Tahun Baru Islam 1448 H: Pemerintah Kelurahan Sukamulya Ajak Warga Tingkatkan Ibadah dan Kepedulian Sosial

TANGERANG-INFOPLUS9.COM-Pemerintah Kelurahan secara resmi menyampaikan ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriyah kepada seluruh umat muslim, khususnya warga yang berada di wilayah lingkungan kelurahan Sukamulya. Berdasarkan ketetapan penanggalan nasional, awal bulan Muharam tahun ini jatuh pada hari selasa, 16 Juni 2026.
Kepala Kelurahan Sukamulya Soni Rahmat Sonjaya S.IP, menyampaikan bahwa pergantian tahun baru Islam bukan sekedar seremoni kalender semata. Momen ini harus dimaknai mendalam sebagai komentum emas untuk melakukan evaluasi diri (muhasabah) atas segala aktivitas yang telah di lalui sepanjang tahun lalu. Seni (15/6) 2026)
“Kami atas nama pribadi dan seluruh jajaran Pemerintah Kelurahan Sukamulya mengucapkan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah. Mari kita jadikan tahun yang baru ini yang lebih bertaqwa, menjaga kerukunan, serta meningkatkan kepedulian sosial antar sesama warga, ” ujarnya.
Selain ajakan meningkatkan kualitas ibadah, pihak Kelurahan juga menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah setempat dalam membangun lingkungan yang akan, bersih, dan sejahtera. Semangat tahun baru Hijriyah diharapkan mampu memicu inovasi serta komitmen aparatur Kelurahan dalam memberikan pelayanan publik yang prima transparan, dan berkeadilan.
“Kita semua tahu, kekuatan utama pembangunan ada pada persatuan. Jika saling percaya dan bahu-membahu, segala tantangan akan terasa ringan dan setiap kemajuan akan dapat kita nikmati bersama, ” katanya.
Masih menurut Lurah Soni, di bulan yang penuh berkah ini, saya juga mengajak seluruh warga untuk gemar berbagi dengan yang kurang mampu, anak yatim, serta tetangga yang sedang kesulitan, sedekah dan kebersamaan adalah kunci mempererat tali persaudaraan ditengah keberagaman yang ada di Sukamulya.
“Pemerintah Kelurahan Sukamulya akan terus berusaha hadir dan mendengarkan setiap aspirasi warga, mempermudah pelayanan, serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan. Semoga di tahun 1448 H ini, Sukamulya menjadi wilayah yang makin rukun, bersih, maju, dan penuh keberkahan bagi kita semua, ” Pungkasnya.
(HK72)
Read MoreBhabinkamtibmas Desa Dahu Hadiri Pelepasan Siswa dan Kenaikan Kelas MI MALNU Bangko, Wujud Dukungan Polri terhadap Pendidikan

PANDEGLANG, BANTEN –INFOPLUS9.COM- Bhabinkamtibmas Desa Dahu, Polsek Cikedal, Aipda Peri Ritonga, menghadiri kegiatan pelepasan siswa kelas VI dan kenaikan kelas siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) MALNU Bangko, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang. Kegiatan yang berlangsung penuh khidmat dan kebersamaan tersebut menjadi momentum penting dalam menandai keberhasilan para siswa menyelesaikan proses pembelajaran selama satu tahun ajaran.senin (15/6/2026).
Kehadiran Aipda Peri Ritonga merupakan bentuk nyata dukungan Polri terhadap dunia pendidikan sekaligus mempererat hubungan kemitraan antara kepolisian, pihak sekolah, orang tua murid, dan masyarakat. Selain itu, keterlibatan Bhabinkamtibmas dalam kegiatan pendidikan juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang generasi muda.
Acara tersebut dihadiri oleh kepala madrasah, dewan guru, komite sekolah, para orang tua siswa, tokoh masyarakat, serta seluruh siswa yang mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh antusias. Suasana semakin meriah dengan berbagai penampilan seni dan kreativitas siswa yang menjadi bentuk apresiasi atas hasil belajar dan pengembangan bakat selama menempuh pendidikan di MI MALNU Bangko.
