Gemuruh Mesin dan Kabut Citorek: Catatan Perjalanan Akhir Pekan Sang Jurnalis Petualang

Menjemput Kebebasan di Jalur Aspal
Bagi Hendi Kumis, aspal jalanan adalah ruang redaksi kedua, dan deru mesin sepeda motor adalah musik yang paling akrab di telinga. Di kalangan rekan sejawatnya di Infoplus.com, ia dikenal bukan hanya tajam dalam memegang pena, tetapi juga tangguh di atas roda dua. Menjelajah alam raya bukan sekadar hobi baginya; itu adalah cara merawat kewarasan di tengah kepungan tenggat waktu berita.
Memanfaatkan momen libur panjang akhir pekan (long weekend) yang membentang sejak Jumat sore hingga Senin di penghujung Mei 2026, Bang Hendi bersama komunitas motornya, “Beuki Touring Cikupa”, memutuskan untuk memacu adrenalin menuju salah satu destinasi paling eksotik di tanah Banten: Citorek, sang Negeri di Atas Awan.

Perjalanan dimulai saat matahari Jumat sore mulai condong ke barat. Deru mesin motor dari anak-anak Beuki Touring Cikupa yang saling bersahutan seolah menjadi genderang perang penanda petualangan dimulai. Meninggalkan hiruk-pikuk rutinitas kerja, rombongan bergerak membelah jalanan, memacu kuda besi mereka menuju perbukitan Kabupaten Lebak.
Menerjang Tantangan, Memacu Adrenalin
Perjalanan menuju Citorek bukanlah perkara mudah. Selepas memasuki wilayah pedalaman, trek lurus berganti menjadi kelokan tajam yang menanjak tiada habisnya. Jalanan yang bergelombang, tikungan tusuk konde, serta jurang yang menganga di sisi jalur menjadi menu wajib yang harus disantap oleh tim Beuki Touring Cikupa.

Adrenalin Bang Hendi dan kawan-kawan dipacu hingga batas maksimal. Fokus harus tetap penuh; salah sedikit antisipasi, taruhannya adalah aspal. Di beberapa titik, mesin-mesin motor dipaksa bekerja keras, meraung membelah kesunyian hutan dan bukit yang mulai menjulang. Suka dan duka bercampur baur selama perjalanan—mulai dari bokong yang panas, otot yang tegang, hingga tantangan fisik menembus angin malam yang mulai menusuk tulang.

Namun, bagi seorang jurnalis petualang dan anggota komunitas motor, justru di situlah letak kenikmatannya. Tantangan medan adalah bumbu yang membuat sebuah perjalanan bernilai untuk diceritakan.
Suka Duka Sirna di Ufuk Barat
”Segala lelah, penat, dan ketegangan di jalan seolah menguap tanpa sisa saat roda-roda motor Beuki Touring Cikupa menyentuh bumi Citorek tepat ketika matahari mulai tenggelam di ufuk barat.”
Langit jingga merona, perlahan meredup digantikan oleh selimut malam. Alam raya mulai gelap, dan saat itulah magis Citorek bekerja. Kabut tebal mulai turun perlahan, mendekap perbukitan dan menyelimuti rombongan Bang Hendi. Suasana berubah drastis menjadi sunyi, damai, dan penuh kedamaian. Dinginnya udara malam itu justru menambah eksotisme alam ciptaan Tuhan yang begitu megah. Di sinilah, di balik kabut tebal, rasa lelah berganti dengan rasa syukur yang mendalam.
Rombongan Beuki Touring Cikupa memutuskan untuk mendirikan tenda, menikmati malam panjang di bawah atap langit Citorek, bertukar cerita diiringi secangkir kopi hangat yang melarutkan sisa-sisa dinginnya malam.
Sapaan Hangat Sang Negeri di Atas Awan
Puncak dari segala petualangan ini terjadi keesokan paginya. Ketika fajar menyingsing, alam seakan membuka tirainya khusus untuk menyambut kedatangan rombongan Bang Hendi Kumis dan keluarga besar Beuki Touring Cikupa.

Matahari terbit (sunrise) muncul dengan kehangatan yang luar biasa, menyinari hamparan awan putih murni yang bergulung-gulung di bawah kaki mereka. Berdiri di ketinggian Citorek, Bang Hendi merasa seolah-olah sedang berdiri di atas khayangan. Lautan awan yang maha luas membentang sejauh mata memandang, menyapa hangat para petualang asal Cikupa yang telah bersusah payah menaklukkan jalanan.
Bagi Bang Hendi, perjalanan kali ini kembali menegaskan jati dirinya: seorang jurnalis yang tidak hanya merekam peristiwa melalui kata-kata, tetapi juga seorang manusia yang merayakan hidup dan kebersamaan komunitas melalui indahnya petualangan alam raya. Citorek telah membayar lunas setiap jengkal aspal yang mereka lalui dengan sejuta pesona yang takkan terlupakan.