Demo Berlarut-Larut di Depan PT Molex Ayus: Saat Perjuangan Kehilangan Simpati dan Mengorbankan Hak Warga

screensoot di platform tiktok
TANGERANG-INFOPLUS9.COM-Aksi unjuk rasa yang sudah berlangsung selama berminggu-minggu di depan PT Molex Ayus, Cikupa, kini tak lagi dipandang sebagai sebuah perjuangan hak, melainkan menjadi beban nyata bagi masyarakat sekitar dan para pengguna jalan. Apa yang dimulai sebagai upaya memperjuangkan kesejahteraan, kini justru menuai gelombang kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari netizen di media sosial hingga warga yang terdampak langsung secara ekonomi.
Kekecewaan Netizen: “Bikin Macet Jalan Bos!”
Di platform media sosial seperti TikTok, kolom komentar pada video terkait aksi FSPMI dipenuhi dengan cibiran dan rasa frustrasi. Netizen tidak lagi melihat urgensi dari demo tersebut, melainkan hanya melihat kemacetan yang merugikan aktivitas sehari-hari.
Berikut adalah rangkuman beberapa komentar negatif yang mencerminkan kekecewaan publik:
- “BU PAK INI KAPAN SELESAINYA AKU TELAT TERUSSS” — (Alpina not Alvina)
- “Punya masalah internal dengan manajemen tapi kenapa orang banyak kena imbasnya.. bikin susah pengguna jalan lain. Ayolah tolong pikirkan orang lain juga” — (EKO Cah Lintas Timur)
- “Bikin macet jalan bos” — (HAWU CHUS)
- “Waduh, nggak kuat macetnya kok mesti lanjut demo di tengah jalan” — (Komentar netizen)
- “Bikin macet” — (Daffa Alfarizi)
- “Parah emang” — (Toko martin)
- “Bubarin aja sama warga sekitar” — (Warga lokal)

Kritik-kritik ini bukan sekadar luapan amarah sesaat, melainkan jeritan mereka yang haknya untuk beraktivitas terhambat demi ego sekelompok orang.
Realita di Lapangan: Perut Tak Bisa Digadaikan
Dunia nyata jauh lebih keras daripada sekadar retorika di depan pabrik. Abdul, seorang warga Desa Bitung yang bergantung hidup dari berjualan ke pasar, harus berangkat lebih pagi dan menghadapi kekacauan lingkungan akibat kemacetan yang dipicu oleh aksi penutupan jalan. Bagi orang seperti Abdul, demo ini bukan lagi soal kenaikan upah, melainkan soal kelangsungan hidupnya yang terancam.
Harus diakui, setiap manusia memiliki keinginan dan target ideal. Namun, ketika perjuangan tersebut melampaui batas dengan menyandera kepentingan umum dan merugikan ekonomi warga kecil, maka legitimasi perjuangan itu sendiri patut dipertanyakan.
Sangat menyedihkan melihat bagaimana solidaritas sesama buruh kini pecah. Faktanya, sudah ada anggota FSPMI yang memilih mundur dari aksi dan kembali bekerja bersama rekan-rekan mereka yang telah mencapai kesepakatan damai dengan perusahaan. Mereka sadar akan satu hal yang sangat prinsipil: Perut anak dan istri tidak bisa digadaikan dengan janji manis perjuangan yang tak kunjung usai.
Anak-anak di rumah butuh susu, biaya sekolah harus dibayar, dan dapur harus tetap mengebul. Kehidupan tidak berhenti hanya karena mediasi buntu atau ego serikat yang terus dipaksakan. Bekerja dengan upah yang disepakati adalah bentuk tanggung jawab nyata kepada keluarga, jauh lebih terhormat daripada memaksakan kehendak yang justru melumpuhkan produktivitas dan memicu kebencian masyarakat.
Menuju Benturan Sosial
Kekhawatiran pengamat sosial di Kecamatan Cikupa sangat beralasan. Ketika masyarakat sudah tidak lagi bersimpati dan merasa dirugikan secara terus-menerus, benturan fisik antara warga dan peserta aksi hanyalah menunggu waktu.
Sudah saatnya kawan-kawan buruh yang masih bertahan di jalan raya untuk menepi dan menata nurani. Jangan biarkan perjuangan yang awalnya mulia berubah menjadi aksi yang dibenci oleh lingkungan sendiri. Kembalilah bekerja, berdamailah dengan realita, karena tanggung jawab utama seorang kepala keluarga adalah memastikan keberlangsungan hidup orang-orang yang dicintainya, bukan menuntut kesempurnaan di atas penderitaan orang lain.
Ingatlah, simpati masyarakat adalah modal sosial yang besar. Jika modal itu sudah hilang, maka yang tersisa hanyalah kesendirian dalam menuntut, sementara hidup terus berjalan dan waktu tidak akan menunggu bagi mereka yang terjebak dalam egonya sendiri.