Dalam kesempatan itu, Aipda Peri Ritonga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh siswa yang memperoleh kenaikan kelas serta siswa kelas VI yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan dasar di tingkat Madrasah Ibtidaiyah.
“Selamat kepada seluruh siswa yang hari ini menerima kenaikan kelas dan khususnya kepada siswa kelas VI yang telah menyelesaikan pendidikan dasar. Teruslah belajar, raih cita-cita setinggi mungkin, serta selalu menjaga akhlak dan kedisiplinan sebagai bekal menuju masa depan yang lebih baik,” ujar Aipda Peri Ritonga.
Ia juga mengajak para orang tua dan tenaga pendidik untuk terus bersinergi dalam memberikan pembinaan dan pendampingan kepada anak-anak agar terhindar dari berbagai pengaruh negatif serta tumbuh menjadi generasi yang berprestasi, berkarakter, dan memiliki akhlak mulia.
Kegiatan berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh suasana haru. Momen pelepasan siswa kelas VI dan kenaikan kelas ini menjadi simbol keberhasilan para peserta didik dalam menempuh proses pendidikan sekaligus langkah awal menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dengan kehadiran Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat, diharapkan sinergi antara Polri dan dunia pendidikan semakin kuat dalam menciptakan generasi muda yang cerdas, disiplin, berakhlak mulia, serta mampu menjadi penerus bangsa yang membanggakan di masa mendatang.
penulis : Dedi supandi (Biro Pandeglang)
Read MoreSatu Guru Tiga Ideologi

Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap penjajahan, kebangkitan rakyat, dan mimpi tentang Indonesia yang lebih adil.
Namun sejarah bergerak dengan cara yang ironis. Dari satu sumber ilmu yang sama, lahir tiga jalan yang saling bertabrakan: Soekarno, Musso, dan Kartosuwiryo. Pertanyaannya, bagaimana satu guru bisa melahirkan tiga keyakinan yang begitu berbeda?
Soekarno tidak hanya belajar pidato dan politik dari Tjokroaminoto. Ia belajar bagaimana mengubah kemarahan rakyat menjadi harapan kolektif. Baginya, kemerdekaan harus menjadi rumah bagi semua golongan.
Tetapi konflik muncul ketika realitas bangsa jauh lebih rumit daripada teori perjuangan. Soekarno memilih jalan persatuan nasional, sebuah pilihan yang membuatnya harus terus berhadapan dengan kelompok-kelompok yang memiliki visi Indonesia berbeda.
Musso melihat penderitaan rakyat kecil sebagai luka yang tidak bisa disembuhkan dengan perubahan setengah hati. Ia percaya bahwa revolusi sosial yang lebih radikal adalah jawaban atas ketimpangan yang terjadi.
Di sinilah emosi dan konflik memuncak. Saat sebagian orang berbicara tentang persatuan bangsa, Musso berbicara tentang perjuangan kelas. Dari ruang belajar yang sama, lahir cara pandang yang sama sekali berbeda terhadap masa depan Indonesia.
Kartosuwiryo memaknai perjuangan melalui keyakinan agama yang sangat kuat. Baginya, kemerdekaan tidak cukup hanya mengganti penjajah dengan penguasa baru. Ia menginginkan tatanan yang menurutnya lebih sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Perubahan besar terjadi ketika perbedaan gagasan berubah menjadi perbedaan arah perjuangan. Dari murid yang sama-sama mengagumi Tjokroaminoto, lahir pertarungan pemikiran yang kemudian memengaruhi perjalanan bangsa selama puluhan tahun.
Novel Seteru 1 Guru memperlihatkan bahwa sejarah tidak dibentuk hanya oleh kecerdasan, tetapi juga oleh pengalaman, luka, ambisi, dan keyakinan yang tumbuh dalam diri setiap manusia. Guru yang sama tidak menjamin murid akan memiliki tujuan yang sama.
