🧑🏫 Jumadil Qubro

Editorial Redaksi—INF⭕PLUS9.COM-Dalam wiracarita Ramayana, batas antara kebaikan dan kejahatan sering kali begitu tipis ketika penyamaran dimulai. Rahwana tidak selalu datang menyerang dengan wajah raksasa yang menakutkan; kerap kali ia hadir dengan wujud resi yang santun, tutur kata yang memikat, dan jubah keagungan yang menyilaukan. Kita, masyarakat yang terbiasa haus akan kepemimpinan yang adil, sering kali tergesa-gesa menyematkan mahkota Sri Rama kepada siapa saja yang berani tampil santun di panggung depan.
Namun, sejarah berulang kali memberi pelajaran pahit: apa pun bentuk bungkus luarnya, jika isinya cokelat, ia tetaplah cokelat. Sebuah bungkus mewah tak akan mengubah rasa manisnya, sebagaimana bungkus emas tak akan pernah bisa mengubah watak dasar suatu zat.
Panggung Pujian dan Euforia yang Berulang
Situasi ini tecermin jelas dalam sambutan publik terhadap penunjukan dan langkah-langkah awal Kapolri baru di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Puji-pujian bertubi-tubi dialirkan. Media dan ruang publik bergemuruh mengagumi janji-janji reformasi, ketegasan yang dibungkus kerendahan hati, serta narasi keteladanan yang seolah menjadi penawar dari dahaganya rasa justice bagi rakyat kecil.
Namun, mari kita sejenak menengok ke belakang dan bersikap jujur pada nurani kita sendiri. Bukankah euforia pahlawan super (superhero) semacam ini sudah berulang kali terjadi?
Di awal babak baru pemerintahan, publik selalu disajikan figur-figur yang tampak seperti penyelamat dari langit. Mereka datang dengan retorika pembenahan, gebrakan simbolis, dan penampilan bertopengkan dewa. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, ketika sorot kamera meredup dan sorotan publik mengendur, peristiwa demi peristiwa serupa terus berulang. Tokoh yang tadinya dipuja-puji sebagai sosok pembawa perubahan perlahan-lahan terserap, melunak, dan akhirnya terjebak dalam mesin sistem yang sama.
Jebakan Sistemik dan Kerinduan Rakyat
Masalah mendasar bangsa ini kerap kali bukan sekadar pada siapa figur yang menduduki kursi pimpinan, melainkan pada kebiasaan kita menyembah bungkus luar tanpa menguji daya tahan isinya terhadap godaan kekuasaan. Sebuah lembaga hukum tidak bisa dibenahi hanya dengan mengganti wajah di puncaknya jika struktur, budaya komando, dan vested interest di dalamnya masih dibiarkan membusuk.
Ketika seorang pimpinan baru dipuja bagai Sri Rama, kita sering kali lupa bertanya:
- Apakah ia benar-benar hadir untuk menumbangkan kesewenang-wenangan?
- Atau ia hanya seorang Rahwana yang cukup cerdik mengenakan topeng dewa demi mengamankan kepentingannya di dalam panggung kekuasaan?
Masyarakat kini berada pada titik jenuh yang memprihatinkan—sebuah rasa lelah yang amat sangat karena berulang kali menaruh harapan tinggi, namun berakhir pada kekecewaan yang sama. Kita tidak lagi membutuhkan adegan teater politik atau narasi superhero yang manis di awal. Yang dibutuhkan rakyat kecil saat ini adalah keadilan yang bekerja tanpa pandang bulu, bukan janji-janji manis yang dibungkus rapi.

