🧑🏫 Redaksi: Jumadil Qubro

Editorial Redaksi
Dunia politik Indonesia kembali dikejutkan oleh sebuah anomali struktural yang kesekian kalinya. Sosok yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai ikon oposisi paling vokal, akademisi yang kerap melontarkan kritik tajam berapi-api di berbagai ruang publik, talkshow, hingga mimbar debat—yakni Rocky Gerung—resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara. Peristiwa ini langsung memantik diskursus publik yang luas: haruskah untuk mendapatkan sebuah jabatan di pemerintahan, seseorang harus selalu dimulai dari jalan panjang sebagai pengkritik pemerintah, aktivis yang berseberangan, dan hadir dalam setiap panggung debat untuk melawan para pendukung kebijakan?

Pertanyaan ini bukan sekadar sinisme politik, melainkan sebuah gugatan mendasar terhadap integritas gerakan moral di Indonesia. Publik sering kali dipertontonkan pada pola di mana mereka yang paling keras memukul lonceng kritik pada akhirnya justru menjadi bagian dari gerbong kekuasaan yang dulu mereka tentang.
Dalam menanggapi fenomena ini, Pimpinan Redaksi Infoplus9.com Jumadil Qubro menilai bahwa acap kali setiap kita mengkritik pemerintah selalu ada persepsi bahwa kita belum kebagian jabatan atau kue-kue pembangunan. Persepsi sinis ini melekat bagaikan bayangan bagi setiap aktivis maupun politisi yang memilih jalan oposisi. Masyarakat kadung skeptis, menganggap bahwa suara-suara sumbang yang dilontarkan dari luar pagar istana hanyalah bentuk “tawar-menawar” politik—sebuah instrumen penekan agar penguasa melirik dan merangkul mereka masuk ke dalam lingkaran Istana.

Hal inilah yang semestinya dipegang teguh oleh para pejuang, aktivis, maupun politisi yang konsisten berada di seberang pemerintah. Konsistensi ideologis diuji bukan saat seseorang dipuji, melainkan ketika ia dihadapkan pada godaan fasilitas kekuasaan. Pertanyaan besarnya kemudian mengarah pada realitas pasca-pelantikan: lalu apakah setelah duduk di lingkaran kekuasaan, lidah dan pikiran mereka akan setajam waktu di luar?
Secara psikologis dan sosiologis, selalu ada bantahan dan pembelaan dari situasi ini. Para pembela masuknya kaum oposan ke lingkaran istana berargumen bahwa perubahan nyata hanya bisa dilakukan dari dalam (from within). Kritik dari luar sering kali diabaikan sebagai angin lalu, sementara berada di lingkar dalam memberikan akses langsung untuk membisikkan kebijakan yang pro-konstitusi dan berpihak pada rakyat. Argumentasi ini meyakini bahwa pragmatisme tidak selalu berarti pengkhianatan; ia bisa menjadi strategi taktis demi kemaslahatan yang lebih besar.
Namun, di sisi lain, publik tidak mudah dibohongi. Sejarah panjang perpolitikan nasional sering kali membuktikan bahwa kekuasaan memiliki daya kooptasi yang luar biasa kuat. Udara dingin Istana dan fasilitas megah kerap kali meredam insting kritis seseorang, mengubah singa podium yang garang menjadi sekadar “stempel legitimasi” kebijakan penguasa.
Pada akhirnya, di balik hiruk-pikuk kalkulasi politik, ada dimensi kemanusiaan yang jarang tersentuh. Masuknya seorang pengkritik ke dalam lingkaran kekuasaan tidak selalu dibaca sebagai ambisi kekuasaan semata. Bisa jadi, ada titik balik dari setiap pengkritik itu: sebuah rasa lelah yang amat sangat setelah bertahun-tahun meneriakkan angin ke dalam badai, berhadapan dengan tembok birokrasi yang tebal, dan kelelahan mental dalam merawat idealisme di tengah masyarakat yang kerap apatis.
Lelah adalah puncak dari segala tujuan jangka panjang. Ketika fisik merosot dan usia bertambah, batas antara idealisme murni dan kompromi realitas menjadi semakin abu-abu. Pada titik nadir tersebut, sebagian memilih merapat bukan karena silau jabatan, melainkan karena kelelahan berjuang sendirian di luar sistem. Namun, apapun dalih dan pembenarannya, sejarah dan waktu yang akan menguji: apakah mereka datang untuk memperbaiki sistem dari dalam, ataukah sistemlah yang akhirnya melumpuhkan ketajaman nurani mereka? Karena pada akhirnya, hanya mereka sendiri yang tahu dasar paling jujur dari sikap-sikap tersebut.

