MENYALAKAN KEMBALI DIAN YANG PADAM: Ketika Pancasila Tergilas Gadget dan Runtuhnya Adat Nusantara

Oleh: Jumadil Qubro (Redaksi)
Satu Juni kembali menyapa. Di layar-layar smartphone yang menyala di genggaman setiap anak, orang tua, hingga para elite politik, ucapan “Selamat Hari Lahir Pancasila” berseliweran begitu masif. Gambar Garuda emas dipajang megah, lengkap dengan pita Merah Putih yang berkibar digital. Namun, di balik riuhnya perayaan serba gadget hari ini, ada sebuah tanya yang menyergap dada, terasa ngilu, dan menyayat hati: Di manakah Pancasila yang sesungguhnya kini berada? Apakah ia masih tumbuh di lubuk hati kita, ataukah telah menjelma sekadar artefak masa lalu yang lapuk digilas zaman?
Dahulu, Pancasila bukan sekadar hafalan di buku-buku saku. Ia hidup. Ia bernyawa dalam senyum ramah tetangga, dalam keringat yang luruh bersama saat gotong royong membangun desa, dan dalam keteguhan adat ketimuran yang diwariskan leluhur Nusantara. Indonesia dikenal dunia karena budi pekertinya yang luhur, sebuah bangsa yang menempatkan kemanusiaan yang adil dan beradab di atas segalanya.
Namun hari ini, tataplah realitas di sekeliling kita. Fondasi kehidupan berbangsa kita terasa begitu rapuh, retak mendalam hingga ke akar-akarnya.
Saat jemari anak-anak hingga orang dewasa sibuk berselancar di dunia maya, kita justru kerap disuguhi potret pilu yang mengoyak nalar sehat. Di mana nilai kemanusiaan itu ketika kita membaca berita tentang anak-anak yang dianiaya, bahkan dicabuli oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung mereka? Sungguh ironis dan biadab, ketika fisik suci anak-anak tanpa dosa harus hancur oleh pukulan membabat dari orang dewasa.
Dunia pendidikan yang dahulu menjadi kawah candradimuka moral bangsa, kini berubah menjadi panggung sandiwara yang mengerikan. Ada pelajar yang tega mengeroyok gurunya sendiri tanpa rasa hormat sedikit pun. Sebaliknya, ada pula orang tua yang dengan ringannya melaporkan seorang guru ke ranah hukum hanya karena anaknya dijewer—sebuah tindakan pendisiplinan kecil yang di masa lalu dianggap sebagai wujud kasih sayang seorang pendidik. Lebih menyayat hati lagi, ketika ruang-ruang sakral pendidikan dinodai oleh pimpinan lembaga yang melakukan tindakan asusila. Institusi yang memahat moral, justru runtuh oleh moralitas pemimpinnya sendiri.
Lalu, bagaimana dengan mereka yang berada di atas sana? Para elite politik dan praktisi profesional yang kerap berpidato lantang tentang keadilan sosial. Di balik meja-meja mewah dan dasi yang rapi, gurita korupsi masih terus menggerogoti hak-hak rakyat kecil. Uang negara yang seharusnya mengalir untuk kesejahteraan masyarakat, justru menguap demi memuaskan syahwat keserakahan pribadi.
Melihat rentetan tragedi moral ini, tidak berlebihan jika kita bertanya dengan nada getir: Apakah nilai-nilai Pancasila kita sudah runtuh?
Pancasila telah kehilangan ruhnya sebagai falsafah hidup berbangsa. Ia telah diusir dari ruang-ruang batin kita, digantikan oleh individualisme akut, egoisme, dan ketidakpedulian yang dipupuk oleh layar-layar digital. Kita menjadi bangsa yang gagap—ramah di media sosial dengan simbol-simbol nasionalisme, namun beringas dan kehilangan empati di kehidupan nyata. Warisan luhur nenek moyang tentang keramahtamahan dan saling menjaga kini tampak seperti dongeng pengantar tidur yang mulai dilupakan.
Apa yang mesti kita lakukan?
Menyelamatkan Pancasila tidak bisa lagi dilakukan hanya dengan upacara seremonial atau membuat infografis estetik di media sosial. Kita harus berani mengetuk pintu hati masing-masing untuk sebuah refleksi total.
- Bagi Orang Tua: Kembalikan sentuhan kasih sayang nyata di rumah. Rebut kembali perhatian anak-anak dari ketergantungan gadget. Ajarkan mereka arti memanusiakan manusia sejak dini, bukan sekadar membiarkan mereka dibesarkan oleh algoritma internet.
- Bagi Dunia Pendidikan: Kembalikan marwah sekolah sebagai tempat pembentukan karakter dan akhlak, di mana rasa hormat antara murid dan guru menjadi pilar utama yang tidak boleh diganggu gugat oleh intervensi yang salah kaprah.
- Bagi Para Elite dan Profesional: Pancasila menuntut pertanggungjawaban moral yang besar. Kekuasaan dan jabatan bukanlah alat pemuas keserakahan, melainkan amanah suci untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Hari Pancasila 1 Juni 2026 ini harus menjadi momen krusial untuk merenung. Mari kita bangun kembali fondasi yang rapuh ini sebelum semuanya benar-benar hancur lebur. Jangan biarkan keramahan Nusantara runtuh berganti kebiadaban. Hidupkan kembali Pancasila, bukan hanya di kepala, tapi mengalir dalam detak jantung dan perilaku nyata kita sehari-hari.
Jika tidak dimulai dari sekarang, kepada siapa lagi kita akan menitipkan masa depan bangsa ini?