
KAB.TANGERANG-INFOPLUS9.COM-Semangat kebersamaan menyelimuti warga RT 03/05 Desa Talagasari dalam acara Halal Bihalal sekaligus Pembukaan Pengajian Rutin Mingguan yang digelar meriah namun khidmat. Acara ini menjadi momentum penting bagi warga untuk saling memaafkan pasca-Lebaran sekaligus memulai kembali rutinitas spiritual di lingkungan tersebut.
Tholabul Ilmi: Kewajiban Tanpa Batas Usia
Dalam tausiyahnya, KH. TB. Adang Harun, selaku guru pengajian rutin, memberikan nasehat mendalam mengenai pentingnya Tholabul Ilmi atau menuntut ilmu. Beliau menegaskan bahwa belajar adalah kewajiban mutlak bagi setiap muslim tanpa memandang gender maupun usia.
Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Beliau mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar agama, karena ilmu adalah cahaya yang menuntun keselamatan di dunia dan akhirat.
Sinergi Pengurus RT dan Pemuda
Ketua RT 03/05, Bapak Damanhuri, yang didampingi oleh Ketua Pemuda, Asep Septian (Upay), menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh warga. Ia menekankan bahwa suksesnya acara ini merupakan buah manis dari kerja sama yang solid antara pengurus RT dan para pemuda.

“Kami mengucapkan terima kasih atas partisipasi semua warga. Di momentum yang baik ini, saya atas nama pribadi dan pengurus mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Saya berharap warga tetap guyub dan ngahiji (bersatu) dalam setiap kegiatan positif, terutama dalam urusan keagamaan,” ujar Damanhuri.
Sejarah Halal Bihalal sebagai Pemersatu Bangsa
Hadir pula tokoh agama setempat, Dai Lokal sekaligus Ketua DMI (Dewan Masjid Indonesia) Kecamatan Cikupa, yang merupakan putra daerah Talagasari. Beliau memaparkan sejarah unik istilah “Halal Bihalal” yang lahir pada tahun 1948.
Kala itu, atas saran KH. Wahab Hasbullah kepada Presiden Soekarno, istilah ini digunakan untuk meredam gejolak politik dan mempersatukan para pemimpin bangsa yang sempat terpecah. Penjelasan ini memberikan wawasan baru bagi warga bahwa silaturahmi bukan sekadar tradisi, melainkan alat pemersatu bangsa.
Acara ditutup dengan sesi Mauidzah Hasanah yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Ust. Andi (Rajeg) dan tausiyah edukatif nan menghibur dari Ust. Aldi yang akrab disapa Kiai Semar.





