Beranda / Sorotan / Refleksi Kartini 2026: Mengembalikan Marwah Wanita di Tengah Degradasi Digital

Refleksi Kartini 2026: Mengembalikan Marwah Wanita di Tengah Degradasi Digital

EDITORIAL REDAKSI MEDIA INFOPLUS9.COM

Oleh: Pimpinan Media Infoplus9


TANGERANG-INDOPLUS9.COM-Tepat 147 tahun yang lalu, Raden Ajeng Kartini lahir membawa pelita di tengah pekatnya tembok pingitan dan adat yang membelenggu. Beliau tidak berjuang dengan pedang, melainkan dengan pena dan pemikiran. Di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi kaum perempuan kala itu, Kartini menuliskan kegelisahannya, memimpikan sebuah zaman di mana wanita Indonesia bisa berdiri tegak, terhormat, dan berpendidikan.

​Hari ini, 21 April 2026, kita merayakan warisan tersebut. Namun, saat kita menoleh ke jendela digital dan realitas sosial saat ini, sebuah pertanyaan besar muncul: Masihkah semangat “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu kita maknai dengan benar?Mirisnya Wajah Perempuan di Era Digital​Jejak Kartini telah membawa wanita Indonesia ke posisi yang lebih terhormat secara formalitas. Namun, di era digital ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang memprihatinkan. Platform media sosial kini dipenuhi dengan konten-konten yang justru merendahkan martabat kewanitaan demi sebuah “angka” bernama followers atau likes.​Eksploitasi diri, hilangnya rasa malu, dan pengabaian terhadap nilai-nilai akhlak demi popularitas instan adalah tamparan keras bagi perjuangan Kartini. Pendidikan yang seharusnya menjadi alat pembebasan dan pembentukan karakter, kini seolah mengalami penurunan kualitas. Sekolah dan kampus banyak mencetak orang pintar, namun seakan gagal melahirkan jiwa-jiwa yang berintegritas.​Pemerintah Jangan Sekadar Seremoni​Kritik tajam harus kita tujukan pada peran pemerintah, khususnya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Kita bosan melihat perayaan Hari Kartini yang hanya diisi dengan seremoni kebaya, sanggul, dan lomba-lomba tanpa substansi.​Dibutuhkan langkah konkret yang bersifat edukatif dan preventif. Kita masih melihat pemandangan memilukan di lampu merah: para ibu menggendong bayi di bawah terik matahari untuk meminta-minta, mengamen, atau melakukan pekerjaan kasar yang melampaui batas kodrat demi sesuap nasi. Di mana negara saat perempuan-perempuan ini terhimpit kemiskinan struktural?​Sinergi Lintas Sektor: Ulama, Pemerintah, dan Aktivis​Memperjuangkan hak perempuan bukan hanya tugas satu kementerian. Ini adalah kerja kolaboratif.


  • Pemerintah harus menciptakan kebijakan ekonomi yang pro-perempuan prasejahtera.

  • Ulama dan Tokoh Agama harus aktif mengedukasi masyarakat tentang kemuliaan akhlak perempuan dalam bingkai agama dan moral.

  • Aktivis Perempuan harus kembali ke akar rumput, bukan sekadar berwacana di forum-forum eksklusif.

Pesan Penutup​Perempuan hebat bukanlah mereka yang sekadar memamerkan kemewahan atau kecantikan fisik di layar ponsel. Perempuan hebat adalah mereka yang mampu bangkit dengan cahaya ilmu, menjaga kehormatannya, dan menjadi madrasah pertama bagi generasi bangsa.​Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang hanya karena kamu berhenti selangkah lagi sebelum kemenangan itu tiba. Mari kita kembalikan marwah emansipasi pada jalurnya: emansipasi yang bermutu, beradab, dan berakhlak.​Segenap Keluarga Besar Media Infoplus9 mengucapkan:


Selamat Hari Kartini 21 April 2026


“Selamat Hari Emansipasi Wanita yang Bermutu. Mari Berkarya, Berdaya, dan Tetap Menjaga Marwah.”


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *