Sejarah Nama Pandeglang, Di Masa Sultan Hasanuddin Al Bantani

SEJARAH PANDEGLANG
Konon di Kaki Gunung Karang terdapat sepasang suami istri yang memiliki kesaktian yang luar biasa, Kedua orang tersebut adalah Ki Jagur dan Nyi Amuk, saking saktinya kedua orang ini, sehingga menarik perhatian Sultan Hasanudin yang saat itu menjabat sebagai Sultan Banten untuk meng-Islamkan mereka.
Akhir nya kedua orang tersebut menyingkir dan kabur ke daerah Pantai Carita sekarang” ujarnya.
Tahun berganti tahun, akhirnya kekuasaan Kesultanan Banten pun semakin terjaga.
Saat Banten akan diserang oleh Belanda, tiba-tiba dari arah Barat Kesultanan Banten terdengar dentuman keras yang berbunyi secara terus menerus. Sultan yang saat itu mendengar suara tersebut awalnya mengira Belanda telah memulai serangannya. Tapi berdasarkan keterangan penasehat-penasehatnya, mereka mengatakan bahwa Belanda tidak akan mungkin menyerang Kesultanan Banten dari Pantai Carita, ini terlalu jauh ujarnya.
Akhirnya Sultan Hasanudin & beberapa orang kepercayaannya pergi untuk melihat suara apakah itu. Maka berangkatlah mereka kearah Carita, ketika sampai ditempat itu, rombongan terkaget-kaget karena suara yang menghasilkan suara dentuman yang sangat keras ini, ternyata berasal dari sebuah benda.
Mereka tidak dapat menjelaskan benda apakah itu, Sultan Hasanudin & rombongan lalu membawa kedua benda tersebut.
Ada kisah unik saat Sang Sultan dan rombongan meninggakan tempat itu, diperjalanan mereka sering berhenti ditengah perjalanan untuk istirahat, anehnya saat rombongan istirahat semua pohon durian ( kadu ) yang berada disekitar tempat tersebut tiba-tiba mendadak mati, sekarang daerah tersebut dinamakan Kadu Paeh (paeh=mati). Perjalanan dilanjutkan dan saat rombongan istirahat lagi, kejadian terulang lagi, kali ini pohon tumbang dengan tiba-tiba, tempat tersebut sekarang disebut orang dengan Kadu Bungbang (Bungbang=tumbang).
Akhirnya diketahuilah bahwa sebenarnya kedua barang itu adalah merupakan penjelmaan dari Ki Jagur dan Nyi Amuk. Setelah berkomunikasi secara gaib, ,
maka diketahuilah bahwa Ki Jagur akan rela dibawa ke kesultanan Banten jika Hasanudin memberikan sebuah gelang untuk istrinya Nyi Amuk.
Maka disepakatilah bahwa Sultan akan memberikan gelang tersebut sesaat setelah sampai di Keraton Kesultanan Banten.
Setibanya di Keraton Kesultanan Banten, Sultan Hasanudin menugaskan seorang pandai besi ( Pande ) yang bernama Raden Papak Singa Jaya Gumelar untuk membuat gelang itu.
Raden Papak pun menyanggupi perintah ini,
Ia sanggup melaksanakan tugas yang diberikan Sultan.
Kemudian setelah bahan tersebut dibakar, Raden Papak mencoba untuk mulai memukul-mukulnya, layaknya seorang pande. Bahan yang telah dibakar tersebut diletakan pada sebuah batu, untuk dibentuk menjadi sebuah gelang, karena kekuatan bahan gelang tersebut, batu itu tidak dapat menahannya, oleh karena itu sampai sekarang batu tempat meletakan bahan gelang itu oleh masyarakat disebut dengan Batu Belah.
Raden Papak akhirnya dapat menyelesaikan tugasnya, gelang yang telah ia buat lalu di serahkan kepada Sultan.
Atas jasanya Sultan Hasanudin akhirnya mengangkat Raden Papak sebagai penasehatnya. Dan tempat dimana ia membuat gelang tersebut sekarang dikenal dengan nama “Pandeglang” yang berasal dari dua suku kata “Pande dan Gelang”.
Sekarang Meriam Ki Jagur Berada di Musium Kepurbakalaan “Banten Lama” Kota Serang,
sementara Meriam Nyi Amuk di bawa ke Balai Kota Batavia Oleh Tentara Belanda di masa penjajahan,
Sekarang Meriam Nyi Amuk Berada di Halaman Musium Fatahilah ( Kota Tua ), Jakarta Sekarang .