Makna terdalamnya terasa relevan hingga hari ini. Banyak orang mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Padahal sejarah sering kali menunjukkan bahwa manusia dapat berangkat dari pelajaran yang sama, lalu tiba di tempat yang sangat berbeda.
Inilah tragedi sekaligus pelajaran terbesar dari kisah tiga murid Tjokroaminoto. Mereka sama-sama ingin memperjuangkan masa depan bangsa, tetapi masing-masing memiliki definisi berbeda tentang seperti apa masa depan itu seharusnya dibangun.
Read MoreSimbolisasi Estafet Kepemimpinan, Subhan Beno Resmi Nakhodai Redaksi Detikhukum.id

Subhan reno berfoto bersama
BOGOR-INFOPLUS9.COM-Jajaran redaksi media online Detikhukum.id resmi memulai babak baru kepemimpinan. Prosesi penyerahan Surat Keputusan (SK) Kenaikan Jabatan Subhan Beno sebagai Pemimpin Redaksi yang baru berlangsung khidmat dan penuh hidmat pada Sabtu (13/6/2026), bertempat di Cibunar, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor.
Momentum strategis ini ditandai dengan penyerahan amanah secara langsung oleh Pimpinan Umum Detikhukum.id, Sayim, kepada Subhan Beno. Prosesi peralihan tongkat komando ini juga didampingi oleh Sulaeman, Pemimpin Redaksi pendahulu, sebagai bentuk legitimasi runtutnya estafet kepemimpinan sekaligus komitmen kolektif dalam menjaga marwah, profesionalisme, serta kualitas produk jurnalistik media.
Acara formal tersebut turut dihadiri oleh Ketua Forum Wartawan Jaya Indonesia (FWJI) Korwil Bogor Raya, Anwar Achmad, Dedi Setiawan Sekwil FWJI Bogor Raya, Eman Sulaeman selaku Penasehat Detik hukum sekaligus Humas Fwji Korwil Jakarta Barat dan jajaran fungsionaris Detik hukum.id serta deretan tokoh pers dari berbagai media yang hadir memberikan dukungan moral atas nakhoda baru Detikhukum.id.
Dalam orasi sambutannya, Pemimpin Redaksi Detikhukum.id, Subhan Beno, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi tertinggi atas mandat kelembagaan yang dipercayakan kepadanya. Ia menegaskan integritas profesi menjadi harga mati dalam mengawal langkah media ke depan.
“Amanah ini merupakan tanggung jawab besar yang wajib ditunaikan dengan dedikasi tinggi. Komitmen fundamental kami adalah tegak lurus pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ), serta memastikan Detikhukum.id hadir sebagai produsen informasi yang akurat, berimbang, edukatif, dan senantiasa menjadi suluh informasi bagi masyarakat,” ujar Subhan Beno.
Gayung bersambut, Pimpinan Umum Detikhukum.id, Sayim, menyatakan optimisme mendalam atas struktur kepemimpinan yang baru ini. Dirinya berharap, di bawah kendali Subhan Beno, media ini mampu bertransformasi secara dinamis di era digital tanpa kehilangan esensi dasarnya.
“Kami berharap kapemimpinan baru ini membawa energi segar agar Detikhukum.id tumbuh kian ekspansif, profesional, dan kokoh sebagai pilar pers yang dipercaya publik melalui penyajian berita yang objektif serta sarat integritas,” tutur Sayim.
Prosesi yang berlangsung dengan suasana kekeluargaan yang erat ini diakhiri dengan sesi foto bersama, merefleksikan soliditas dan kesiapan seluruh elemen redaksi Detikhukum.id dalam menyongsong tantangan industri media ke depan.

https://vt.tiktok.com/ZSQujyTUp
Read MoreHyundai Motors Indonesia HMID gelar acara Gathering Hyundai Community

berfoto bersama
BOGOR-INFOPLUS9.COM-Hyundai Motors Indonesia (HMID) dan Shell Indonesia Gelar Acara Community Gathering
Hyundai Motors Indonesia (HMID) dan Shell Indonesia gelar acara ghatering community pada hari Sabtu (13/06/2026) yang bertempat di taman budaya weekenders bekyard Sentul Bogor.
