh pemerintah daerah serta dukungan media, Keraton Surosowan akan terus menjadi magnet pariwisata yang mendunia bagi para pecinta sejarah.

Tentang Keraton Surosowan:
Keraton Surosowan adalah pusat pemerintahan Kesultanan Banten pada masanya. Meskipun saat ini hanya menyisakan reruntuhan akibat penghancuran oleh pihak kolonial di masa lalu, situs ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya yang dilindungi dan menjadi destinasi utama di Kawasan Banten Lama
share:
Read MoreCraft Amazing Blogs That Hook Readers
Discover the joys of sharing your passions, stories, and experiences with the world through a beautifully designed personal blog.
Blogging has become a powerful way for people from all walks of life to express themselves, build communities, and even grow a sustainable business. Whether you are a hobbyist, a professional, or just someone with stories to tell, starting a personal blog gives you a platform to connect deeply with like-minded individuals. In today’s digital world, your voice can travel farther than you think.
Why We Miss the Small Things
In today’s fast-paced world, it’s easy to get caught up in deadlines, routines, and never-ending to-do lists. We scroll endlessly, chase goals, and forget to pause. But when we stop and notice the small things—a song playing softly in a café, or the pattern of raindrops on a window—we reconnect with the present moment.
Capturing Everyday Beauty

Photography is one of the best ways to capture fleeting everyday beauty. Even a walk through a quiet street can reveal colors, patterns, and perspectives worth remembering. The trick is not to wait for something extraordinary, but to find meaning in the ordinary.
A Gallery of Little Joys






Each picture tells a story. A warm drink, a good read, or the glow of a city after sunset—these are the tiny details that make life rich.
Words That Inspire
“Enjoy the little things in life, for one day you may look back and realize they were the big things.”
This simple truth reminds us that happiness is not found in grand events but in daily appreciation.
Video Inspiration (Image+Link)
Sometimes, watching a short video is enough to spark reflection and gratitude. Here’s one worth pausing for:

Video Inspiration (YouTube Embed)
Sometimes, watching a short video is enough to spark reflection and gratitude. Here’s one worth pausing for:
Video Inspiration (Vimeo Embed)
Sometimes, watching a short video is enough to spark reflection and gratitude. Here’s one worth pausing for:
Small Daily Practices
- Take five minutes to notice your surroundings
- Write down one thing you’re grateful for each night
- Pause during your coffee break without checking your phone
Why It Matters
- Take five minutes to notice your surroundings
- Write down one thing you’re grateful for each night
- Take five minutes to notice your surroundings
- Write down one thing you’re grateful for each night
- Pause during your coffee break without checking your phone
- Pause during your coffee break without checking your phone
Mindful routines give structure to our days while teaching us to notice the beauty we often miss. Over time, this habit shifts how we see the world—not as a list of tasks but as a collection of meaningful moments.
Ready to Begin?
Start your own personal blog today and share your unique story with the world. Create Your Blog Now
Thank you for stopping by this demo post! This content mixes images, quotes, videos, lists, headings, and engaging text to demonstrate the versatility and beauty of your personal blog theme. Your clients can imagine their stories brought to life in this format.
Read More