Menyelamatkan Nafkah, Menguatkan Perusahaan: Sebuah Refleksi untuk Kawan-Kawan Pekerja di PT. Molex Ayus

Oleh: Jumadil Qubro (Aktivis Sosial & Lingkungan, Mantan Ketua PUK SPSI)
Di tengah dinamika hubungan industrial yang sedang menghangat di PT. Molex Ayus, saya terpanggil untuk menyampaikan sebuah catatan reflektif. Sebagai seseorang yang pernah berdiri di garis depan sebagai Ketua PUK selama dua periode di wilayah Kecamatan Cikupa, saya memahami betul bahwa di balik setiap tuntutan dan aksi, ada detak jantung yang sama: keinginan untuk hidup lebih sejahtera.
Namun, mari kita sejenak berhenti dan menarik napas dalam-dalam. Dalam setiap perjuangan buruh, ada satu prinsip fundamental yang tidak boleh kita abaikan: menyelamatkan pekerja adalah menyelamatkan perusahaan, dan menyelamatkan perusahaan adalah menjamin keberlangsungan hidup kita semua.
Kita sering terjebak dalam euforia tuntutan angka yang tinggi. Namun, pernahkah kita berpikir, apa gunanya permohonan yang fantastis jika ujung-ujungnya kondisi perusahaan tidak lagi maksimal? Jika perusahaan goyah, maka yang pertama kali akan menanggung beban adalah kita sendiri—para pekerja. Mari lebih bijak dalam mencari jalan tengah. Keseimbangan adalah kunci; kita ingin upah yang layak, namun kita juga butuh perusahaan yang terus beroperasi dengan sehat.
Saya menyoroti adanya gesekan terkait karyawan yang telah menentukan sikap untuk menerima penawaran kenaikan dari perusahaan. Kepada kawan-kawan yang sedang berjuang, saya mengetuk pintu hati Anda: jangan melarang mereka yang ingin kembali ke arena produksi. Hormatilah keputusan setiap individu yang memilih untuk bekerja kembali.
Kita harus mampu menghargai perbedaan pandangan, termasuk antara Serikat FSPMI dengan serikat lainnya seperti SBJP. Saya yakin, kawan-kawan di SBJP pun memiliki rasa persaudaraan yang sama dan menghargai esensi perjuangan yang disampaikan melalui aksi demo ini.
Perbedaan serikat atau perbedaan pilihan bukanlah alasan untuk saling menjauhkan. Ingatlah, kita semua berada di dalam “perahu” yang sama. Jika perahu ini karam karena kita terus berselisih, maka kita semua akan tenggelam bersama.

Jumadil Qubro
Mari kembali ke meja dialog dengan kepala dingin. Jadikan momen ini sebagai titik balik untuk membangun perusahaan dengan lebih baik. Mari kita tunjukkan bahwa buruh Cikupa adalah buruh yang cerdas, yang mampu memperjuangkan hak tanpa harus mengorbankan masa depan tempat kita mengais rezeki.
Kepada seluruh rekan-rekan buruh, kembalilah bekerja dengan semangat baru, rangkul kembali persaudaraan yang sempat terdistraksi oleh perbedaan pandangan. Perusahaan yang maju adalah perusahaan yang karyawannya bersatu. Semoga kesadaran ini menyentuh hati kita semua, demi keluarga di rumah dan masa depan yang lebih pasti.