Ghatering ini dihadiri dari beberapa komunitas kendaraan keluaran Hyundai diantaranya Hyundai Stargazer, Hyundai Creta, Hyundai Ionic dan Hyundai T20.

“Gathering ini diadakan dalam rangka mempererat silaturahmi antar community pengguna kendaraan hyundai, jadi kita juga undang berbagai community supaya kita bisa saling mengenal dan semakin mempererat silaturahmi kita dan juga ada acara-acara yang mungkin nanti akan bermanfaat buat rekan-rekan semuanya,” ungkap Denny selaku perwakilan dari HMID departemen after sales customer communication hyundai motors Indonesia.
Denny juga menyampaikan, ” yang diundang ini ada beberapa komunitas kendaraan hyundai diantaranya dari Creta id, hystory, hive, gazeriti, hype, hid, tucsonic, hifi, accenter, gravity, ikon.”

Deni (baju putih) bersama komunitasnya,
Menurut Denny , “kegiatan ini rencananya kita ingin lakukan reguler tahunan supaya kita terus menjalin komunikasi dengan teman-teman semua dan harapannya dengan adanya kegiatan ini kami dari hyundai motor Indonesia tentunya ingin memberikan pelayanan yang terbaik buat semua pelanggan nah salah satunya karena komunitas ini menjadi salah satu garda terdepan dan yang paling besar untuk mendukung promosi dan after sales jadi tentunya kami harus merangkul untuk bisa bekerja sama dan membuat lebih baik lagi dalam melayani semua pelanggan pengguna hyundai,” tutup Deni.
(SYD)
Read MoreGelar Aksi Massa di Bundaran HI, Aliansi Mahasiswa Tuntut Evaluasi Total Kebijakan Ekonomi Era Prabowo

Aliansi Mahasiswa
Tangerang-INFOPLUS9.COM-Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama koalisi lintas organisasi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di kawasan Bundaran HI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat (12/6). Aksi turun ke jalan ini dipicu oleh kegelisahan publik yang mendalam terhadap arah kebijakan ekonomi dan sosial nasional yang dinilai semakin mencekik kehidupan rakyat kecil.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menegaskan bahwa gerakan ini merupakan respons kolektif atas rentetan persoalan yang terjadi di lapangan, mulai dari lonjakan harga bahan pokok hingga lahirnya kebijakan pemerintah yang dianggap salah sasaran.
“Harga beras meroket, lapangan kerja semakin sempit, dan rakyat kecil kian terhimpit oleh beban pajak yang tinggi. Sementara itu, pemerintah justru tampak sibuk memoles citra dan membagi proyek kepada segelintir kroni. Hal ini melatarbelakangan kami untuk hadir dan menuntut keadilan,” ujar Yatalathof dalam keterangan tertulisnya.
Dalam aksi unjuk rasa kali ini, aliansi mahasiswa membawa 5 Maklumat Tuntutan Utama yang didesak untuk segera dipenuhi oleh Presiden Prabowo Subianto dan jajaran kabinetnya, antara lain:
- Hentikan Pemborosan Anggaran: Menuntut efisiensi ketat terhadap pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar tidak terjadi pembengkakan yang sia-sia.
- Stabilisasi Harga: Mendesak pemerintah segera menurunkan harga kebutuhan pokok serta Bahan Bakar Minyak (BBM) demi menjaga daya beli masyarakat.
- Evaluasi Program Non-Prioritas: Menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan proyek pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai membebani anggaran dan tidak tepat sasaran.
- Tolak Militerisme Sipil: Menuntut penghentian segala bentuk praktik atau pendekatan militerisme di dalam ranah kehidupan sipil.
- Keterbukaan terhadap Kritik: Mendesak Presiden Prabowo untuk secara terbuka mengakui kelemahan implementasi kebijakan pemerintah serta tidak menghindari ataupun membungkam kritik dari publik.
