Syech Agung Caringin, Ulama dan Pejuang Syiar Islam di Tanah Banten

SYEKH ASNAWI BIN SYEKH ABDURRAHMAN ( CARINGIN BANTEN )
Syekh Asnawi bin Syekh Abdurrahman atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Asnawi Caringin (1850-1937) adalah seorang ulama dari Banten.
Syekh Asnawi lahir di Kampung Caringin, Labuan, Banten sekitar tahun 1850 Masehi. Sang ayah, Syekh Abdurrahman berasal dari keluarga yang Religius.
Pada usia yang masih sangat muda Syekh Asnawi sudah dikirim ayahnya untuk menuntut ilmu ke Mekkah.
Di Tanah Suci, Asnawi kemudian berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani, yang merupakan guru di Masjidil Haram.
Bertahun-tahun syekh Asnawi belajar di tanah kelahiran Islam. Hingga ketika dirasa telah mumpuni dalam agama, ia pun dipercaya untuk mendakwahkan Islam. Maka, Syekh Asnawi pun pulang kembali ke tanah lahirnya, Banten. Ia pun mulai mengajar dan mengundang ketertarikan banyak pemuda yang ingin menjadi muridnya. Kepiawaiannya dalam berdakwah membuat nama Syekh Asnawi tersohor sebagai ulama besar di Banten.
Tak hanya mengajarkan agama, Syekh Asnawi juga terkenal semangatnya yang menggebu dalam melawan penjajah. Ia mengobarkan semangat pemuda untuk melawan dan menentang kolonialisme Belanda. Apalagi, saat itu seluruh wilayah Banten berhasil dikuasai penjajah. Bahkan, tak hanya mengobarkan semangat kemerdekaan lewat lisan, tapi juga aksi. Syekh Asnawi juga dikenal memiliki ilmu bela diri yang sakti.
Syekh Asnawi yang tangguh dan berhasil mengajak pemuda untuk melawan penjajah pun menjadi ancaman bagi Belanda. Apalagi, Banten dikenal sebagai tempat lahirnya para ‘pemberontak’ Belanda, bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, melainkan juga dari kalangan ulama. Alhasil, kiai pernah ditahan oleh penjajah di Tanah Abang serta diasingkan ke Cianjur. Ia dihukum lebih dari setahun dengan tuduhan melakukan pemberontakan. Namun, selama ditahan dan diasingkan, kiai tetap aktif menyampaikan dakwah Islam. Ia mengajarkan syariat Islam kepada masyarakat sekitar di manapun ia berada.
Seusai diasingkan, Syekh Asnawi kembali ke kampungnya di Caringin. Karena situasi yang lebih aman, ia semakin giat mensyiarkan Islam. Ia pun mendirikan sebuah masjid di Caringin pada 1884. Masjid tersebut bernama Masjid Caringin yang hingga kini masih berdiri tegak.
Beberapa sumber menyebutkan, pembangunan Masjid Caringin oleh Syekh juga ditujukan untuk membangun kembali peradaban masyarakat yang hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada 1883. Syekh Asnawi ingin membangun kembali akidah masyarakat dengan didirikannya sarana masjid tersebut. Sejak masjid berdiri, dakwah pun makin menggeliat. Banyak pemuda datang untuk berguru kepadanya. Syekh Asnawi pun menghabiskan usianya untuk pengajaran agama dari tempat kelahirannya, Caringin.
Setelah banyak kiprah yang ditorehkan bagi masyarakat, terutama masyarakat Banten, Syekh Asnawi menghembuskan napas terakhir pada 1937 Masehi. Ia meninggalkan banyak sekali anak, yakni 23 putra dan putri. Ia dimakamkan di tepi pantai Caringin, Labuan dekat masjid yang ia bangun, Hingga kini, banyak masyarakat yang berziarah ke makamnya.