BUTA HURUF TAPI BIKIN JENDERAL INGGRIS PUSING, PEJUANG KLENDER INI DAPAT GELAR “GENERALISSIMO” DARI ANGKATAN 45

Sosok-Namanya Muhammad Arif. Tapi tidak ada yang memanggilnya begitu. Semua orang mengenalnya sebagai Haji Darip — seorang lelaki dari Klender, Jakarta Timur, yang tidak pernah sehari pun duduk di bangku sekolah, tidak bisa membaca surat kabar, tapi mampu memimpin ratusan orang berhadapan langsung dengan pasukan bersenjata lengkap milik Inggris dan Belanda di tengah tahun-tahun paling genting dalam sejarah Indonesia.
Darip lahir pada 1886 di Klender, anak bungsu dari pasangan Haji Kurdin dan Hajah Nyai Mai — keluarga jawara silat yang sudah berakar dalam di kampung itu jauh sebelum proklamasi 1945. Sejak kecil ia akrab dengan ilmu maen pukulan, silat khas Betawi yang mengajarkan bukan hanya cara memukul, tapi cara bertahan, cara membaca situasi, cara memimpin. Pada 1914, Darip menunaikan ibadah haji, kemudian menetap dua tahun di Mekah untuk mendalami ilmu agama. Dari sana ia pulang membawa dua hal sekaligus: kedalaman spiritual seorang ulama dan ketangguhan fisik seorang pendekar.
Klender pada awal abad ke-20 bukan kawasan elit. Ia adalah perkampungan dan perkebunan di pinggiran Batavia, tempat para jawara hidup berdampingan dengan petani dan pedagang kecil. Di sanalah Darip membangun pengaruh — bukan lewat jabatan, bukan lewat harta, tapi lewat respek yang tumbuh perlahan karena ia dikenal selalu membela orang kecil, bahkan saat itu harus berurusan dengan hukum Hindia Belanda.
Ketika Jepang menyerah pada Agustus 1945 dan Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan, Darip sudah tahu bahwa perang belum selesai. Ia memanggil para jawara dan pemuda kampung sekitar Klender, Pulogadung, hingga Bekasi. Beberapa bulan kemudian, pada Oktober 1945, ia secara resmi membentuk BARA — Barisan Rakyat Indonesia — sebagai laskar bersenjata yang siap mempertahankan kemerdekaan.
Senjata yang mereka miliki beragam: golok, bambu runcing, parang — dan sejumlah pistol, senapan, serta granat hasil melucuti tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, dan Cipinang Cimpedak. Kekuatan bukan pada teknologi, tapi pada keberanian dan penguasaan medan.
Momen yang paling tertulis dalam sejarah adalah 15 Oktober 1945. Pada hari itu, pasukan tentara Inggris bergerak hendak menduduki Klender. Yang mereka tidak sangka: dari rumah-rumah penduduk, bermunculan barisan rakyat bersenjata golok dan bambu runcing, menyerang dari segala arah. Peristiwa ini bahkan tercatat dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia karya Jenderal Abdul Haris Nasution. Sekutu mengalami banyak korban, kewalahan menghadapi serangan massal yang datang tak terduga.
Tapi sejarah juga mencatat apa yang terjadi berikutnya — sesuatu yang jarang disebut dalam kisah-kisah heroik tentang Haji Darip. Setelah serangan balasan dari pihak Sekutu yang menimbulkan banyak korban di kalangan rakyat, Klender akhirnya berhasil diduduki tentara Inggris. Darip dan BARA kemudian hijrah — mundur ke Tambun, Cikarang, Bekasi, Cikampek, Karawang, hingga Purwakarta, dan di sana membentuk organisasi baru bernama BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya, dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler.
Itulah kenyataannya: Haji Darip bukan dewa yang tak terkalahkan. Ia adalah pejuang yang merasakan pahitnya mundur, kehilangan wilayah, lalu tetap bergerilya dari hutan-hutan Purwakarta bersama sekitar 200 anak buah. Keberanian sejatinya bukan pada kemenangan, tapi pada keteguhan untuk terus berjuang bahkan setelah kalah.
Pada 1948, ia akhirnya tertangkap oleh mata-mata Belanda di Sadang, Jawa Barat, dan dijebloskan ke penjara Glodok di Jakarta. Lebih dari setahun ia mendekam di sana. Baru setelah penyerahan kedaulatan pada akhir Desember 1949, Haji Darip dibebaskan.
Atas sepak terjangnya selama revolusi, Badan Potensi Penggerak Pembina Potensi (BPPP) Angkatan 45 menganugerahinya gelar Generalissimo van Klender 1945 — sebuah penghormatan yang bahkan ia sendiri enggan menonjolkan. Hingga akhir hayat, Haji Darip menolak terlibat dalam urusan administrasi veteran, bahkan melarang anak-anaknya menuntut pengakuan resmi dari pemerintah.
Masa tuanya dihabiskan dengan berdakwah di Masjid Al Makmur Klender, mengajar santri, dan berdagang kain sarung di Pasar Klender. Foto wajahnya — berkaca mata hitam, memakai surban — ditempel di pintu-pintu rumah dan toko oleh para pedagang Tionghoa yang merasa terlindungi oleh reputasinya dari ancaman penjarahan pascaperang.
Pada Sabtu 13 Juni 1981 pukul 01.00 WIB, Haji Darip wafat setelah dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta. Penyakit yang menggerogotinya di hari tua adalah sakit kepala kronis — akibat penyiksaan yang pernah ia terima saat menjadi tahanan Belanda. Ia dimakamkan di tanah wakaf Ar-Rahman, Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur. Bendera Merah Putih dikibarkan di pusaranya.
Teman-teman seperjuangannya memintanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Keluarganya menolak. Ia memilih tetap di antara rakyatnya, di tanah Klender yang pernah ia pertahankan dengan golok dan nyawa.