Aksi yang berlangsung di jantung ibu kota ini berhasil mengonsolidasikan kekuatan mahasiswa dalam skala besar. Selain BEM UI bersama 15 BEM Fakultas di lingkungannya, sejumlah simpul pergerakan lain yang turut menyatakan sikap di lapangan meliputi BEM KM IPB, BEM Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), BEM Universitas Pancasila, Aliansi BEM Gunadarma, Front Mahasiswa Nasional (FMN) Pusat, FMN UI, organisasi Pembebasan, serta Semar UI.
Melalui momentum ini, BEM UI bersama seluruh aliansi menyatakan akan terus mengawal jalannya pemerintahan dan secara konsisten bertindak sebagai penyambung lidah rakyat miskin kota, buruh, petani, pedagang, hingga kaum ibu yang paling terdampak oleh ketidakstabilan ekonomi saat ini.
Read MoreMembuka Tabir 3 Kerajaan Besar Yang Namanya Masih Ada Hingga Sekarang

3 Sultan di Nusantara yang membawa abadi Nama Kesultanannya.
BUDAYA-INFOPLUS9.C0M-Di Indonesia pernah berdiri ratusan kerajaan dan kesultanan. Namun menariknya, hanya tiga di antaranya yang namanya masih digunakan sebagai nama provinsi hingga sekarang: Aceh, Banten, dan Yogyakarta. Mengapa kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Pajajaran, atau Ternate justru tidak menjadi nama provinsi?
Sejak masa kemerdekaan, pembagian wilayah Indonesia tidak selalu mengikuti batas-batas kerajaan lama. Pemerintah lebih banyak mempertimbangkan kondisi geografis, administratif, dan politik saat membentuk provinsi. Akibatnya, banyak nama kerajaan besar yang hanya tersisa dalam catatan sejarah, sementara hanya beberapa yang tetap bertahan sebagai identitas wilayah resmi.
1. Kesultanan Aceh Darussalam
Aceh merupakan salah satu kesultanan paling berpengaruh di Nusantara. Pada abad ke-16 hingga ke-17, wilayah kekuasaannya mencakup sebagian besar Pulau Sumatra bagian utara dan menjadi pusat perdagangan internasional.
Ketika Indonesia merdeka, identitas Aceh sebagai wilayah dengan sejarah, budaya, dan tradisi yang kuat tetap dipertahankan. Karena itulah nama Aceh terus digunakan hingga menjadi Provinsi Aceh yang kita kenal sekarang.
2. Kesultanan Banten
Kesultanan Banten berdiri pada abad ke-16 dan berkembang menjadi pusat perdagangan penting di ujung barat Pulau Jawa. Pelabuhan Banten saat itu ramai didatangi pedagang dari berbagai wilayah Asia dan Eropa.
Meskipun kesultanannya telah berakhir, nama Banten tetap hidup di tengah masyarakat selama berabad-abad. Saat wilayah ini resmi dimekarkan dari Jawa Barat pada tahun 2000, nama Banten dipilih sebagai identitas provinsi karena memiliki akar sejarah yang kuat dan telah dikenal luas sejak lama.
3. Kesultanan Yogyakarta
Berbeda dengan kerajaan lain, Kesultanan Yogyakarta memiliki posisi yang unik dalam sejarah Indonesia. Saat masa perjuangan kemerdekaan, Kesultanan Yogyakarta memberikan dukungan besar kepada Republik Indonesia, bahkan pernah menjadi ibu kota negara pada masa revolusi.
Sebagai bentuk penghargaan atas jasa tersebut, Yogyakarta memperoleh status Daerah Istimewa. Hingga saat ini, Sultan Yogyakarta masih memiliki peran resmi dalam pemerintahan daerah. Karena itu, nama Yogyakarta tetap digunakan sebagai nama provinsi sekaligus menjadi satu-satunya bekas kerajaan yang masih memiliki kedudukan khusus dalam sistem pemerintahan Indonesia.
