JERIT SEORANG IBU: Kisah Siska, Terjebak Malam Kelam Tangerang Demi Setetes Susu Anak di Malingping

KISAH KEHIDUPAN – Air mata Siska (bukan nama sebenarnya) seolah sudah habis dikuras oleh takdir. Di usianya yang masih sangat muda, wanita asal pelosok Kecamatan Malingping, Kabupaten Pandeglang ini harus menelan pil pahit kehidupan yang begitu menyayat hati. Pernikahan yang diimpikannya menjadi pelabuhan bahagia—yang usianya baru seumur jagung—hancur berkeping-keping justru di saat ia baru saja mencicipi indahnya menjadi seorang ibu.
Ujian hebat itu datang tanpa permisi. Ketika sang buah hati, darah dagingnya yang tak berdosa, baru menginjak usia 6 bulan, biduk rumah tangga Siska dihantam badai besar. Sang suami tega melangkah pergi, berpaling memeluk wanita lain, dan meninggalkan Siska tanpa sepatah kata pun.
Berbulan-bulan dalam ketidakpastian, jawaban yang dinanti akhirnya datang dengan cara yang paling kejam. Bukan kepulangan sang suami yang ia dapati, melainkan ketukan pintu dari seorang petugas kantor pos desa yang mengantarkan selembar surat talaq. Dunianya runtuh seketika. Di tengah tangis bayinya yang kehausan, Siska termangu memandangi kertas yang merenggut seluruh sisa harapannya.
Setitik Harapan di Tengah Kebingungan
Pekan-pekan setelahnya adalah neraka jahanam bagi batin Siska. Bingung, hancur, dan tak tahu harus melangkah ke mana. Di tengah keputusasaan itu, datanglah Mella (25), teman sekampungnya yang dalam pandangan orang-orang desa telah memetik kesuksesan di perantauan.
Melihat keterpurukan kawan lamanya, Mella mengulurkan tangan. Ia mengajak Siska mengadu nasib ke Kota Tangerang. Harapan baru membuncah di dada Siska, meski saat itu Mella tak pernah menjabarkan secara rinci apa pekerjaan yang dilakoninya.
Selama satu bulan menumpang di kamar kontrakan yang disewa Mella, perlahan tabir misteri itu terbuka. Siska mulai menyadari ada yang tak biasa dengan ritme hidup temannya. Mella selalu berangkat saat matahari telah tenggelam, sekitar pukul 20.00 WIB, dan baru kembali ketika semburat fajar menyingsing—seringkali dalam kondisi limbung dan aroma alkohol yang menyengat. Mella memilih bungkam, belum berani berterus terang tentang dunianya kepada Siska yang masih polos.
Lembaran Uang dan Hutang Budi yang Mengikat
Titik balik yang mengiris hati itu terjadi pada suatu siang. Ponsel Siska berdering. Di ujung telepon, suara ibunya di kampung halaman terdengar gemetar, mengabarkan bahwa persediaan susu sang bayi telah habis, dan kebutuhan dapur kian menjepit. Siska tercekat. Dadanya sesak mendapati kenyataan bahwa ia tak punya sepeser pun uang untuk dikirimkan. Isak tangis Siska pecah di sudut kamar, merutuki ketidakberdayaannya sebagai seorang ibu.
Tanpa ia sadari, di balik tirai kamar, Mella mendengarkan setiap bait percakapan yang menyayat hati itu. Tersentuh oleh penderitaan sang sahabat, Mella melangkah mendekat. Diulurkannya seikat lembaran uang senilai Rp 1 juta ke hadapan Siska.
”Ambilah, kirim ke ibumu buat keperluan anakmu. Jika ibumu bertanya, bilang saja kamu sudah bekerja di Tangerang,” ucap Mella lirih.
Bagi Siska, uang itu adalah penyambung nyawa anaknya. Namun di sisi lain, ia sadar telah berhutang budi teramat besar. Terdesak oleh kebutuhan yang terus berputar dan rasa tahu diri, Siska akhirnya memberanikan diri menatap mata Mella. Ia meminta, bahkan memohon, untuk ikut bekerja bersama Mella, apa pun risikonya.
Terjebak di Remang Malam dan Tangis yang Senyap
Kini, malam-malam Siska tak lagi dihabiskan dengan menimang bayinya, melainkan di bawah temaram lampu warna-warni sebuah club malam di sudut Tangerang. Tugas utamanya adalah menemani para tamu menenggak minuman keras. Tak sampai di situ, tuntutan ekonomi yang beringas perlahan menyeretnya lebih dalam: ia terpaksa melayani layanan plus-plus, menjual raganya demi memuaskan lelaki hidung belang yang bersedia membayar.
Awalnya, setiap jengkal kulitnya menolak. Rasa risih, jijik, dan hina berkecamuk menjadi satu. Setiap kali tangan-tamu asing menyentuhnya, dada Siska sesak bak dihantam batu besar. Namun, bayangan wajah bayinya di Malingping yang butuh susu, serta senyum ibunya yang renta, memaksa Siska mematikan rasa malunya. Ia harus bertahan, demi kelangsungan hidup orang-orang tercinta, meski harga diri menjadi taruhannya.
Kini, kebutuhan keluarganya di kampung memang tercukupi. Susu sang anak tak lagi terlambat dibeli. Namun, tak ada yang tahu betapa hancurnya bathin seorang Siska.
Di balik sapuan make-up tebal dan pakaian minimnya, bathin Siska menangis darah. Di setiap penghujung malam, saat ritual hitam itu usai dan gemerlap club malam meredup, Siska bersujud di atas sajadah di sudut kamarnya. Dalam sisa-sisa air matanya yang tumpah di atas lantai, ia selalu melangitkan doa yang sama: memohon ampunan, meminta petunjuk, dan berharap Tuhan membukakan jalan keluar agar ia bisa segera lepas dari lingkaran hitam ini dan kembali memeluk buah hatinya dengan tangan yang suci.