Lalu Mengapa Bukan Majapahit atau Sriwijaya?
Banyak orang mengira kerajaan besar seperti Majapahit atau Sriwijaya lebih pantas menjadi nama provinsi. Namun wilayah kedua kerajaan tersebut sangat luas dan mencakup banyak daerah modern.
Majapahit misalnya, berpusat di wilayah Jawa Timur sekarang, tetapi pengaruhnya menjangkau banyak wilayah lain di Nusantara. Demikian pula Sriwijaya yang wilayah kekuasaannya tidak terbatas pada satu daerah administratif modern.
Karena itu, pemerintah lebih memilih menggunakan nama geografis seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra Selatan, atau Kalimantan Timur dibanding nama kerajaan yang wilayah sejarahnya sulit disesuaikan dengan batas administrasi modern.
Mengapa Pajajaran Tidak Menjadi Nama Provinsi?
Kerajaan Sunda atau Pajajaran memang pernah menguasai sebagian besar wilayah Jawa Barat dan Banten. Namun setelah keruntuhannya pada abad ke-16, nama Sunda dan Pajajaran perlahan tidak digunakan sebagai nama administrasi pemerintahan kolonial maupun pemerintahan modern.
Akibatnya, ketika Indonesia membentuk provinsi, nama yang dipilih adalah Jawa Barat, bukan Provinsi Pajajaran atau Provinsi Sunda.
Aceh, Banten, dan Yogyakarta bukanlah satu-satunya kerajaan besar dalam sejarah Nusantara. Namun ketiganya memiliki satu kesamaan penting: identitas wilayahnya tetap hidup dan terus digunakan hingga masa modern. Sementara banyak kerajaan besar lainnya meninggalkan warisan budaya dan sejarah yang luar biasa, nama mereka tidak lagi digunakan sebagai nama provinsi.
Catatan
Artikel ini disusun dari berbagai sumber sejarah yang tersedia, namun tidak menutup kemungkinan terdapat kekurangan, kekeliruan, atau perbedaan pendapat. Jika ada informasi yang kurang tepat atau perlu ditambahkan, silakan berikan masukan beserta referensinya agar pembahasan ini menjadi lebih akurat dan bermanfaat.
Komen
Read MoreBikin Haru! Ini Cara Kreatif YPBLC Ubah Suasana Sepi Panti Karya Asih Malang Jadi Penuh Tawa

MALANG — Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti (YPBLC) kembali menunjukkan taring kepeduliannya di bidang sosial-humaniora. Kali ini, YPBLC menekankan pentingnya kesetaraan hak dalam bermimpi dan berkarya melalui peluncuran program CSR teranyar mereka yang diberi nama “Make New Hope” di Panti Karya Asih Malang.
Berfokus pada pendekatan humanis yang menyentuh hati, program ini bertujuan untuk menghapus sekat dan batasan sosial yang sering kali dialami oleh kelompok marginal. YPBLC percaya bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk diakui karyanya oleh masyarakat luas.
Dalam agenda ini, para penghuni panti didorong untuk percaya pada potensi unik diri masing-masing melalui karya seni mandiri, seperti membuat lilin hias dan melukis menggunakan cap tangan. YPBLC berkomitmen penuh bahwa program kepedulian sosial ini akan menjadi langkah awal yang konsisten untuk program edukasi inklusif lainnya.
Melalui kegiatan ini, atmosfer panti yang biasanya sunyi berubah menjadi penuh tawa dan riuh rendah kegembiraan. Sentuhan humanis dari para relawan YPBLC yang mendampingi para peserta satu per satu menciptakan ikatan emosional yang kuat, membuktikan bahwa kepedulian tidak mengenal batas status sosial.
Ketua Yayasan, Julian Bongsoikrama, B.A., M.Sc., menyampaikan pandangannya bahwa gerakan kepedulian sosial harus berdampak langsung pada aspek psikologis yang menguatkan mental para penerima manfaat, bukan sekadar pemberian bantuan yang bersifat sementara.
“Tugas utama kami melalui program CSR ini adalah menumbuhkan kembali rasa percaya diri yang mungkin sempat padam di dalam diri mereka. Setiap manusia berhak atas masa depan yang cerah. Di Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, kami memandang kepedulian bukan sebagai aksi sekali selesai, melainkan sebuah investasi sosial jangka panjang untuk memastikan mereka berani bermimpi besar kembali,” tutur Julian.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan komitmen YPBLC untuk terus mengawal program-program serupa demi terciptanya tatanan masyarakat yang lebih inklusif dan saling mendukung satu sama lain.
Read MoreMenakar Harga Sebuah Ego: Mengapa Saling Menghormati adalah Kunci Menjaga Nyawa di Cikupa

Banner Himbauan Kamtibmas Polsek Cikupa
TANGERANG-INFOPLUS9.COM- Angka kriminalitas, khususnya kasus kejahatan terhadap nyawa manusia, sering kali tidak dimulai dari rencana konspirasi yang rumit. Faktanya, banyak darah tumpah hanya karena perkara sepele: ego yang meninggi, kesombongan yang membakar dada, dan hilangnya rasa saling menghormati di ruang publik. Tragedi memilukan yang menimpa seorang tukang cilok di wilayah hukum Cikupa baru-baru ini menjadi tamparan keras sekaligus alarm pengingat bagi kita semua.
Menyikapi fenomena ini, Polsek Cikupa mengambil langkah tegas dengan menggencarkan Himbauan Kamtibmas kepada seluruh lapisan masyarakat. Kapolsek Cikupa melalui Kanit Reskrim IPDA H. Syaiful Rusdiansyah, SH, secara terbuka mengetuk kesadaran warga untuk kembali membumi, menjaga toleransi, dan mengedepankan kesantunan.
”Kami mengimbau dengan sangat kepada masyarakat untuk menjaga toleransi, menjaga Kamtibmas, saling menghormati, dan saling santun. Tindak kriminal pembunuhan yang akhir-akhir ini terjadi justru berakar dari tidak adanya rasa saling menghargai. Mari kita jaga Wilayah Hukum Cikupa ini dengan baik. Jadikan kasus pembunuhan Tukang Cilok kemarin sebagai kasus hilangnya nyawa manusia yang terakhir di Cikupa,” tegas IPDA H. Syaiful Rusdiansyah, SH.
Ketika Kesombongan Menjadi Awal Penyesalan
Jika kita menelisik lebih dalam banner edukasi yang dirilis oleh Polsek Cikupa Polresta Tangerang, ada pesan psikologis yang sangat mendalam. Kasus penganiayaan hingga pembunuhan sering terjadi karena ada pihak yang merasa paling kuat dan paling berani, sehingga dengan mudah meremehkan orang lain.
Padahal, setiap manusia memiliki batas kesabaran. Ketika kesombongan bertemu dengan hilangnya kendali emosi, hukum rimba seolah mengambil alih. Banner tersebut secara gamblang merinci lima pemicu utama terjadinya tindak pidana kekerasan:
- Kesombongan yang membutakan mata.
- Penghinaan yang meruntuhkan harga diri.
- Dendam yang dipelihara.
- Emosi sesaat yang tidak terkendali.
- Sikap meremehkan sesama.
Slogan “Damai Itu Kuat, Hormat Itu Hebat” yang digaungkan kepolisian seharusnya tidak sekadar menjadi barisan kata di atas kertas, melainkan sebuah prinsip hidup (Way of Life) masyarakat urban saat ini.
Kapasitas Hukum dan Himbauan Tambahan Kanit Reskrim
Sebagai garda depan penegakan hukum di tingkat kecamatan, Kanit Reskrim Polsek Cikupa juga mengingatkan dari kacamata hukum penindakan. IPDA H. Syaiful Rusdiansyah, SH menambahkan bahwa emosi sesaat atau alasan “tersinggung” tidak akan pernah bisa menjadi pembenaran di mata hukum untuk menghilangkan nyawa orang lain.


IPDA H. Syaiful Rusdiansyah, SH (Kanit Reskrim Polsek Cikupa)
“Secara kapasitas fungsional Reskrim, kami tidak akan segan-segan mengambil tindakan hukum yang tegas, terukur, dan tanpa pandang bulu bagi siapapun yang nekat menggangu ketertiban dan melakukan tindak kekerasan fisik. Namun, penegakan hukum hanyalah hilir. Hulunya adalah pencegahan dari dalam diri masyarakat sendiri,” tambah IPDA H. Syaiful.
Beliau juga membagikan 4 pilar penting yang harus diadopsi warga dalam kehidupan sehari-hari demi menekan potensi konflik:
- Jaga Toleransi & Hormati Perbedaan: Sadarilah bahwa Cikupa adalah wilayah yang heterogen. Perbedaan latar belakang bukan alasan untuk bergesekan.
- Kendalikan Emosi: Jangan mudah terprovokasi oleh isu, media sosial, ataupun senggolan verbal di jalanan. Kepala boleh panas, tapi hati harus tetap dingin.
- Jaga Ucapan dan Sikap: Hindari kata-kata yang menyinggung atau merendahkan profesi dan martabat orang lain.
- Selesaikan Masalah dengan Damai: Jika terjadi perselisihan, jalur hukum dan musyawarah adalah jalan terbaik. Jangan pernah sesekali mencoba main hakim sendiri (eigenrichting).
Kesimpulan: Cikupa yang Aman adalah Tanggung Jawab Bersama
Kehilangan nyawa seorang warga, apa pun profesinya—termasuk seorang pedagang kecil seperti tukang cilok—adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang mencoreng nilai-nilai sosial kita. Pihak Kepolisian melalui Call Center (021) 5960 681 telah membuka layanan 24 jam untuk merespon cepat potensi konflik di masyarakat.
Kini, bola panas ada di tangan kita sebagai warga. Maukah kita menurunkan ego demi keselamatan bersama? Menjaga Cikupa tetap kondusif bukan hanya tugas polisi dengan seragam dan lencananya, melainkan utang moral setiap individu yang hidup dan mencari nafkah di bawah langit Cikupa. Bijaklah dalam bertindak, karena kesombongan sering kali menjadi tiket gratis menuju penyesalan di balik jeruji besi. (Red)
#BinmasPolsekCikupa
#ReskrimPolsekCikupa
#KapolsekCikupa
#Polrestatangerang
Baca Juga :
Kapolresta: Ada 8 Luka Dugaan Sabetan Sajam di Tubuh Tukang Cilok Hasil Identifikasi

Unit Identifikasi Satreskrim Polresta Tangerang dan Unit Reskrim Polsek Cikupa mendampingi pemeriksaan luar terhadap jasad P (sebelumnya disebut R), pria pedagang cilok yang ditemukan tak bernyawa di kontrakan Desa Pasir Gadung, Kecamatan Cikupa, Selasa (2/6/2026).
Pemeriksaan yang dilakukan Tim Forensik RSUD Balaraja itu menemukan 8 luka pad tubuh korban. Diduga luka dengan ukuran bervariasi tersebut disebabkan sabetan senjata tajam (sajam).
Berdasarkan hasil pemeriksaan, korban berusia 33 tahun, asal Bangkalan, Jawa Timur.
“Selain luka diduga akibat sabetan sajam, pada tubuh korban juga ditemukan beberapa memar,” kata Kapolresta Tangerang Kombes Pol Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, Kamis (4/6/2026).
Selain telah melakukan identifikasi, penyidik juga sudah memeriksa beberapa saksi terkait peristiwa tersebut. Saat ini, kata Indra Waspada, petugas terus menggali keterangan saksi maupun mencari bukti-bukti lain.
“Mudah-mudahan dalam waktu dekat kasus ini bisa terungkap,” ujarnya.
Baca Juga:
Berita Lain Terkait Kapolresta: